OH MY DUDA

OH MY DUDA
Unboxing



WARNING!!


Dibaca setelah buka puasa, ya ..


"Aahh .. Mmhh .."


Alena menggigit bibir bawahnya seraya menahan perasaan geli yang mengumpul di perut dan menjalar di sekujur tubuhnya, ini reaksi ketika Haxel mengemmutt serta memberi gigitan kecil di boba kembarnya.


Haxel mendongakan wajahnya. Melihat ekspresi Alena yang tampak lucu dan tentunya menggoda. Kedua mata wanita itu terpejam seraya menggigit bibir.


"Ini tidak terlalu buruk bukan?"


Pertanyaan Haxel membuat Alena membuka mantanya. Wanita itu mengangguk.


"Iya. Kenapa berhenti?"


"Hm?"


Usai mempertanyakan hal barusan Alena merasa sangat boddoh. Mungkin karena dia sudah merasakan betapa nikmatnya.


"M-maksudku-"


Belum sempat Alena melanjutkan kalimatnya, ia di buat terkejut oleh hal lain. Haxel meraih tangannya dan meletakkannya di bagian intim pria itu.


Alena merasakan sesuatu yang mengeras di balik celana suaminya. Lantaran ia gugup, ia segera mengangkat tangannya dari area itu.


"Kenapa?"


Alena menggeleng. "Ti-tidak."


Haxel mengambil tangan Alena lagi lalu meletakkannya ke area intimnya lagi.


"Anggap saja ini mainan. Kau bisa memainkannya sesuka hatimu."


Alena benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Haxel melanjutkan kembali ciumannya, namun kali ini lebih panas dan ganas. Tangannya bahkan kini sudah menyusup ke balik cellana dallam Alena guna memberikan rangsaangan. Dan ternyata Alena sudah terangsang sejak tadi. Ia merasakan area milik wanita itu basah.


"Mmhhh .. Mmhhh .."


Tanpa berlama-lama lagi, Axel kini melucuti semua pakaian Alena tanpa menyisakan sehelai benang sekalipun. Wanita itu menutupi bagian atas dan bawanya menggunakan tangan. Sembari melihat suaminya yang sedang membuka cenalanya sendiri.


Sedetik kemudian, iris mata Alena melebar dua kali lipat dari biasanya.


Oh my god, apa itu belalai gajah? Kenapa itu besar dan panjang sekali? Batin Alena.


Mata Haxel kini sudah di penuhi oleh kabut hasrat yang mengharapkan sentuhan akan pemenuhan. Ia mulai mengangkat kaki Alena dan segera menancapkan pedang itu ke dalam lubang gua milik istrinya. Menerobos perlahan sampai blesss.


"Aarghh .." Setetes air mata keluar dari mata Alena, ia merasakan sakit yang sangat luar biasa, sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Setelah itu, Haxel mulai menggerakan benda intimnya dengan gerakan maju mundur. Ia memulainya dengan perlahan hingga gerakan yang semakin menggila.


"Aaaaaa .." Alena merremas sprei menahan sakit yang terus mendera secara bertubi-tubi. Ini merupakan pengalaman pertama baginya bersama pria yang sudah berpengalaman sebelumnya.


Gerakan kini melambat dan Alena merasakan sesuatu yang hangat di dalam rahimnya. Haxel menjatuhkan tubuhnya di sisi kosong sebelah istrinya. Peluh keringat bercucuran di pelipis bahkan hampir seluruh tubuh pria itu.


Alena merasakan sakit bercampur perih di bagian intimnya. Ia terkejut begitu melihat ada darah di sana. Ia sontak duduk seraya menutup mulut.


"Kenapa, sayang?" tanya Haxel khawatir.


Alena menunjuh darah tersebut.


"Jangan khawatir apalagi panik. Itu darah yang membuktikan jika kau masih virgin. Terima kasih sudah mau menjadi istriku, Alena Mecca Xiazella. Aku mencintaimu."


Alena menghela napas lega. Ia pikir itu darah apa. Ia tatap wajah suaminya usai mendengar kalimat akhir nya.


"Aku juga mencintaimu, Haxel Gilbert Atarna," balas Alena.


Haxel lekas memeluk tubuh wanita itu dan memberi kecupan singkat di puncak kepala.


Bagi Alena, menjadi istri seorang pria yang sudah pernah menikah sebelumnya bukanlah suatu masalah. Ia justru senang karena Haxel mencintainya dengan cukup hebat dan tentunya berbeda dengan pria lajang pada umumnya. Haxel memberinya bukti cintanya melalui tindakan, bukan hanya sekedar omong kosong. Dan ia beruntung bisa menikah dengan pria itu.


Dan bagi Haxel, ia jauh lebih beruntung karena memiliki istri yang tidak mempermasalahkan statusnya. Ia berjanji menjadikan Alena istri yang terakhir, apapun yang terjadi kedepannya.


_Bersambung_