
Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Sementara Alena masih dilema harus ikut pergi atau tidak.
Tok tok tok ..
"Alena .. Sudah siap, belum? Kita berangkat satu mobil aja, ya .." teriak mamanya dari luar kamar.
Alena sedikit panik, lantaran ia belum juga mengganti pakaian.
"Iya, ma. Tunggu sepuluh menit lagi. Aku masih make up .." sahut Alena.
"Ya sudah, mama tunggu di mobil sama papa, ya. Jangan lama-lama, nanti kita terlambat!"
"Iya, ma .."
Suara mamanya tidak lagi terdengar. Itu artinya mamanya sudah pergi dan menunggu di mobil.
"Ah, sial. Kenapa aku harus terjebak di antara pilihan yang tidak bisa ku pilih salah satunya," gerutu wanita itu seraya mencari gaun di lemarinya.
Biasanya Alena membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk berdandan menghadiri sebuah acara. Kini ia hanya memiliki waktu sepuluh menit saja. Rasanya seperti di kejar kereta.
Sudah sepuluh menit, akan tetapi putrinya belum kunjung keluar rumah.
"Coba mama cek ke kamarnya. Minta dia untuk lebih cepat lagi. Kita bisa terlambat datang," perintah tuan Azel pada istrinya.
"Iya, pa," jawab nyonya Alfi menurut.
Nyonya Alfi pun melepaskan seatbelt yang sudah terpasang di badan. Baru saja akan membuka pintu hendak turun, Alena sudah terlihat keluar rumah dan berjalan menuju mobil.
"Itu Alena, pa." Nyonya Alfi menunjuk ke arah spion dan tuan Azel mengikuti arah telunjuk istrinya.
Tidak lama kemudian, Alena masuk ke dalam mobil di jok belakang kemudia.
"Maaf lama," ucap Alena sebelum mama atau papanya memprotes.
Tanpa sahutan, papanya langsung menghidupkan mesin mobil. Melaju melewati pintu gerbang yang sudah di bukakan oleh security sejak sepuluh menit lalu.
Di dalam perjalanan, dari kaca spion nyonya Alfi melihat kegelisahan di wajah putrinya. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan putrinya baik-baik saja.
"Apa yang kau khawatirkan?" tanya wanita paruh baya itu menarik paksa Alena dari segala pemikirannya.
"Jangan pikirkan apapun. Tidak apa, semua akan baik-baik saja," ucap mamanya kemudian seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh dirinya.
Alena hanya menanggapi dengan senyum kecil. Jujur, pesan singkat yang dapatkan tadi sore sangat mengganggu pikirannya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mobil mereka sampai di sebuah restoran mewah. Tempat dimana keluarga Xiazella akan makan malam. Sebelumnya tuan Azel sudah membooking meja dengan sembilan belas kursi.
Alena turun dari mobil dengan perasaan kurang begitu percaya diri. Lantaran make up nya tidak sempurna. Tapi ia masih kelihatan cantik, bahkan lebih cantik natural.
"Ayo, sayang," ajak mamanya.
"Iya, ma." Alena pun turun dari mobil meraih tangan mamanya, ia berharap jika Glen belum datang. Jika perlu tidak usah datang.
"Itu meja yang sudah papa booking." Tuan Azel menunjuk meja panjang sejauh lima meter dari tempat mereka berdiri saat ini.
Sudah terdapat beberapa orang di sana. Alena melihat satu persatu keluarganya yang sudah datang. Memastikan jika tidak ada Glen di sana.
"Ayo, mereka sudah datang," ajak mamanya lagi menyadarkan dirinya.
Alena pun melangkah menuju meja tersebut usai memastikan jika tidak ada Glen di antara mereka. Sepupunya pun tidak terlihat ada di sana. Itu artinya masih aman.
"Selamat malam semuanya," sapa nyonya Alfi semua yang sudah berkumpul di sana.
"Selamat malam, nyonya Alfi, tuan Azel, Alena .." balas mereka yang juga menjadi bagian dari keluarga Xiazella karena menikah dengan salah satu putra dan putri Xiazella.
"Maaf terlambat, padahal kami sendiri yang mengundang kalian semua," ucap tuan Azel.
"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih sudah di undang di acara makan malam ini. Semoga almarhum papa Xiaz dan mama Ellanor senang melihat kita rukun seperti ini."
"Iya, aamiin .."
Tuan Azel, nyonya Alfi dan Alena pun duduk di kursi yang masih kosong. Tuan Azel sendiri merupakan putra pertama Xiazella dari empat bersaudara.
Tiba-tiba saja pandangan Alena berhenti pada wanita yang duduk di kursi paling kiri. Wanita itu merupakan ibu dari sepupunya yang hamil oleh Glen. Wanita itu melemparkan tatapan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Seolah dia merasa puas lantaran putrinya berhasil menikahi kekasihnya. Wanita itu bernama Wika, istri adik papanya dan jadilah bagian dari keluarga Xiazella.
_Bersambung_