
Mobil Alena berhenti di depan restoran Axxa tempat dimana tuan Haxel mengajaknya makan siang hari ini. Ia turun dari mobil bersama Catherine.
"Alena, kau serius ingin mentraktir aku makan di sini?" tanya wanita itu seraya menatap tulisan Axxa di bangunan besar nan tinggi di hadapannya.
Alena mengangguk membenarkan. "Iya. Kenapa? Kau alergi makan makanan halal?"
"Sial, kau meledekku."
Alena terkekeh kecil.
"Bukankah restoran ini yang di sebutkan oleh sekretaris tadi?" tanya wanita itu memastikan.
"Iya, memang benar. Jadi kau akan ikut makan siang denganku dan tuan Haxel. Dengan begitu, siapa tahu makananmu akan di bayarkan olehnya."
Catherine tersenyum mendengar ide sahabatnya. "Sudah mulai pintar kau ternyata. Menggunakan tuan Haxel agar kita bisa makan gratis."
"Harusnya kau berterima kasih padaku karena sudah di ajak. Jika tidak, maka akan terus memakan menu yang sama setiap hari yang membosankan."
"Aku berterima kasih padamu?"
"Ya, tentu saja."
"Seharusnya kau yang berterima kasih padaku, Alena. Karena kau menjadikan aku tameng agar kalian tidak berduaan saja selama makan siang berlangsung. Bukan begitu?"
Alena mengulas senyum. Ternyata Catherine cerdas juga, mampu membaca pikirannya.
"Tapi tidak apa-apa, aku akan tetap berterima kasih padamu. Semakin sering tuan Haxel mengajakmu makan siang dan aku ikut, maka saldo ku akan aman. Terima kasih nyonya Haxel."
"Ah baiklah." Catherine pun mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus.
Mereka mulai beranjak dari sana, memasuki restoran tersebut. Tidak ingin membuang waktu lagi lantaran jam makan siang tidak banyak. Hanya empat puluh lima menit dan mereka harus segera sampai di kantor lagi.
Alena mengedarkan pandangannya menyisir meja yang terdapat di restoran tersebut. Dan pandangannya jatuh pada pria yang menggunakan jas abu-abu di meja pojok belakang.
"Itu tuan Haxel," tunjuk Alena memberi tahu Catherine.
Mereka berjalan ke arah meja dimana tuan Haxel berada.
"Selamat siang, tuan," sapa Alena.
Pria itu menoleh. Senyum terpancar jelas di wajahnya, namun senyumnya perlahan memudar seiring melihat wanita yang berdiri di samping Alena.
"Iya, siang," balas tuan Haxel seraya memasang sikap dinginnya.
"Terima kasih sudah mengajak Alena untuk makan siang, tuan," ucap Catherine membuat kerutan dalam di kening pria itu.
Alena meminta Catherine untuk tidak mengatakan apapun, karena jika salah bicara sedikit saja bisa berpengaruh besar.
"Iya, jadi sebelumnya terima kasih sudah mengajak aku untuk makan siang bersama. Ini sebuah kehormatan bagi aku karena di ajak makan siang langsung oleh pemimpin besar perusahaan. Tapi sebelumnya aku minta maaf tuan, karena aku harus mengajak sahabatku, Catherine. Karena biasanya kami selalu makan siang berdua, dan aku tidak ingin membiarkannya makan siang sendiri hari ini," ucap dan jelas Alena.
Tuan Haxel menganggukan kepalanya. Jujur sebenarnya tujuan ia mengajak Alena untuk makan siang bersama karena ia ingin bicara empat mata. Dan entah kenapa, ia mulai tertarik dengan hidup wanita itu. Tapi sayangnya Alena malah mengajak sahabatnya untuk ikut makan siang bersama. Mungkin lain kali ia harus mengatur jadwal untuk bisa mengobrol dengan wanita itu. Itupun jika ada kesempatan. Jika perlu dan kalau bisa, ia akan mengajak Alena di luar jam kantor.
_Bersambung_