
Suasana makan malam ini berbeda seperti malam sebelumnya. Kehadiran Haxel membuat tuan Azel yang biasanya memilih diam saat makan kini berubah aktif bicara. Keduanya membahas tentang masalah perusahaan yang tidak begitu di pahami oleh Alena dan juga nyonya Alfi sendiri.
Alena hampir tersedak makanan pada saat papanya tiba-tiba menitipkan dirinya pada pria itu agar lebih di jaga kedepannya.
"Alena ini anaknya sedikit keras kepala. Dia tidak mau bekerja di perusahaan om dan lebih memilih bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan lain. Beruntungnya Alena bekerja di perusahaan mu, jadi om tidak khawatir lagi sekarang."
"Iya, om. Aku pasti bakal ingat amanah om untuk jagain Alena. Aku juga sering ngajak dia makan siang, hanya saja dia sering nolak," sahut Haxel dan mendapat pelototan dari wanita itu.
"Iya, tante juga setuju dengan apa yang di katakan oleh suami tante, papanya Alena," sahut nyonya Alfi.
Alena tidak bisa protes maupun membantah jika itu permintaan langsung dari kedua orang tuanya.
Kenapa jadi seperti ini, ya? Kenapa juga dia iya-iyakan begitu saja permintaan mama papa. Harusnya dia menolak dan keberatan, karena itu bukan bagian dari aturan perusahaan. Batin Alena.
Alena hanya bisa diam sambil menunduk, fokus pada makanannya saja. Sesekali melirik pria yang duduk di kursi sebrang, dan ia segera menunduk kembali ketika Haxel mengulas senyum padanya.
Bisa-bisanya do'a Catherine di ijabah. Ucap Alena dalam hati.
Setelah makan malam selesai, Haxel berpamitan. Tuan Azel dan nyonya Alfi meminta putrinya untuk mengantar pria itu sampai depan rumah. Alena pun menurut. Bagaimanapun Haxel adalah pria yang sudah menyelamatkannya dari bahaya Glen. Sampai lupa jika pria itu adalah bos nya di kantor. Pria yang paling di takuti oleh para karyawan.
"Terima kasih untuk malam malamnya," ucap Haxel sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Iya, terima kasih kembali karena sudah menyelamatkan aku dari Glen," balas dan ucap Alena.
"Itu akan menjadi tugasku kedepannya karena di beri amanah oleh orang tuamu."
"Jika kau keberatan dan merasa dengan untuk menolak tadi, kau tidak perlu melakukannya. Karena hubungan kita hanya seorang bos dan karyawan biasa saja. Tidak perlu berlebihan apalagi karena merasa tidak enak kepada mereka. Tidak perlu jika itu membuatmu merasa terpaksa."
Haxel mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk seulas senyum tipis.
"Mereka baik dan welcome padaku padahal tidak kenal sebelumnya. Hanya bertemu satu kali, itupun karena acara papaku."
"Benarkah?"
"Ya."
"Aku merasa sangat beruntung."
"Karena?"
Haxel tanpa sadar mengucapkan hal itu. Tanpa ia sadari jika ia mulai nyaman dan memiliki perasaan terhadap wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Lupakan saja. Kalau begitu aku pamit pulang. Besok pagi aku akan datang lagi ke sini untuk menjemputmu."
"Hm?" Kedua mata Alena terbelalak kaget.
"Selain papamu meminta agar aku lebih menjagamu, karena mobilmu masih di kafe. Jadi tidak alasan lagi kesiangan masuk kantor," jawab pria itu.
"Aku bisa bawa mobil yang lain."
"Tapi aku akan tetap menjemputmu."
Sebelum Alena melayangkan protes, Haxel beranjak pergi dari hadapan Alena dan masuk ke dalam mobilnya. Mesin mobil di hidupkan dan menekan klakson sebagai tanda berpamitan.
Setelah mobil pria itu pergi, Alena masih berdiri di teras rumah.
Kenapa dia jadi agresif seperti ini? Pikirnya.
_Bersambung_