
Malam ini Alena benar-benar tidak bisa tidur. Pasalnya ia kepikiran soal pizza yang di kirim oleh seseorang yang ia curigai adalah Glen. Sebab Haxel tidak mengakui jika itu perbuatannya.
"Apa aku harus menemui Glen dan memberi peringatan padanya untuk tidak mengirim apapun lagi untukku?" pikirnya.
Setelah hampir sepuluh menit berjalan mondar-mandir di kamarnya, Alena memutuskan untuk duduk di tepi ranjang. Ia terus berpikir keras bagaimana caranya supaya Glen tidak mengusik hidupnya.
Kemudian ia mengambil ponsel di tas kecil yang biasa ia bawa ke kantor. Lalu membuka akun media sosial. Mencoba mengetikkan nama seseorang di kolom pencarian followers nya.
Glen Smithson
Alena mencari nama pria itu untuk memastikan jika ia sudah memblokir akun tersebut. Begitu di cari memang sudah tidak lagi di temukan. Kemudian ia mencoba mencari dengan kata kunci Smithson. Tidak ada juga. Tidak berapa lama, ia mencoba untuk mencari dengan inisial GS. Sedetik kemudian iris matanya melebar mendapati akun followersnya dengan username GS dan foto profilnya gambar kelinci.
"Oh my god .." Alena sontak menutupi mulutnya yang sedikit menganga.
"GS dengan foto kelinci di profilnya. Apakah ini akun samaran Glen?"
Alena semakin yakin jika seseorang yang memesan pizza menggunakan akun yang mengatasnamakan dirinya adalah Glen. Ia sudah mendapat buktinya dari foto yang Haxel beri tahu ciri-ciri nya yang dia lihat di ponsel Glen dan foto yang di tunjukan oleh kurir makanan itu sama persis. Di tambah lagi akun GS tersebut.
Alena lantas mengirim direct message ke akun tersebut untuk memastikan jika itu Glen atau orang lain.
Hai ..
Alena mengirim DM tersebut. Akan tetapi akun nya sedang tidak aktif. Dan sepuluh menit berikutnya, ia tidak mendapat balasan. Ia pun memilih untuk tidur karena waktu sudah malam. Berharap besok pagi mendapat balasan.
Di tempat lain. Seorang wanita tengah panik dan ketakutan ketika suaminya meminta ia ikut ke rumah sakit untuk melakukan USG.
"Sekarang kau jujur padaku, jika kau beneran hamil atau tidak?" desak pria itu dengan nada lirih namun penuh penekanan.
"Baiklah, kalau begitu mari kita lakukan ulang sekali lagi. Aku ingin melihatnya secara langsung ketika tes kehamilan itu berubah menjadi dua garis merah. Bagaimana?"
Olive kian panik. Ia tidak tahu harus mengakuinya sekarang atau berusaha agar pria itu tetap percaya jika dirinya hamil.
"Kenapa kau diam? Kau takut?"
Olive berusaha menyusun kata di kepalanya. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia angkat bicara.
"Baiklah, aku mengaku jika aku memang tidak hamil," ucap Olive mengakui.
Glen tidak terlalu kaget dengan pengakuan Olive, sebab ia memang sudah sangat yakin jika Olive tidak benar-benar hamil. Pria itu hanya melenguh menghembuskan napas.
"Apa kau akan menceraikan aku setelah ini, Glen?" tanya Olive kemudian dengan wajah penuh kekhawatiran.
Glen diam seraya menatap wajah wanita itu dengan tatapan dalam. "Kenapa kau melakukannya?"
Pertanyaan Glen cukup membuat Olive bingung harus menjawabnya seperti apa. Tapi yang jelas, ia melakukan itu atas dasar cinta.
"Tapi sayang nya aku tidak pernah memiliki cinta untukmu, Olive. Cintaku telah habis untuk Alena. Dan bagiku kau hanya seorang wanita dimana aku bisa melampiaskan keinginan yang tidak bisa aku dapatkan dari cintaku. Tidak lebih dari itu dan selamanya akan tetap begitu."
Ungkapan Glen begitu menyayat hati Olive. Oleh karena itu ia rela membohongi semua orang dengan cara pura-pura hamil agar bisa memiliki Glen secara utuh.
_Bersambung_