
Di tempat kediaman kediaman tuan Azel. Mereka tengah makan malam bersama. Dan di tengah-tengah makan, tiba-tiba nyonya Alfi membahas tentang pria yang datang kemarin malam.
"Jadi pria yang berusaha ingin menemui itu siapa, Alena?" tanya wanita paruh baya itu penasaran.
"Hm?" Alena mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan itu dari sang mama. "Yang mana, ma?"
"Security bilang ada pria yang datang ke rumah kita saat acara makan keluarga. Dia menunggu sampai kita pulang untuk bertemu denganmu."
Alena menelan makanannya, mengambil segelas air putih lalu meminumnya sedikit. Sebelum kemudian menjawab pertanyaan sang mama.
"Itu tuan Haxel, ma," jawab Alena menciptakan kerutan di kening mamanya.
"Tuan Haxel?"
Alena mengangguk. "Iya, dia pemimpin perusahaan di tempatku bekerja."
Nyonya Alfi dan menoleh ke arah suaminya yang memilih fokus makan saja.
"Apa itu artinya kau menjalin hubungan dengannya?"
Alena menggeleng. "Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya selain sebatas pemimpin dan karyawannya. Hanya saja dia datang ke sini untuk mengembalikan cincin pemberian oma yang jatuh di ruangannya," jelas Alena.
"Yakin hanya itu?"
"Iya, ma. Tidak lebih dari itu."
Nyonya Alfi merasa ada yang aneh. Seorang pemimpin datang ke rumah karyawannya dan menunggu selama berjam-jam hanya untuk mengembalikan barang milik karyawannya. Tapi ya sudahlah, ia tidak ingin ambil pusing. Justru bagus juga jika itu bisa membuat Alena lebih cepat melupakan Glen, membuang rasa untuk pria brengsekk itu.
Setelah selesai makan, Alena bergegas kembali ke kamar. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan berbaring di atas tempat tidur. Seperti biasanya, ia akan membuka media sosial sebentar sebelum tidur. Sebagai pelepas penat setelah menjalani aktivitas seharian.
Perubahan ekspresi di wajah wanita itu cukup jelas terlihat begitu melihat foto yang pertama kali muncul di halaman beranda. Foto tersebut merupakan Olive dengan Glen yang sedang berciuman mesra di atas tempat tidur. Mereka mengabadikan momen tersebut dan mengunggahnya ke publik.
Alena sudah memblokir akun media sosial Glen tapi ia lupa jika ia masih saling follow dengan Olive, karena sebelum masalah ini mereka baik-baik saja layaknya keluarga seperti yang lainnya. Tapi sepertinya, mulai detik ini ia akan meng un-follow Olive guna menghindari lukanya yang belum sembuh.
Ia meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Niat ingin mencari hiburan untuk mengembalikan mood, justru berakhir badmood.
Suara notifikasi pesan masuk. Alena kembali mengambil ponselnya dan mendapat chat singkat dari nomer asing yang mengirimkan pesan beberapa hari lalu.
08xx:
Selamat malam, Alena.
Seketika Alena teringat percakapannya dengan Haxel di malam pria itu mengembalikan cincinnya. Dan bukan Glen yang mengirimi pesan waktu itu, melainkan Haxel. Itu artinya, chat tersebut pun dari pria itu. Alena belum sempat save nomernya saking jarangnya pegang ponsel.
Alena mengetikkan balasan.
Alena:
Iya, malam. Ada apa, tuan?
Tidak berapa lama, Alena mendapat balasan chat berikutnya.
08xx:
Terima kasih sudah membalas chatku. Selamat beristirahat. Jangan lupa besok kerja seperti biasanya.
Mulut wanita itu sedikit menganga membaca balasan chatnya.
"Ada apa dengannya? Apa dia lagi gabut?"
Alena tidak habis pikir, kenapa pria itu tidak jelas sekali.
Apa mungkin dia memang salah minum obat? Obat serbuk yang seharusnya di larutkan ke dalam air, justru dia telan mentah-mentah.
Alena meletakan ponselnya lagi. Ia pikir ada hal penting yang ingin pria itu sampaikan padanya.
Seketika Alena teringat akan Catherine. Apa sahabatnya itu baik-baik saja sekarang. Ia berniat untuk menelepon, tapi urung ketika melihat jam sudah hampir menunjukan jam sembilan malam. Ia takut menganggu waktu istirahatnya, apalagi mengingat kondisinya yang kurang baik. Ia pun memutuskan untuk tidur, berharap esok mendapat kebahagiaan yang tak terduga.
_Bersambung_