OH MY DUDA

OH MY DUDA
Pizza



Jam makan siang sudah tiba. Akan tetapi Alena memilih untuk diam di kubikel. Menjadikan kedua tangan sebagai bantalan di atas meja. Ia tidak ada selera makan. Dan ia juga tidak akan menemui tuan Haxel di restoran. Ia tidak ingin hal ini justru akan menambah masalah. Dan sudah cukup baginya jatuh ke dalam satu jurang masalah, jangan sampai ia jatuh ke dalam jurang masalah lain.


Ting ..


Suara notifikasi membuat kedua mata wanita itu terbuka. Dia mengangkat kepalanya dan memijat pangkal alisnya yang terasa penat. Barulah mengambil ponsel yang ia letakan di samping komputer.


Tuan Haxel:


Kau dimana? Aku menunggumu.


Sebuah pesan dari nomer asing yang sudah Alena beri nama di kontaknya. Ia mulai mengetikan balasan.


Alena:


Maaf, tuan. Sepertinya aku tidak bisa ke sana. Aku sedang tidak selera makan.


Tidak berapa lama, ia mendapat balasan chat lagi.


Tuan Haxel:


Jangan melewatkan makan siang mu, nanti kau bisa sakit.


Alena hanya bisa menghela napas membaca balasan chat tersebut. Mood nya sedang buruk dan ia tidak ingin di ganggu. Ia meletakkan kembali ponselnya di samping komputer. Melipat kedua tangan dan di jadikan sebagai bantalan kepala.


Sementara di tempat lain. Seorang pria merasa khawatir lantaran chat nya tidak lagi di balas. Ia mulai berspekulasi sendiri.


"Apa Alena marah padaku karena aku tadi menegurnya?" gumamnya.


Haxel berdecak. "Seharusnya aku tidak menegurnya tadi. Karena aku tidak tahu permasalahan apa yang sedang dia hadapi. Bagaimana jika dia merasa tambah buruk?"


Pria itu mengusap wajahnya sedikit kasar. Ia menyesal sudah menegur Alena tadi lagi. Ia jadi merasa bersalah karena buktinya sekarang wanita itu tidak hanya kehilangan konsentrasi bekerjanya, tapi juga kehilangan selera makan.


Haxel mencari cara supaya mood Alena membaik. Sebagai bentuk permintaan maaf karena ia sudah membuat kesalahan.


Di kubikelnya Alena mengetuk-ngetuk jari ke meja. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tidak ada sesuatu yang bisa menghiburnya. Catherine tidak ada dan ia malas untuk buka akun media sosial. Waktu berputar terasa lambat, biasanya waktu makan siang terasa begitu singkat, tapi berbeda dengan kali ini. Empat puluh lima menit terasa sangat lama. Dan baru dua puluh lima menit berlalu, tersisa waktu setengahnya lagi.


"Ahhh .. Membosankan sekali .." ujarnya.


"Permisi .." ucap seseorang hampir membuat Alena jantungan karena kedatangannya yang tiba-tiba.


Begitu di lihat, seseorang dengan jaket khas driver pengantar makanan berdiri di depan kubikelnya.


"Iya, mas. Ada apa?" sahut Alena.


"Apa nona yang bernama Alena Xiazella?"


Alena mengangguk. "Iya, mas."


Seseorang itu lekas memberikan kantong plastik bening berisi kotak besar di dalamnya.


"Pesanan? Pesanan apa?" tanya Alena terkejut, ia tidak merasa memesan apapun.


"Ini makanan pesanan nona. Nona Alena Xiazella bukan?"


"Iya, aku Alena Xiazella. Tapi aku tidak merasa pesan makanan apapun. Mungkin mas salah orang."


"Tunggu sebentar, nona. Nona boleh pegang dulu makanannya?"


Alena pun memegangi makanan tersebut. Sementara orang itu mengambil ponselnya di saku jaket oren yang di kenalan. Lalu memperlihatkan layar ponselnya.


"Ini foto nona kan?"


Alena tercengang melihat foto profil pemesan makanan itu wajah dirinya.


"Iya, mas. Ini foto aku. Tapi aku benar-benar tidak merasa pesan makanan apapun. Mas bawa saja makanannya, aku tidak mau terima karena aku tidak memesannya," tolak Alena kukuh.


"Ini kan sudah nona bayar. Tugas saya hanya mengantarkan pesanan. Dan sekarang pesanan sudah di tangan customer. Kalau begitu saya permisi, ada orderan lain masuk."


"Mas .. Aku tidak memesan apapun. Mas .."


Orang itu melipir pergi tanpa bisa di hentikan. Dan makanan tadi masih di tangan Alena. Wanita menatap makanan tersebut di tangannya.


"Siapa yang melakukan ini?" pikirnya.


Alena duduk kembali. Meletakkan kantong plastik berisi makanan tersebut di atas meja. Jika ada Catherine, mungkin makanan tersebut sudah di rebut karena ia tidak mengakui jika itu pesanannya padahal sudah di bayar.


Alena membuka kantong plastik tersebut yang berisi kotak pizza. Dan begitu di buka, pizza mozzarella yang masih meleleh membangunkan selera makannya.


"Pizza mozarella?"


Tanpa pikir panjang lagi, Alena mengambil sepotong pizza yang masih meleleh dan menggigitnya. Rasanya sangat enak. Ia mengambil potongan berikutnya ketika potongan pertama sudah habis.


Delapan potong pizza kini tersisa tiga potong lagi. Ia menghabiskan lima potong pizza sekaligus dan itu sudah membuatnya merasa kenyang.


"Ahh ini enak sekali .."


Alena ingin menghabiskan tiga potong itu, hanya saja perutnya sudah tidak muat. Lagipula berlebihan itu tidaklah baik.


Setelah menghabiskan lima potong pizza, ia merasa haus. Tapi ia tidak punya minum. Terpaksa ia harus menahan haus sampai pulang nanti.


Dan tiba-tiba ia kembali kepikiran siapa orang yang memesan pizza tersebut? Mengapa harus mengatasnamakan dirinya dan menggunakan fotonya? Sebuah pertanyaan besar kini memenuhi seisi kepalanya. Ia harus menemukan orang itu dan berterima kasih tentunya.


Seorang pria berdiri di kejauhan dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ia senang melihat wanita yang duduk di kebikel sana memakan pizza yang ia belikan dengan lahap. Sebelum wanita itu menyadari keberadaannya, ia harus segera pergi agar tidak ketahuan.


_Bersambung_