
gengs maaf ya, aku updatenya ga tentu jam, walaupun punya telat aku usahain up tiap hari ya, walaupun upnya dini hari. aku up dua bab tapi satu babnya panjang banget. Jangan lupa gas komen ya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kevin sampai di rumah, Salsa dengan dengan cepat turun karena dia menghindari Kevin agar Kevin tidak menyentuhnya.
"Apa anak-anak masih di rumah mommy dan daddy?" tanya Salsa ketika dia masuk kedalam rumah.
”Hmm, Dareen yang menjemputnya tadi," jawab Kevin.
"Ah!" Tiba-Tiba, terdengar suara orang yang berteriak membuat Salsa dan juga Kevin terkejut. Keduanya langsung berjalan ke arah tangga. Mata Salsa dan mata Kevin membulat saat melihat pelayan terjatuh dari tangga. Kevin dan Salsa saling tatap, dan dengan cepat, Kevin langsung menghampiri pelayan tersebut. Dan ketika Kevin menolong pelayan itu raut wajah Salsa berubah.
Saat itu, Kevin mungkin sudah mematikan semua CCTV di rumah itu, tapi sayangnya dia tidak menyadari bahwa ada CCTV yang dipasang Salsa tanpa sepengetahuan Kevin, dan CCTV itu tidak berupa CCTV yang seperti biasanya, melainkan sebuah kamera kecil yang ditempelkan di berbagai sudut. Lalu ketika mengetahui Kevin yang mencelakai dirinya, hasrat Salsa untuk membalas dendam begitu menggebu-gebu dan dia memulai dengan pelayan yang membantu Kevin, padahal dulu Salsa menolong keluarga Lisia dan menjadikan Lisia sebagai kepala pelayan di rumahnya. Tapi, sekarang Lisia malah mengkhianatinya
Lisia semakin berteriak dengan keras ketika Kevin membopong tubuh Lisia. Mata Kevin membulat saat melihat ada darah dari yang mengucur dari paha wanita itu, dan seketika Salsa berpura-pura menghampiri dengan wajah panik.
"Kau sedang hamil?" tanya Salsa dengan terkejut hingga Lisia langsung menoleh. Seketika teriakan Lisia semakin menggema ketika mengetahui ada darah yang mengalir, karena faktanya dia juga sedang mengandung. Salsa tidak jahat, inilah yang dinamakan nyawa dibalas dengan nyawa.
"Sayang, panggilkan orang lain agar dia dibawa ke rumah sakit," ucap Kevin hingga Salsa mengangguk.
Beberapa saat berlalu, ada beberapa penjaga kebun yang datang kemudian membawa Lisia ke rumah sakit.
"Kenapa dia bisa terjatuh?" tanya Kevin ketika Lisia sudah dibawa untuk pergi ke rumah sakit.
Salsa tampak berpikir.
"Kenapa kejadiannya sama denganku?" tanya Salsa yang berpura-pura tidak tahu, dan menampilkan ekspresi bingung, membuat wajah Kevin tiba-tiba menegang, tapi dia dengan cepat menormalkan ekspresi wajahnya.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, ayo kita naik ke atas," ucap Kevin hingga Salsa mengangguk dan mereka pun berjalan ke arah lift. Saat berjalan ke arah lift, Kevin merangkul pundak Salsa dan rasanya Salsa ingin memelintir lengan lelaki ini, tapi dia harus berusaha bersabar.
"Oh ya, aku minta kau jangan ke mana-mana, istirahat saja di rumah," kata Kevin lagi hingga Salsa mengangguk dan itu membuat Kevin senang. Rasanya, dia sudah tidak mengkhawatirkan apapun lagi, toh sekarang juga Salsa menurut padanya.
Dan ketika di kamar, Salsa langsung pergi ke kamar mandi kemudian dia langsung melemparkan pakaian yang tadi terkena rangkulan Kevin, dan sungguh saat ini dia ingin membakar bajunya sendiri.
Selesai di kamar mandi, Salsa langsung kembali ke kamar, ternyata Kevin sedang tertidur. Sepertinya, lelaki itu kelelahan hingga ketika Salsa ke kamar mandi, dia langsung mengotak-atik ponsel Kevin, kemudian dia mengirim sebuah pesan pada Davika.
"Sayang bisa kau transferkan aku uang lagi? Aku butuh untuk membangun bisnisku," tulis Salsa dalam pesannya, seolah-olah Kevin yang mengirim pesan.
