OH MY DUDA

OH MY DUDA
Seputar Pizza



Setelah pulang dari kantor, Alena memutuskan untuk menjenguk Catherine. Ia sudah berada di rumah sahabatnya sekarang dan menceritakan tentang pizza yang ia dapatkan dari sosok misterius.


"Aku yakin jika pengirim pizza itu tuan Haxel, Alena. Karena kau tidak mau di ajak makan siang dengannya. Oleh karena itu, dia khawatir kau sakit. Lalu diam-diam mengirim makanan," ujar Catherine.


Alena diam untuk beberapa saat. "Apa itu bukan sebuah kebetulan? Darimana dia tahu jika aku menyukai pizza mozarella?"


"Mmm .. Ini pertanyaan yang sama dengan darimana dia bisa mendapatkan fotomu untuk memasangnya di profil."


"Maksudmu?"


"Alena, tuan Haxel bisa mencuri fotomu di akun media sosial untuk di jadikan profil ketika memesan makanan tersebut. Bisa jadi, dia melihat postinganmu tentang makanan. Oleh karena itu dia membelikan pizza mozarella usai melihat postingan makanan yang pernah kau unggah."


"Cath, aku memang sering mengunggah foto makanan di media sosial. Tapi itu di story, bukan di postingan."


"Kau yakin?"


"Apa kau pernah melihatku mengunggah postingan pizza di beranda?"


"Sering, tapi mungkin iya hanya di story."


Alena merasa heran dan mulai teringat ucapan pria itu. Jika dia bisa dengan mudah mencari alamat rumahnya, mendapatkan nomer teleponnya, nama mantan kekasihnya, bahkan makanan kesukaannya sekaligus. Apa pria itu sedang mencari tahu dan menggali informasi seputar kehidupannya? Tapi untuk apa?


Setelah satu jam lamanya di rumah Catherine, Alena berpamitan. Ia bisa kemalaman jika meneruskan obrolan. Kini ia sudah sampai di rumah.


"Alena, mama belikan pizza mozarella kesukaanmu. Mama taruh di meja makan, kau bisa makan sekarang. Mumpung masih hangat, nanti keburu dingin," kata nyonya Alfi ketika putrinya pulang.


Alena senang hari ini bisa mendapat pizza mozarella kesukaannya. Tapi ia masih penasaran siapa orang yang telah mengirim pizza di kantor tadi siang. Apa itu sungguh Haxel yang melakukannya?


"Hei .."


Alena terlonjak kaget saat mamanya menepuk pundaknya.


"Ada apa? Kenapa melamun?" tanya wanita paruh baya itu khawatir.


"You sure? Kau baik-baik saja kan? Apa Glen mengganggumu lagi?"


"I'm okay, ma. Mama tidak usah khawatir. Kalau begitu aku mau ambil pizza nya dulu."


Alena melipir pergi dari hadapan mamanya. Sementara nyonya Alfi masih berdiri di sana, ia berharap jika Alena memang baik-baik saja. Kemudian ia pergi juga dari sana untuk kembali ke kamarnya.


Alena hanya memakan dua potong saja, ia sudah kenyang karena sudah makan lima potong di kantor tadi. Ia mengambil minuman dingin di kulkas dan memutuskan untuk kembali ke kamar.


Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan asisten rumah.


"Bi, ada pizza di atas meja makan. Kalau bibi mau, ambil saja. Bagi juga yang lain, di habiskan juga tidak apa-apa."


"Iya, nona. Terima kasih."


"Sama-sama, bi."


Alena bergegas menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya. Seperti biasa, ia langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Memejamkan kedua mata dan menghirup banyak-banyak oksigen.


"Aku rasa kau harus melupakan Glen dan tidak ada salahnya juga jika kau bersama dengan tuan Haxel. Aku tahu dia seorang duda, Alena. Tapi coba deh kau perhatikan tuan Haxel, dia tampan dan keren."


Alena refleks membuka mata ketika ucapan Catherine beberapa hari lalu terlintas di kepalanya. Entah kenapa, ucapan itu sering kali terngiang-ngiang di telinganya akhir-akhir ini.


Ia menggeleng seraya memegangi kedua sisi kepalanya.


"Kenapa ucapanmu berlari-lari di pikiranku, Catherine. Kau sudah memperngaruhiku."


Alena berusaha untuk menepis ucapan sahabatnya karena jujur itu sangat menganggu.


Akhirnya ia putuskan untuk bangun dan pergi ke kamar mandi guna bersih-bersih badan yang sudah terasa lengket.


_Bersambung_