OH MY DUDA

OH MY DUDA
Keputusan Alena



Di tempat kediaman Azel Xiazella. Haxel menceritakan apa yang terjadi di kantor mengenai keributan antara Alena dengan karyawan wanita yang ia pecat. Alena pun menceritakan bagaimana pertama kali itu bisa terjadi.


"Aku tahu aku salah karena sudah menampar dia duluan. Itu juga karena dia terus saja melempar tuduhan tidak benar yang bisa membuat asumsi para karyawan lain terhadap aku dengan tuan Haxel," ucap Alena merasa bersalah.


"Terkadang sedikit kekerasan itu juga perlu untuk membela diri, Alena. Jadi, itu tidaklah masalah bagiku," sahut Haxel.


"Jika setelah ini aku masih bekerja di perusahaanmu, maka mereka pasti akan mengklaim dan membenarkan apa yang sudah wanita itu tuduhkan kepadaku."


Haxel terdengar menghela napas kecil. Di kantor memang ada aturan dan sanksi untuk orang yang membuat keributan.


"Aku akan memikirkan solusinya, agar kau tetap bisa bekerja di perusahaanku, Alena."


Alena tidak mengatakan apapun lagi. Jujur saja ia paling tidak suka menjadi buah bibir dan menjadi pembahasan utama di mulut orang lain.


"Sayang .. Mungkin ini sudah saatnya kau mulai menggantikan papa. Bagaimana, apa kau sudah siap?" tanya tuan Azel.


Alena paling malas jika membahas soal jabatan. Tapi untuk kali ini, tidak ada salahnya juga ia untuk mencobanya.


"Jika di tanya aku siap atau belum, maka jawabannya belum, pa. Tapi, aku akan mencobanya."


Jawaban Alena menciptakan binar bahagia di wajah tuan Azel dan nyonya Alfi. Ini adalah jawaban yang mereka tunggu selama beberapa tahun. Akhirnya putri semata wayangnya tertarik untuk menjadi pemimpin dan menggantikannya di kantor.


"Iya, papa akan membimbing sampai kau benar-benar siap dan menjadi seorang pemimpin perusahaan yang hebat, nak."


"Iya, pa."


Semburat kebahagian terpancar di wajah tuan Azel dan istrinya. Berbeda halnya dengan Haxel yang merasa sedih dengan keputusan Alena.


Pertanyaan Haxel seketika menarik perhatian semuanya.


"Aku tidak tahu. Karena rasanya aneh jika aku masih di beri kesempatan untuk bekerja di sana. Jujur, ini juga keputusan yang berat untukku, tuan. Aku tidak hanya akan meninggalkan perusahaanmu, aku juga akan meninggalkan sahabatku di sana."


"Aku akan memikirkannya lagi, Alena. Aku tidak ingin kau keluar begitu saja dari kantor. Om, tante, bagaimana dengan Alena di luar sendiri tanpa pengamanan? Setelah apa yang terjadi beberapa hari ini padanya."


Haxel berusaha menahan Alena agar tidak memutuskan secara sepihak. Sebab ia masih ingin wanita itu bekerja di kantornya. Bukan apa-apa, ia belum siap untuk kehilangan wanita itu. Mungkin ia memang sudah menaruh hati terhadap Alena. Hanya saja, ia masih belum bisa mengartikan secara penuh apa yang ia rasakan saat ini.


"Sebelumnya terima kasih banyak sudah menjalankan amanah dari kami, Haxel. Tapi mungkin ini sudah saatnya Alena mencoba bekerja di perusahaan keluarga agar Alena bisa menjadi pemimpin dan pewaris di saat saya sudah tiada. Dan saya akan menjadi seorang bodyguard nanti jika itu memang benar-benar di perlukan," ucap tuan Azel.


Haxel merasa sedikit kecewa dengan keputusan tersebut. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menerima keputusannya. Dan jujur ia masih berharap mereka berubah pikiran untuk itu.


"Baik kalau begitu, aku pamit pulang."


"Kau masih bisa datang ke sini untuk sekedar silaturahmi. Dan kalau ada waktu, kami juga akan main ke rumahmu untuk bertemu dengan tuan Atarna."


"Iya, om. Tante, Alena, aku pulang," pamitnya lagi hendak beranjak dari tempat duduk.


"Iya, hati-hati, nak Haxel."


"Iya, tante."


"Aku antar sampai depan," ujar Alena dan di angguki oleh pria itu.


_Bersambung_