OH MY DUDA

OH MY DUDA
Nomer Asing



Alena melihat mobil papanya sudah terparkir di halaman rumah. Itu artinya papanya sudah pulang.


Tanpa pikir panjang lagi Alena masuk ke dalam rumah. Ia mendapati papa dan mamanya tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah pulang, sayang?" sapa mamanya.


"Iya, ma," sahut Alena.


"Duduk sini, ada yang ingin kami bicarakan denganmu."


Nyonya Alfi menepuk sofa panjang di sebelahnya, meminta sang anak untuk ikut duduk bersama mereka. Alena melirik ke arah papanya, pria paruh baya itu mengangguk sekali.


Alena pun duduk di sebelah mamanya.


"Ada apa ma, pa?" tanya Alena dengan perasaan sudah tidak enak.


"Alena, papa ingin menawarkan sekali lagi padamu. Apa kau yakin tidak mau bekerja di perusahaan papa saja?"


Alena mengangguk. "Iya, pa. Jawabanku masih sama seperti yang kemarin."


Pria paruh baya itu menghela napas. Kenapa putrinya keras kepala sekali. Padahal ia ingin Alena menjadi pewaris di keluarga ini.


"Apa yang membuatmu ingin tetap bekerja di perusahaan orang lain selain tidak ingin di cap sebagai penikmat harta orang tua? Padahal menjadi karyawan biasa itu tidak enak, Alena. Banyak peraturan perusahaan yang harus di patuhi."


"Lebih tidak enak lagi kerja jalur orang dalam, pa," jawab Alena. "Aku sadar tidak sepintar itu. Aku tidak mau memiliki jabatan tinggi sementara aku tidak punya skill. Aku bisa saja kerja di perusahaan papa dan menggantikan papa di sana, tapi aku tidak seperti itu, pa. Aku mau belajar dari nol dulu sampai aku pantas menjadi seorang pemimpin bagi bawahan aku."


Mendengar jawaban putrinya, tuan Azel pun bergeming. "Jika itu memang keinginanmu, baiklah. Papa tidak akan memaksa lagi. Tapi suatu hari kau harus menggantikan papa."


"Iya."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang bersih-bersih, ganti baju, istirahat. Nanti malam kita ada acara makan malam bersama keluarga Xiazella. Sebagai bentuk penghormatan kepergian opa Xiaz yang ke dua tahun. Meskipun opa Xiaz dan oma Ellanor sudah tidak ada, kita sebagai anak cucu nya tetap harus rukun dan damai."


"Iya, ma. Kalau begitu aku ke kamar dulu."


"Iya, sayang."


Alena beranjak pergi meniti anak tangga untuk sampai di kamarnya yang berada di lantai dua. Sampai di kamar ia baru sadar jika nanti ia tentu akan bertemu dengan Glen karena sepupunya pun pasti datang lantaran bagian dari keluarga Xiazella.


"Apa aku perlu datang ke acara itu?"


Alena dilema. Jika ia tidak datang hanya karena urusan pribadinya, maka ia di sebut sebagai wanita egois. Karena bagaimanapun keluarga adalah nomer satu.


"Aku berharap dia tidak ikut," ucapnya penuh harap, mengingat pembicaraan tuan Haxel dengan sekretarisnya yang mengatakan jika meeting itu jauh lebih penting bagi Glen di banding dengan pernikahannya.


Alena harap jika Glen tidak datang. Berharap jika isi pembahasan meeting itu benar-benar penting sehingga dia lebih memilih untuk urusan pekerjaan di banding acara keluarga.


Ting ..


Suara notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian Alena. Dengan malas-malasan ia mengambil ponsel di dalam tas kecilnya. Ia pikir itu chat dari Catherine yang ingin membahas tentang kejadian dirinya bersama tuan Haxel tadi di kantor.


08xx:


Sampai jumpa nanti malam.


Kedua mata Alena terbelalak mendapati pesan dari nomer asing. Kira-kira, siapa orang yang mengirimkan pesan tersebut?


_Bersambung_