OH MY DUDA

OH MY DUDA
Sebuah Rencana



"Alena!"


Wanita itu terperanjat kaget mendapati panggilan dan tepukan di bahu secara tiba-tiba. Begitu di lihat, ternyata itu sosok orang yang ia tunggu kehadiran nya.


"Catherine .."


Ekspresi Alena berubah senang karena sahabatnya kembali ngantor hari ini. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh wanita itu.


"Akhirnya kau kembali bekerja," ucap Alena tanpa mengurangi perasaan senangnya.


"Iya, kau pasti rindu padaku? Kau tidak bisa hidup tanpa aku bukan?"


Pertanyaan wanita itu mendapat pukulan kecil di lengan.


"Ish .. Apaan sih?"


Catherine terkekeh. "Lagian kau antusias sekali menyambutku. Ada cerita apa?"


Catherine mendaratkan tubuhnya duduk di atas kursi kubikelnya. Begitupun dengan Alena. Ia melihat ke sekeliling ruangan, baru ada beberapa yang datang dan di antara mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.


Catherine sudah tidak sabar mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Alena. Sebab wajah sahabatnya sudah sangat serius.


"Cath, tebakanmu salah," ujar Alena menciptakan kerutan di kening Catherine.


"Tebakan apa?" tanya wanita itu bingung.


"Bukan tuan Haxel yang memesan pizza dengan cara mengatasnamakan diriku."


"Lalu?"


"Glen."


"What?" Catherine terkejut-kejut.


Baru sebentar mereka tidak bertemu, Alena sudah membawa berita besar.


"Shttt .." Alena memperingati Catherine agar tidak berisik.


"Iya maaf, maaf. Tapi, bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Catherine penasaran.


"Oh jadi benar, Glen yang meeting bersama tuan Haxel itu Glen mantan kekasihmu?"


Alena mengangguk membenarkan. "Iya. Karena itu tuan Haxel jadi tahu, kalau orang yang meeting bersamanya itu mantan aku."


"Terus dia cemburu?"


"Hah, apa sih?" Alena kaget karena respon Catherine malah ke arah lain, wanita itu lagi-lagi terkekeh. "Aku sedang mode serius, Cath."


"Iya, maaf. Maaf .. Terus gimana?"


"Intinya setelah itu aku mengucapkan terima kasih pada tuan Haxel dan tidak perlu memesan apapun lagi untukku dengan cara mengatasnamakan diriku. Tapi, dia bilang jika dia tidak melakukan hal itu. Lalu, aku tanyakan seperti apa foto aku di ponsel Glen, tuan Haxel menyebutkan ciri-ciri nya dan itu sama dengan foto profil di akun yang di jadikan untuk memesan makanan ketika kurir makanan itu memperlihatkan fotonya padaku. Itu sama persis," terang Alena.


"Lalu darimana kau tahu jika itu semua perbuatan Glen?" tanya Catherine penasaran.


"Entah kenapa aku berpikir jika dia yang melakukannya. Selain karena foto aku itu, aku mencoba untuk mencari akun followers aku di media sosial untuk memastikan apa aku sudah benar-benar memblokir akunnya atau belum. Aku juga mencari akun dengan nama panjangnya dan juga inisialnya. Dan kau tahu, ternyata dia memiliki akun samaran dengan nama GS dan foto profilnya kelinci. Itu sudah membuktikan jika dia masih saja mengawasi hidup aku."


"Kau yakin itu dia?"


"Aku sangat yakin jika itu dia. Oleh karena itu aku berencana untuk menemuinya, memberi peringatan terakhir agar dia tidak mengganggu kehidupan aku lagi. Bagaiamanapun baik aku maupun dia, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing."


Catherine mengangguk-anggukan kepalanya setuju dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya.


"Iya, aku rasa kau memang harus tegas memberi peringatan padanya, Alena. Karena jika sesuatu terjadi pada rumah tangganya, aku khawatir kau yang di salahkan dan di tuduh menjadi penyebabnya. Aku akan menemanimu menemuinya. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian menemuinya."


"Iya, Cath. Terima kasih," ucap Alena merasa terharu akan kebaikan dan pengertian sahabatnya.


"Jadi kapan kau akan menemuinya?"


"Aku akan cari waktu dulu."


"Ok. Aku siap menemanimu."


Obrolan keduanya terhenti ketika melihat jam sudah menunjukkan waktunya untuk mulai bekerja.


_Bersambung_