
"Aku tidak pernah memiliki cinta untukmu, Olive. Cintaku telah habis untuk Alena. Dan bagiku kau hanya seorang wanita dimana aku bisa melampiaskan keinginan yang tidak bisa aku dapatkan dari cintaku. Tidak lebih dari itu dan selamanya akan tetap begitu."
Ungkapan Glen begitu menyayat hati Olive. Oleh karena itu ia rela membohongi semua orang dengan cara pura-pura hamil agar bisa memiliki Glen secara utuh.
"Lalu apa kau akan menceraikan aku dan kembali lagi pada dia?"
"Andai kau tidak membohongi semua orang atas pengakuan palsumu. Mungkin tidak akan ada kata kembali di sini. Dan kau adalah orang yang telah menghancurkan hubungan aku dengan Alena!"
"Bukan aku, tapi kita!" tampik Olive.
"Sebelum kau membuat pengakuan palsu atas kehamilanmu, hubungan akun dengan Alena baik-baik saja. Mungkin akan tetap baik-baik saja jika kau tidak membuat pengakuan palsu itu."
"Glen! Cukup. Jangan hanya menyalahkan aku. Di sini kau juga mengkhianati Alena bukan? Jadi jangan berkata seolah-olah akulah penyebab di antara kalian. Aku melakukan ini karena aku hanya ingin kau menjadi milikku seorang."
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa tidak ada hal lain selain itu?"
Olive diam sejenak. "Apa maksudmu?"
"Aku merasa jika kau sengaja membuat pengakuan palsu, semata bukan karena kau mencintaiku saja. Aku yakin kau memiliki tujuan tertentu. Akui saja, Olive. Kau haus juga dengan hartaku bukan?"
Olive tampak gelagapan. Sebelum kemudian ia mengitakan apa katanya.
"Ya, aku rasa karena kau keturunan dari keluarga Smithson."
Glen menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Jika begitu seharusnya tidak perlu ada pernikahan di antara kita. Kau cukup layani aku ketika aku mau, maka aku akan membayarmu berapapun nominal yang kau sebutkan. Maka dengan begitu, hubungan aku dengan Alena akan tetap baik-baik saja, dan hubungan aku denganmu pun akan tetap berjalan. Tapi sayangnya kau terlalu boddoh, Olive. Kau bertindak tanpa memikirkannya terlebih dahulu, jika disini aku pihak yang paling di rugikan."
Glen hendak beranjak dari kamar. Namun langkahnya segera di cegah oleh Olive.
"Glen, kau mau kemana?"
"Mencari kesenangan lain," sahut pria itu dengan ketus.
"Apa maksudmu? Bukankah aku satu-satunya orang yang bisa menyenangkanmu?"
Pria itu kemudian bergeming. Tidak berapa lama sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum yang membuat Olive merasa takut. Glen sedikit membungkukkan badannya, menatap Olive dengan jarak cukup dekat.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan bersenang-senang denganmu saja."
Glen kembali dengan membawa tiga dasi, lalu duduk di hadapan Olive di atas tempat tidur.
"Kalau begitu tutup matamu, aku akan memberiku surprise yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidup."
Olive menggeleng. Ia merasa jika Glen berniat buruk padanya.
"Ayolah, sayang. Kenapa kau kelihatan takut? Bukankah seharusnya kau senang?"
"Jangan lakukan apapun, Glen. Aku mohon."
"Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu, baby. Jadi pejamkan matamu sekarang."
Setelah berhasil membujuk dan menyakinkan Olive, Glen pun memasangkan dasi di wajah wanita itu. Mengikatnya ke belakang sebagai penutup mata. Setelah itu ia menggunakan dasi kedua untuk mengikat tangan Olive ke sandaran besi ranjang tempat tidur.
"Glen .. Apa yang akan lakukan?" tanya Olive mulai panik dan khawatir.
"Kita akan bersenang-senang, baby."
"Glen, lepaskan aku!" seru Olive, namun Glen sudah tidak peduli.
Pria itu mengikat tangan Olive cukup kencang agar tidak mudah terlepas.
"GLEN .. LEPASKAN AKU!! Aku mohon .. JANGAN SAKITI AKU, GLEN ..!!"
Setelah mengikat tangan ke sandaran ranjang, Glen menggunakan dasi ketiga untuk menyumpal mulut Olive.
"Mmmm .. Mmmm .." Olive mulai memberontak, dia berusaha untuk melepas ikatan di tangannya, tapi sulit.
"Tenang, sayang. Kita akan bersenang-senang. So, nikmati saja."
Glen mengeluarkan senyum jahatnya. Ia mulai merobek piyama blouse yang di kenakan oleh istrinya dengan cukup kasar. Dan mulai menjamah tubuh Olive dengan sangat agresif yang terbilang kasar.
"Mmmm .." Di balik sumpalan mulutnya, Olive memekik kesakitan pada saat Glen menggigit boba gunung kembarnya hingga berdarah.
Ini merupakan bentuk kemarahan dan kekecewaan Glen terhadap Olive karena wanita itu sudah memberi pengakuan palsu atas kehamilan yang membuatnya harus kehilangan Alena lantaran mau tidak mau harus menikahinya.
Karena baginya, tidak ada pria yang benar-benar baik dan mampu menahan naffsunya. Ketika seseorang tidak berani merusak pasangannya atas dasar cinta, maka ia akan mencari wanita lain yang bisa di jadikan sekedar pelampiasan naffsunya sesaat. Percayalah.
_Bersambung_