
Haxel merasa sedikit kecewa dengan keputusan tersebut. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menerima keputusannya. Dan jujur ia masih berharap mereka berubah pikiran untuk itu.
"Baik kalau begitu, aku pamit pulang."
"Kau masih bisa datang ke sini untuk sekedar silaturahmi. Dan kalau ada waktu, kami juga akan main ke rumahmu untuk bertemu dengan tuan Atarna."
"Iya, om. Tante, Alena, aku pulang," pamitnya lagi hendak beranjak dari tempat duduk.
"Iya, hati-hati, nak Haxel."
"Iya, tante."
"Aku antar sampai depan," ujar Alena dan di angguki oleh pria itu.
Keduanya beranjak dari sana. Sampai di depan rumah, Haxel tidak langsung pergi. Mereka berdiri berhadapan. Tanpa aba-aba, Haxel memeluk tubuh Alena. Dan anehnya, tubuh Alena tidak lagi menolak pelukannya.
Tanpa ragu, tangan Alena mulai bergerak untuk membalas pelukan Haxel. Dan tanpa wanita itu sadari, cinta telah tumbuh di hatinya.
Entah kenapa, memeluk Alena terasa menenangkan. Begitupula yang di rasakan oleh Alena. Wanita itu merasa nyaman.
Setelah cukup lama saling memeluk, keduanya pun melepaskan pelukannya. Haxel memegangi kedua lengan Alena dan pandangan mata mereka saling bertemu.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Haxel kemudian, memastikannya sekali lagi untuk yang terakhir kali.
Alena diam. Ia pun masih bingung apa ia sudah mengambil keputusan yang tepat. Ia sejujurnya masih belum siap menjadi seorang pemimpin untuk menggantikan posisi papanya. Tapi jika ia tetap kerja di perusahaan pria di hadapannya, maka ia akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di kantor.
Alena kemudian menganggukan kepalanya. Mungkin sudah tidak ada harapan lagi bagi Haxel untuk menahan wanita itu.
Haxel terdengar menghela napas berat.
"Jika itu keputusanmu, aku hargai. Tapi jika kau berubah pikiran, jangan sungkan untuk bicara denganku."
Alena mengangguk lagi. "Iya, tuan. Terima kasih sudah menerima aku bekerja di perusahaanmu, juga memberikan kesempatan kedua padaku pada saat itu."
"Aku bahkan akan memberi kesempatan ke sepuluh jika kau menginginkannya."
"Karena aku tidak butuh orang lain, aku hanya menginginkan dirimu."
Haxel menarik tengkuk Alena dan memberi sebuah kecupan singkat di bibir wanita itu.
Cup!
Sekujur tubuh Alena menegang, napasnya tertahan dan matanya membulat sempurna.
"T-tuan .." Alena cukup kaget dengan apa yang baru saja pria itu lakukan terhadapnya.
Haxel mengulas senyum tipis. "Anggap saja ini hadiah atas perpisahan di antara kita. Aku tidak tahu apa setelah ini kita masih bisa bertemu dan meluangkan waktu untuk sekedar makan siang bersama? Aku rasa kau akan sibuk nantinya."
Tubuh Alena masih belum bisa menerima secara penuh apa yang terjadi barusan. Ia merasa jika ini hanya mimpi, namun mimpi yang nyata.
"Aku pergi, ya," pamit Haxel di saat Alena masih mencerna dan memastikan jika apa yang terjadi barusan hanyalah mimpi.
Haxel pun pergi menuju mobilnya. Melambaikan tangan sebelum kemudian masuk ke dalam mobil. Alena masih mematung di tempat. Melihat pria itu mulai menghidupkan mesin mobil.
Tid ..
Haxel menekan klakson, untuk berpamitan sekali lagi. Security rumah pun dengan cepat lari munju gerbang. Begitu pintu gerbang di buka, sebuah mobil tiba-tiba saja masuk menghalangi mobil Haxel yang hendak keluar.
Awalnya Haxel tidak begitu perduli dengan mobil tersebut. Namun, begitu ia hendak melajukan mobilnya untuk melewati pintu gerbang, ia melihat seorang pria turun dari mobil itu dari kaca spion. Iris matanya sontak membulat sempurna.
"Tuan Glen?"
_Bersambung_
NOTE:
Yang belum beli baju lebaran, hayuuu belanja di toko aku di toktok shop yaaa .. Jangan lupa Checkout keranjang kuning❣️