OH MY DUDA

OH MY DUDA
Perdebatan



Alena berdiri di depan wastafel toilet wanita yang terdapat di restoran tersebut. Ia merasa jika Olive memang sengaja melakukan hal itu di depannya guna membuatnya merasa panas dan cemburu. Dan nyatanya memang berhasil. Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika Glen harus menikah dengan sepupunya sendiri.


"Tidak, ini tidak bisa. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Alena, tenanglah. Kau harus tetap bersikap tenang agar menjadi pemenangnya. Jika kau lemah seperti ini, maka Olive akan terus berbahagia di atas kebahagiaanmu." Alena berusaha menyakinkan diri sendiri untuk tidak terpengaruh oleh Olive.


Wanita itu mengatur napasnya. Melihat pantulan wajahnya di cermin. Jika di lihat dan di perhatikan secara seksama, ia tampak lebih cantik meski tidak tampil sesempurna seperti biasanya. Dan yang pasti secara rupa dan fisik, ia menang jauh dari Olive. Justru ia heran kenapa Glen bisa berpaling darinya hanya untuk Olive? Mungkin memang karena Olive sering mengumbar tubuhnya yang terlalu terbuka, sehingga Glen tergiur dan tidak bisa membedakan mana yang mahal dan mana yang murah.


Setelah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, Alena siap untuk kembali ke meja makan dan bertemu dengan kedua manusia yang sebenarnya tidak pantas di beri ruang untuk hidup. Baru saja mendapat kepercayaan diri lagi, perasaannya sudah di buat kacau karena kehadiran Glen yang secara tiba-tiba pada saat ia keluar dari toilet.


Alena reflek menghentikan langkah dan kedua matanya membulat.


"Alena .." sapa pria itu lirih dengan seulas senyum yang terukir di sudut bibirnya.


Alena segera memalingkan wajah agar tatapan mereka tidak bertemu. Kemudian melipir pergi tanpa merespon. Namun, langkahnya di hadang oleh pria itu.


"Minggir, beri aku jalan untuk lewat!" pinta Alena masih secara baik-baik.


"Beri aku waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, Alena!"


"Aku tidak butuh itu dan aku perduli itu."


Alena melangkah ke samping untuk pergi, tapi lagi-lagi Glen menghalangi jalannya.


Glen menelungkupkan tangannya di dada.


"Okay, im sorry. Please, Alena. Beri aku kesempatan untuk membicarakan ini."


Alena malas sekali meladeni Glen. Kenapa pria itu bersikeras ingin menjelaskan apa yang terjadi, padahal sudah jelas jika dia menghamili Olive dan menjalin hubungan selama masih berhubungan dengannya.


"Apalagi yang ingin kau jelaskan? Bukankah sudah jelas jika kau menghamili Olive? Kau tidur dengannya di saat statusmu masih kekasihku? Lantas apa lagi yang harus kau jelaskann?"


"Okay, Alena. Aku akui, aku berhubungan dengan Olive di belakangmu. Aku tahu ini sebuah kesalahan dan ini fatal. Tapi jujur, aku hanya menggunakan Olive sebagai pelampiasan hassratku saja. Tidak lebih dari itu."


"Hanya pelampian hassrat? Hanya? Kau bilang hanya? Apa kau sudah gila, hah? Tidur dengan wanita lain sementara kau masih menjalin hubungan dengan seseorang kau anggap itu hal yang wajar?" Alena bingung dengan cara berpikir Glen yang menyepelekan hal itu. "Apa kau tidak pernah sedikitpun merasa bersalah atas perbuatanmu yang melukai perasaan pihak yang satunya? Lalu bagaimana jika aku yang melakukannya dengan pria lain? Apa kau akan yang akan kau lakukan, hah?"


"Jika kau mau melakukan hal itu, maka aku akan melakukannya denganmu. Bukan dengan Olive."


Plakkk


Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi kiri Glen. Perkataan Glen barusan serasa merendahkan Alena.


_Bersambung_