
Alena berjalan ke kubikelnya dengan tatapan kosong. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan oleh pria itu terhadapnya.
Semua orang melihat ke arahnya begitu ia sampai di kubikel. Sontak Alena melihat jam di layar ponselnya. Sudah menunjukan jam delapan lebih sepuluh menit.
"Aku tidak terlambat, aku datang tepat waktu tapi tadi aku ke toilet sebentar," ujar wanita itu guna mematahkan pemikiran semua orang terhadapnya saat ini.
Mereka pun kembali fokus pada layar komputer tanpa ada berani yang menyaut. Alena menghela napas lega, kemudian duduk di kursinya.
Hari ini Catherine belum juga masuk kerja, kemungkinan besok. Ia sudah rindu kehadiran Catherine, padahal kemarin ia juga sudah bertemu ketika menjenguk.
Alih-alih memulai bekerja, ia menyentuh bagian yang di sentuh oleh tuan Haxel tadi. Pria itu mengatakan jika lipstiknya berantakan.
"Apa iya lipstik ku berantakan?" pikirnya.
Alena mengeceknya melalui kamera hp dan ia lipstik nya sama sekali tidak berantakan sekarang. Mungkin memang karena sudah di lap oleh pria itu. Dan yang membuatnya merasa boddoh, kenapa juga ia harus mengatakan jika hari ini tidak mandi. Beruntung ia tidak lupa menyemprotkan parfum di pakaiannya.
Ia melihat ke sekitar, semua orang sudah sibuk dengan layar komputer masing-masing. Tak ingin ada kecurigaan lagi di antara mereka terhadapnya, ia pun memulai pekerjaan.
Sementara di tempat lain, seorang pria tengah memandangi foto di layar hp di sebuah ruangan kantor sambil senyum.
"Alena .. Aku rindu denganmu. Aku masih sangat mencintaimu, Alena. Aku harap kau pun merasakan hal yang sama," ujarnya.
Ia mengusap wajah Alena di layar tanpa melepaskan senyum di bibirnya. Lalu menggeser layar dan muncul foto istrinya. Helaan napas panjang lalu terdengar.
"Olive .. Kau memang selalu bisa membuatku tertarik padamu. Tapi tertarik untuk masalah kepuasan. Sejak kita berhubungan tanpa sepengetahuan Alena, sampai sekarang aku sama sekali tidak memiliki cinta untukmu. Dan mungkin akan tetap begitu. Meskipun nanti aku bisa membuktikan jika kau hamil atau tidak, aku akan berpikir dua kali untuk melepaskanmu. Karena kau tempat dimana aku menemukan kepuasan yang tidak bisa aku dapatkan dari Alena."
Ia menggeser lagi layarnya dan menampilkan foto Alena yang tadi. Ia lekas mencium foto tersebut di layar. Hingga suara ketukan pintu menghentikannya.
Pintu pun terbuka dan muncul seorang wanita dari balik pintu.
"Selamat pagi, tuan," ucap sapa wanita itu.
"Iya, kenapa?"
"Jadi, kapan kita akan meeting lagi bersama tuan Haxel? Karena kerja sama antara perusahaan kita dengan perusahaannya sangat penting. Keuntungan besar menanti."
"Kalau dia tidak bisa siang ini, bisa besok siang saja. Kau saja yang atur bagaimana baiknya."
"Baik, tuan Glen. Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya," pamitnya.
"Ah iya, silahkan!"
Wanita yang merupakan sekretarisnya pun keluar dari ruangannya. Kini, Glen kembali pada ponselnya. Masuk ke akun media sosial yang ia buat khusus untuk memantau Alena dengan nama samaran, sebab seluruh akun media sosial dirinya sudah di blokir.
Glen melihat story Alena yang di unggah lima belas jam yang lalu. Sekitar jam lima atau enam sorean kemarin.
Hari ini aku kenyang makan pizza mozarella. Aku memakannya dua kali. [Double emoticon mata love]
Glen mengulas senyum usai membaca story Alena. Ia kemudian meletakan ponselnya di atas meja usai memastikan bagaiamana perasaan wanita itu lewat story. Ia ikut senang jika Alena senang.
_Bersambung_