
Setelah seharian bekerja, Alena dan Catherine segera membereskan mejanya. Yang lain sudah pulang lebih dulu sejak jam sudah menunjukkan waktu pulang.
Keduanya kini sudah berjalan menuju mobil di parkiran. Dari kejauhan, seorang pria yang hendak memasuki mobil mengurungkan niatnya begitu melihat sesuatu jatuh dari tas salah satu wanita tersebut. Ia bergegas pergi ke arah wanita itu untuk memberi tahu jika barangnya terjatuh. Tapi sayang, mereka sudah masuk ke dalam mobil yang kini sudah melesat pergi.
"Ponsel Alena terjatuh. Bisa-bisanya dia tidak menyadarinya," ujarnya sembari memandang ke arah perginya mobil tadi.
Lantaran khawatir Alena panik mencari ponselnya, ia berinisiatif untuk mengejar mobil wanita itu. Berharap belum ketinggalan jejak.
Setelah mengejar mobil Alena dengan kecepatan penuh, akhirnya ia melihat mobil berwarna lilac itu. Tapi sayangnya, ia harus terjebak di lampu merah sementara mobil Alena sudah berlalu mengambil arah yang membuat pria itu terheran.
"Alena mau kemana? Kenapa dia pergi ke arah lain? Bukankah arah rumahnya ke kiri? Kenapa dia mengambil arah ke kanan?"
Ia jadi teringat jika Alena membawa sahabatnya yang bernama Catherine.
"Apa mungkin Alena mengantar pulang sahabatnya dulu?" pikirnya lagi.
Melihat lampu merah sudah berubah hijau, ia segera menancap gas melesat pergi guna mengikuti kemanapun Alena pergi.
Lima menit berlalu, ia tidak lagi menemukan mobil Alena. Mungkin ia tertinggal dan kehilangan jejak. Suara notifikasi yang berasal dari ponsel wanita itu mengalihkan perhatiannya. Bukan maksud lancang, ia hanya penasaran siapa orang yang mengirim pesan.
GS:
Aku sudah sampai di kafe Gardani, sayang. See you.
Usai membaca pesan tersebut, entah kenapa Haxel merasa sedikit kesal.
"Jadi Alena ada janji dengan seseorang?" pikirnya.
"Kalau begitu aku tidak perlu mengikutinya, aku kembalikan ponselnya nanti saja ke rumahnya."
Haxel hendak putar balik mobilnya, namun perhatiannya tersita pada inisial pengirim pesan tersebut.
"GS?"
"Glen Smithson?" ujarnya lagi.
"Jika GS ini memang tuan Glen Smithson, itu artinya Alena masih berhubungan dengannya. Dan selama ini Alena membohongiku dengan berbagai alasannya."
Haxel membaca ulang isi pesan yang keluar di layar kunci tersebut. Dari pesannya cukup romantis. Mungkin ini alasan kenapa pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya masih saja menyimpan bahkan menjadikan foto Alena wallpaper di ponselnya. Itu karena mereka masih berhubungan hingga saat ini.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih lima belas menit, mobil yang di kemudikan oleh Alena sampai di kafe tujuannya.
"Ini kafe nya, Alena?" tanya Catherine memastikan.
"Iya, tadi dia bilang agar kita menemuinya di sini saja."
Mereka pun turun dari mobil. Seperti janji sebelumnya, Catherine akan menemani sahabatnya untuk bertemu dengan Glen.
Keduanya masuk ke kafe itu dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari sosok yang ingin sekali Alena gampar untuk yang kedua kalinya.
Seorang pria yang duduk di meja pojok melambaikan tangannya dengan senyum.
"Alena, itu Glen."
Alena mengikuti arah pandang Catherine, dan benar saja, pria itu adalah Glen.
"Hai, sayang .." sapa pria itu seraya merentangkan kedua tangannya siap memeluk Alena, namun Alena segera menghentikannya.
"Aku tidak punya banyak waktu untukmu."
Glen menarik kembali tangannya. Dan meminta Alena untuk duduk. Tapi, pria itu tidak nyaman dengan kehadiran Catherine.
_Bersambung_