
Catherine kembali ke kubikel nya usai membuat kesepakatan dengan tuan Haxel.
"Dari mana?" tanya Alena membuat wanita itu sedikit terkejut lantaran dia sudah kembali dari kamar mandi.
"A-aku .." Catherine sedikit gugup. "Aku dari toilet," jawabnya kemudian.
"Dari kapan? Aku tadi juga ke toilet. Tapi tidak ada siapapun di sana selain aku."
Catherine berusaha untuk tetap tenang agar Alena tidak mencurigai dirinya.
"Aku ke toilet, Alena. Aku tadi ke sana tidak lama setelah kau pergi ke sana. Aku berusaha menahan diri agar tidak bersuara karena aku buang air besar. Aku khawatir ada karyawan lain yang datang."
Alena menatap wajah sahabatnya yang agak aneh. Terlebih alasan wanita itu yang membuatnya merasa ada yang di sembunyikan darinya.
"Perutmu bermasalah lagi?"
"Sedikit."
"Mudah-mudahan tidak berkelanjutan."
"Iya, Alena."
Mereka pun mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan pekerjaan. Alena merasa ada yang aneh dari sikap Catherine. Tidak biasanya dia seperti itu.
Maaf, Alena. Aku terpaksa membohongimu atas permintaan tuan Haxel. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, tapi ini semua demi kebaikanmu. Aku akan melakukan apapun yang terbaik untukmu. Ucap Catherine dalam hati.
***
Jam makan siang pun tiba. Alena segera membereskan meja yang sedikit berantakan.
"Ayo, Cath. Kita sudah membuang waktu lima menit. Masih tersisa empat puluh menit lagi," ajak Alena.
"Maaf, Alena. Kau duluan saja, perutku sakit lagi." Catherine menolak ajakan Alena dan ini untuk yang pertama kalinya.
"Apa perlu ke Dokter lagi?"
Catherine menggeleng. "Ini tidak seburuk yang kemarin. Aku perlu ke toilet saja, kau makan siang sendiri tidak apa-apa?"
"Tidak perlu, selera makanku hilang karena perutku sakit. Kalau begitu aku toilet, ya."
Catherine melipir pergi begitu saja. Meninggalkan Alena sendiri di kubikel sementara yang lain sudah berhamburan pergi untuk makan siang.
Alih-alih pergi, Alena malah tertegun. Sejak tadi Alena merasa sikap Catherine berubah. Padahal sebelum ia ke toilet, Catherine tampak baik-baik saja. Dan wajahnya pun sekarang tidak terlihat menahan sakit seperti sakit perut sebelumnya.
"Ada apa dengan dia?" pikirnya.
Saat hendak pergi, ia di kejutkan oleh pria yang tiba-tiba saja muncul di depannya.
"Mau makan siang?" tanya pria itu yang tak lain adalah tuan Haxel.
"Iya."
"Ya sudah, ayo!" Haxel meraih pergelangan tangan Alena.
"Maaf, tuan. Aku mau makan siang tapi tidak denganmu. Jadi, tolong lepaskan tanganku sebelum ada orang lain yang melihatnya," pinta Alena masih sopan.
"Kau berada dalam pengawasanku selama kau di kantor. Aku hanya berusaha menjaga amanah dari papamu. Jika terjadi sesuatu, maka aku yang akan di salahkan," jawab pria itu tanpa melepaskan tangan Alena dari genggamannya.
"Apa harus sampai seperti ini? Bagaimana jika ada orang yang melihat kita? Aku tidak mau menjadi buah bibir dan pusat perhatian banyak orang."
"Kita sudah pernah makan siang bersama sebelumnya, jadi kau tidak perlu takut dengan pandangan orang lain yang tertuju padamu. Ayo, sebelum jam makan siangnya habis."
Haxel tidak memberi ruang lagi untuk Alena protes. Alena merasa jika pria itu mulai posesif dengan mengatasnamakan amanah dari mama papanya.
Dari kejauhan, Catherine berdiri melihat kepergian dua orang itu.
"Maafkan aku, Alena. Aku terpaksa membohongimu lagi. Aku sudah membuat kesepakatan dengan tuan Haxel, jika aku harus memberi kesempatan untukmu bisa dengannya selama berada di lingkungan kantor. Tuan Haxel mengatakan jika ini amanah dari orang tuamu untuk menjaga dirimu dari gangguan Glen. Dan aku berharap dengan ini kau bisa bersama dengan tuan Haxel. Meski dia seorang duda, aku akan tetap mendukungmu bahkan dari awal sekalipun."
Setelah itu Catherine buru-buru pergi menuju restoran tempat biasa ia makan siang bersama Alena. Kali ini ia akan memesan menu yang mahal. Sebab tuan Haxel memberinya uang cash sebanyak satu juta untuk jatah makan siang hari ini saja. Selebihnya pria itu akan memberinya uang dengan nominal yang sudah di sebutkan.
_Bersambung_