OH MY DUDA

OH MY DUDA
Menjemput



Pagi ini Alena kepikiran soal ucapan Haxel tadi malam jika pria itu akan menjemputnya pagi ini. Bagaimana jika pria itu tidak main-main dengan ucapannya dan beneran datang jemput ia ke rumah.


Wanita itu berjalan menuruni anak tangga dan bergegas pergi ke ruang makan untuk sarapan. Namun, pada saat sampai di sana, langkahnya terhenti melihat kursi makan sudah di isi oleh tiga orang yang biasanya hanya dua orang saja.


"Selamat pagi, Alena," sapa pria yang duduk di sebrang kursi makan tempat ia biasanya.


Alih-alih menjawab, Alena malah tertegun.


Dia bicara sungguh-sungguh dan datang ke sini untuk menjemput ku. Bahkan dia sampai ikut sarapan bersama mama papa.


"Alena, sayang. Ayo sini sarapan!"


Ucapan mamanya menyadarkan Alena dari segala pemikirannya. Ia pun mengangguk dan melanjutkan langkah menuju meja makan. Duduk di kursi tempat ia biasanya.


Haxel tampak melempar senyum padanya.


"Haxel datang untuk menjemputmu karena mobilmu masih di kafe itu bukan?" tanya tuan Azel di angguki oleh Alena.


"Iya, pa. Tapi aku kan bisa pakai mobil yang lain, tidak perlu di jemput," jawab Alena.


"Itu bisa saja, Alena. Hanya saja papa dan mama merasa lebih aman jika kau bepergian bersamanya. Dan akan seterusnya begitu."


"Maksud papa?"


Tuan Azel memberi kode agar istrinya saja yang melanjutkan bicara.


"Mulai hari ini, Haxel akan mengantar jemput kau bekerja, sayang. Haxel tidak merasa keberatan untuk itu. Bukan begitu, nak Haxel?"


Haxel mengangguk membenarkan. "Iya, Alena. Sepertinya kau juga perlu pengamanan agar pria itu tidak lagi mengganggumu."


"Aku tidak perlu itu. Kalaupun aku perlu, aku bisa menyewa bodyguard untuk melakukannya."


"Hanya itu?"


"Ya."


"Sungguh?"


"Hm."


Alena menatap pria itu dengan tatapan tidak dapat di artikan. Kenapa papa dan mamanya bisa memberi kepercayaan terhadap pria itu. Meskipun Haxel merupakan putra dari teman bisnis, seharusnya papanya tidak perlu sampai segitunya.


Tapi karena Haxel pria yang sudah menyelamatkan dirinya dari Glen, Alena pun mau tidak mau menurut. Dan ketika ia sudah merasa tidak nyaman kedepannya, maka ia akan meminta baik Haxel maupun papanya untuk menghentikan hal ini.


Selama di perjalanan menuju kantor, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Alena sesekali melihat ke arah pria itu yang tampak fokus menyetir. Jika di lihat-lihat, yang di katakan Catherine ada benarnya juga. Meskipun pria itu sudah menjadi seorang duda, akan tetapi tidak memudarkan ketamapanannya. Bahkan pria itu kelihatan lebih dewasa dan tentunya cool dengan brewok tipis.


"Apa aku menarik bagimu?"


Pertanyaan Haxel membelah keheningan dan membuat Alena seketika merasa gugup.


"Apa maksudnya?" tanya Alena seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Aku melihat dengan ujung ekor mataku, jika kau sedang memperhatikan ku sejak tadi."


Alena tidak lagi berani menatap pria itu. Ia berusaha melihat ke arah lain guna menghindari wajah pria itu.


Ah, sial. Aku pikir dia hanya fokus pada jalanan. Batin Alena dalam hati.


Haxel mengulas senyum tipis seraya geleng-geleng begitu ekspresi wajah Alena berubah gugup. Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya sampai tiba di kantor.


_Bersambung_