OH MY DUDA

OH MY DUDA
Kesempatan Kedua



Alena bisa saja bekerja di kantor papanya agar ia bebas melakukan apapun. Termasuk pulang meski belum waktunya. Hanya saja ia tidak seperti itu. Ia tidak ingin di cap buruk oleh pemikiran jahat orang lain.


"Besok harus lanjut ceritanya. Atau nanti kita bisa ngobrol melalui video call," pinta Catherine sedikit memaksa.


"Ceritanya sudah berakhir. Kau harus janji untuk tidak membocorkan masalah ini pada siapapun. Aku tidak mau jadi buah bibir para karyawan lain. Nanti mereka semua mengira jika aku ada hubungan khusus dengan tuan Haxel."


"Kau tenang saja. Aku bisa jaga rahasia."


Keduanya berhenti tepat di samping body mobil berwarna lilac.


"Mau pulang bareng?" tawar Alena namun di tolak oleh Catherine.


"Sepertinya hari ini kita berlawanan arah. Kebetulan setelah ini aku harus ke rumah tante. Ada acara keluarga, putrinya bertunangan."


"Oh begitu. Ya sudah, semoga kau cepat menyusul."


Catherine hanya tersenyum kecil, kemudian pamit pergi lantaran taksi ojek online yang dia pesan sudah sampai.


Alena melambaikan tangan pada Catherine seiring wanita itu pergi bersama sangat driver ojek online. Ia menghembuskan napas kecil setelah Catherine pergi dan membuka pintu mobilnya untuk pulang.


Tangannya seketika terhenti, urung membuka pintu mobil begitu melihat tuan Haxel berjalan ke arahnya.


"Ini mobilmu?" tanya pria itu ketika sudah sampai di hadapan Alena.


"Iya," jawab Alena singkat.


"Memangnya tidak ada orang yang curiga padamu? Seorang karyawan biasa tapi membawa mobil mewah."


"Sejauh ini tidak ada, tuan. Hanya kau yang mencurigaiku seolah-olah kau detektifnya."


Haxel mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk senyum tipis.


Alena diam. Ia sudah terlanjur menceritakannya pada Catherine akibat kecerobohannya. Tapi ia berharap jika Catherine benar-benar memegang janjinya untuk tidak membocorkan apa yang ia alami tadi pada orang lain.


Alena mengangguk setuju.


"Besok kau masih bisa masuk kerja seperti biasanya," ujar pria itu kemudian.


"Sungguh?"


"Ya. Kenapa? Seharusnya kau senang aku tidak memecatmu."


"Bukan begitu. Bukankah konsekuensi melanggar aturan kantor tidak bisa di ganggu gugat dan siapapun yang melanggar maka harus siap menerima konsekuensi tanpa terkecuali."


"Kecuali kau. Aku memberi kesempatan kedua. Maka jangan sia-siakan kesempatan yang aku berikan."


Pria itu hendak pergi, namun langkahnya terhenti usai Alena mengatakan sesuatu.


"Jika kau ingin memecatmu pun aku tidak keberatan, tuan. Aku siap menerima konsekuensinya. Karena ini kesalahanku."


Alena menunggu jawaban pria yang saat ini berdiri membelakanginya.


"Karyawan sepertimu pantas untuk di pertahankan," ucap pria itu kemudian pergi dari hadapan Alena.


Alena terdiam sejenak. Selama ia bekerja di perusahaan tersebut ia memang menemukan karyawan yang melanggar peraturan perusahaan.


"Mungkin peraturan itu di buat hanya untuk menakut-nakuti karyawan agar disiplin. Jadi ketika ada seseorang yang melanggar, maka konsekuensi itu tidak benar-benar terjadi. Dan perusahaan akan memberi kesempatan kedua sepertiku," pikir wanita itu.


Melihat karyawan lain sudah membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Alena bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ia bisa kemalaman jika terus berdiri di sana. Mobil pun melesat pergi dari sana.


_Bersambung_