
Keesokan harinya. Catherine bercerita jika anak tantenya itu ketahuan hamil sebelum acara tunangan di mulai. Oleh karena itu, anak tantenya yang merupakan sepupunya langsung di nikahkan malam itu juga.
"Ah ya ampun, aku sudah tidak mengerti kenapa banyak sekali perempuan yang mau di ajak berhubungan sebelum menikah?" desis Catherine.
"Itu artinya kita memiliki sepupu yang sama-sama tidak waras," sahut Alena.
"Jelas beda."
"Bedanya? Mereka sama-sama hamil di luar pernikahan. Itu namanya sama."
"Beda, Alena. Karena di sini kau yang menjadi korban sepupumu. Sedangkan aku tidak terlibat apapun. Jadi be e be, de a da. Beda."
Alena memutar bola matanya malas. "Menyebalkan sekali."
Catherine tertawa kecil. "I'm sorry, Alena. Aku tidak ada niatan untuk menyinggung perasaanmu," ujar Catherine masih sambil tertawa, itulah cara mereka bercanda.
Seorang sekretaris tuan Haxel menghampiri ke kubikel Alena dan Catherine.
"Selamat pagi, Alena."
"Iya, selamat pagi," balas Alena.
"Ada pesan dari tuan Haxel. Beliau meminta kau untuk ikut makan siang dengannya nanti."
Alena menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
Sekretaris itu mengangguk membenarkan.
"Iya, tepat di jam makan siang nanti. Kau di minta untuk pergi ke restoran Axxa tempat tuan Haxel biasa makan siang dengannya."
Alena menoleh ke arah Catherine, wanita itu mengulum senyum mendengar sahabatnya di minta untuk makan siang dengan tuan Haxel, duda keren itu.
Lantaran semalam pria itu datang dan rela menunggu dirinya, hanya untuk mengembalikan barang berharga miliknya, maka Alena merasa segan jika menolak.
Wanita itupun mengangguk meski dengan perasaan ragu. "I-iya, baiklah."
Sekretaris itupun beranjak pergi. Alena menatap ke sekeliling untuk memastikan jika tidak ada karyawan lain yang mendengar apa yang sekretaris sampaikan.
Mereka semua tampak fokus pada layar komputer masing-masing. Itu artinya mereka tidak mendengarnya karena sekretaris tersebut menyampaikannya cukup lirih, dan hanya Catherine yang mampu mendengarnya, itupun dia nguping.
"Ehemm .. Hmm .. Cie cie .. Ada yang diam-diam melakukan pendekatan dengan tuan duda keren nih .. Ehemm ehemm .." goda Catherine.
"Shttt .. Apaan sih?"
"Aku bilang juga apa, Alena. Tuan Haxel itu tidak kalah tampan dari Glen. Meskipun dia ini duda, tapi menurutku tuan Haxel lebih keren, cool, dan hot. Pokoknya kau jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Catherine, stop. Jangan bahas itu, kita harus kerja!" Alena khawatir karyawan lain mendengarnya, ia tidak ingin jadi buah bibir lagi seperti kemarin.
"Rupanya tuan Haxel merasakan setitik kenyamanan ketika memelukmu, oleh karena itu ia memintamu untuk makan siangnya guna mendapatkan kenyamanan lebih darimu." Catherine terus saja menggoda.
Ingin rasanya Alena menyumpal mulut sahabatnya dengan berkas yang ada di meja, tapi sayangnya berkas itu jauh lebih penting sekarang.
"Jika kau diam, aku akan mentraktirmu makan siang nanti. Kau bebas memilih menu paling enak dan mahal." Alena memberi penawaran.
"Benarkah?" tanya wanita itu dengan mata yang berbinar.
Alena mengangguk. "Iya, kau bisa diam sekarang dan lanjutkan pekerjaanmu?"
"Baiklah, nyonya Haxel," jawab wanita itu dan mendapat cubitan kecil di lengan.
"Aaaaaa .." Catherine memekik dan membuat perhatian karyawan lain kini tertuju padanya.
Suasana seketika berubah hening. Catherine meminta maaf pada mereka semua lantaran sudah mengganggu fokus kerja mereka.
Alena menjulurkan lidah seraya memberi ancaman berupa bisikan. Jika Catherine terus menggodanya, maka ia akan melakukannya sekali lagi.
_Bersambung_