OH MY DUDA

OH MY DUDA
Ungkapan



"A aaww .." Haxel merintih pada saat Alena mengobati luka di sudut bibirnya.


"Sakit, ya?" tanya wanita seraya menjauhkan kapas yang ia pakai untuk membersihkan darah di sudut bibir Haxel.


"Sedikit," jawab pria itu.


"Tetap harus di obati sekecil apapun lukanya."


"Iya."


Haxel berusaha menahan perih lukanya. Dan sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Alena. Wanita itu cantik sekali jika di lihat dari jarak sedekat ini. Sehingga Haxel tidak bisa menahan perasaan nya lebih lama lagi.


"Alena .."


"Hm, jangan bicara dulu. Aku sedang mengobatimu," protes wanita itu.


"Masih lama?"


"Sebentar lagi selesai."


"Ok."


Tidak berapa lama, Alena selesai mengobati luka pria itu.


"Sudah selesai, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya wanita itu.


Haxel menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua. Sepertinya itu aman.


"Kau mencari siapa?" tanya Alena lagi sembari ikut melihat ke kiri dan ke kanan.


Haxel menggeleng. "Tidak, aku tidak mencari siapapun."


"Lalu kau ingin bicara apa? Mencurigakan sekali," ujar wanita itu seraya memicingkan kedua matanya.


Haxel menghela napas panjang sebelum kemudian menghembuskan nya perlahan.


"Papamu akan mengubah keputusan."


"Maksudmu?" Alena penasaran.


"Aku rasa, akan ada pembatalan kau menjadi pemimpin pengganti papamu di perusahaan untuk sekarang. Setelah kejadian tadi, sepertinya beliau berubah pikiran."


Alena terdiam sejenak. "Jadi maksudmu kalau aku tidak jadi menggantikan papa di perusahaannya, aku harus kembali ke perusahaanmu?"


Haxel mengangguk membenarkan. "Ya, tapi bukan sebagai karyawan."


"Nyonya Haxel."


Jawaban pria itu seketika membuat wajah Alena berubah tegang. Napasnya tertahan dan lagi-lagi aliran darahnya serasa terhenti, degup jantungnya berpacu dengan sangat cepat melebihi normal.


"A-apa m-maksudmu, t-tuan?" tanya Alena dengan terbata akibat gugup.


Haxel mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Kenapa kau tidak bisa menolak ciuman dariku tadi? Bahkan kau menerima pelukanku dengan tangan terbuka lebar."


Alena seketika tidak bisa menjawab pertanyaan Haxel. Jujur, tidak alasan baginya untuk menolak apa yang di lakukan oleh pria itu terhadap dirinya.


"Seharusnya kau marah karena aku sudah lancang mengambil ciumanmu. Bahkan di saat pertama kali kita bertemu, kau mendorong diriku ketika aku memelukmu. Tapi tadi berbeda, kau bahkan sangat nyaman dengan itu. Jika bukan karena sudah ada rasa, lalu apa lagi?" imbuh Haxel.


Lagi-lagi Alena hanya bisa terdiam dan menunduk, ia tidak berani menatap wajah Haxel. Karena jujur, ia pun masih tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia masih sulit mengartikan semua ini.


Haxel menggerakan tangannya untuk menangkup kedua pipi Alena. Dan sepasang mata mereka saling temu. Haxel tatap kedua bola Alena dengan lekat.


"Alena Mecca Xiaxella, maukah kau menjadi istri terkahir untukku?"


Kalimat barusan kian menambah kegugupan Alena. Wanita itu bahkan sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tubuhnya seakan telah terkutuk menjadi batu.


"A a a ak-aku .. Aku .." Alena bahkan tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku mencintaimu, Alena," ungkap Haxel kemudian.


Alena hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Ia merasa mulutnya di kunci sehingga sulit sekali untuk bicara.


Tanpa menunggu jawaban wanita itu, Haxel langsung saja memagut bibir Alena hingga pemiliknya terbebelak. Haxel tidak hanya sekedar mengecup, melainkan memagutnya membuat kedua bibir mereka bertautan. Dia bahkan tidak perduli dengan luka yang masih basah dan perih.


Untuk seperkian detik mereka berciuma. Haxel melepaskan pagutan bibirnya dan menyeka bibir lembut Alena yang sedikit basah. Ia melihat Alena tampak terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Haxel tersenyum. "Aku tidak butuh jawabanmu, karena kau sendiri tampaknya menikmati ciumannya. Itu artinya, kau memiliki perasaan yang sama denganku."


Alena hanya bisa menunduk malu. Jujur, ia sangat menyukai hal barusan. Dan rasanya berbeda sekali dengan apa yang ia dapatkan dari Glen dulu. Haxel memberinya ciuman dengan sangat lembut.


"Aku akan mengatur jadwal pernikahan kita bulan depan," imbuh pria itu dan di angguki oleh Alena.


"Iya," jawab wanita itu setuju.


_Bersambung_