"Aku di rumah dan ada Salsa, jadi jangan membalas pesanku," tulis Salsa lagi dan tak lama, Davika membalas pesan Kevin.
"Baiklah, tapi dan perusahaan sudah sedikit menipis, jadi mungkin ini yang terakhir kalinya sebelum aku mendapatkan tender lagi," balas Davika membuat Salsa menyeringai dan tak lama, panggilan berbunyi, ternyata Davika yang menelepon. Namun, Salsa dengan cepat mematikan panggilan dari wanita itu.
"Sedang ada Salsa di sampingku, jadi jangan menelepon," balas Salsa.
Salsa dengan mudah memindahkan uang yang Davika kirimkan ke rekeningnya, setelah itu Salsa langsung menghapus pesan yang dia kirimkan pada Davika.
***
Davika mengacak rambut frustrasi ketika dia melihat laporan keuangannya. Tadi setelah Kevin meminta dia mengirimkan uang, tanpa pikir panjang Davika langsung mengirimkan sisa dana yang ada di perusahaan milik ayahnya yang sekarang dikelola olehnya.
Davika berpikir keuangan perusahaannya masih bisa diatasi, tapi ternyata setelah dia mengecek semuanya, perusahaannya benar-benar sedang diambang krisis, apalagi dana yang selalu Davika kirimkan pada Kevin adalah dana yang sudah dipersiapkan sang ayah untuk memajukan perusahaan, bahkan ayahnya mendapatkan dana itu dari donatur.
Sekarang, Davika bingung bagaimana caranya mengembalikan situasi, apalagi sebentar lagi akan ada laporan keuangan yang akan diaudit langsung oleh ayahnya. Jelas bisa habis dia jika memakai dana perusahaan untuk berfoya-foya.
Tak lama, Davika terpikirkan sesuatu. Tunggu, sepertinya dia mempunyai ide menggadaikan beberapa aset yang mencakup perusahaan, dan aset-aset lainnya. Sepertinya, Davika bisa mendapat dana untuk menutup kerugian. Dia akan mencicilnya secara bertahap walaupun dia tahu bunga yang akan dia tanggung lebih besar, tapi sepertinya Davika tidak punya pilihan, dia harus menyelamatkan perusahaannya hingga pada akhirnya Davika mengutak-atik ponselnya kemudian dia langsung menelepon seseorang.
Tak lama, Davika menghela napas setelah melewati menelepon seseorang yang selalu meminjamkan uang dengan jumlah banyak. Dia merasa lega karena orang itu mau meminjamkan uang dengan jaminan aset dan juga perusahaan, hingga sekarang Davika tidak mempunyai ketakutan lagi, semuanya akan berjalan seperti semula.
Awalnya, Davika sempat heran kenapa orang itu memberikan pinjaman dengan mudah, tapi sekarang Davika tidak ingin memikirkan itu, dia hanya harus fokus memimpin perusahaan.
***
Keesokan harinya.
Salsa masuk ke dalam ruang rawat Lisia, pelayan yang membantu Kevin ketika mencelakainya. Saat Salsa masuk, Lisia yang sedang melamun, menoleh. Dia sama sekali tidak takut dengan kedatangan Salsa karena berpikir Salsa akan menjenguknya, bahkan Salsa juga masih tersenyum padanya.
"Maaf, Nona, kenapa Anda repot-repot menjengukku? Kau juga, 'kan, baru pulang dari rumah sakit," ucap Licia tanpa tahu malunya.
"Ah!" Tiba-Tiba, Lisia menjerit ketika Salsa menekan perut wanita itu.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Lisia dengan takut.
"Memangnya apalagi?"
"Ah!" Tiba-Tiba, Lisia berteriak lagi kala Salsa menekan perutnya lebih kencang dari sebelumnya.
"Bagaimana Lisia, apakah enak dicelakai?" tanya Salsa, wajah dingin Salsa membuta Licia bergidik.
Seketika, wajah Lisia memucat mendengar ucapan Salsa. Dia yakin Salsa sudah mengetahui bahwa dia bekerja sama dengan Kevin.
"Lisia, apa kau mau menerima hukumanku atau menerima hukuman dari ibuku? Jika ibuku tahu apa yang kau lakukan, padahal keluargaku sudah menolong keluargamu," ucap Salsa dengan penuh ancaman.
"No-Nona," ucap Lisia dengan terbata.