OH MY DUDA

OH MY DUDA
Salah Dugaan



"Apa kau tidak pernah sedikitpun merasa bersalah atas perbuatanmu yang melukai perasaan pihak yang satunya? Lalu bagaimana jika aku yang melakukannya dengan pria lain? Apa kau akan yang akan kau lakukan, hah?"


"Jika kau mau melakukan hal itu, maka aku akan melakukannya denganmu. Bukan dengan Olive."


Plakkk


Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi kiri Glen. Perkataan Glen barusan serasa merendahkan Alena.


"Aku pikir kau pria yang baik, Glen. Aku pikir kau yang berubah. Terima kasih sudah menunjukkan sifat aslimu. Aku merasa waktuku terbuang sia-sia untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak lebih dari seoranf pengkhianat, peccundang dan pengeccut sepertimu. Bahkan kata-kata itu masih belum cukup untuk menggambarkan sebagaimana keburukanmu. Dan asal kau tahu, aku bukan wanita yang seperti itu."


Alena beranjak pergi dari hadapan Glen. Baru dua langkah ia terhenti karena teringat sesuatu.


"Satu lagi, jangan pernah chat atau menghubungi aku lagi via apapun. Karena di antara kita sudah tidak ada hubunga apapun. Semuanya sudah berakhir."


Alena hendak melanjutkan langkahnya. Tapi urung begitu Glen mengatakan sesuatu.


"Jika aku bisa menghubungimu via chat ataupun yang lain. Sudah ku lakukan sejak kemarin. Tapi sayangnya kau sendiri kan yang memblokir kontak dan akun media sosialku."


Alena terdiam sejenak. Sebelum kemudian ia pergi dari sana untuk kembali ke meja makan.


"Aku mencintaimu, Alenaaa .." teriak Glen seiring Alena berjalan meninggalkannya.


Sementara di tempat lain. Seorang pria tengah duduk bersama seorang security di kursi plastik depan gerbang rumah.


"Alena dan keluarganya kira-kira masih lama?" tanya pria itu seraya melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Biasanya kalau ada acara keluarga, bisa tengah malam pulangnya," jawab security.


"Memangnya acara seperti ini sering mereka lakukan?"


"Justru karena kadang-kadang, makanya begitu mereka berkumpul dan bertemu, mereka menghabiskan waktu untuk bersilaturahmi dengan keluarga."


Lima belas menit berikutnya, masih belum ada tanda-tanda mobil datang. Security rumah tesebut sedari tadi memperhatikan wajah pria yang duduk di sebelahnya. Sampai akhirnya pria itu menyadari jika dirinya tengah di perhatikan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya pria itu sedikit menarik tubuhnya ke belakang.


Security itu menggeleng. "Hehe .. Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, sejak tuan datang ke sini, tuan belum memberi tahu saya siapa nama tuan."


Pria itu mengerutkan keningnya. "Apa itu perlu?"


Security mengangguk antusias. "Tentu saja. Saya security di rumah ini, bertugas menjaga keamanan. Jadi saya berhak tahu untuk memberi tahu pada tuan dan nyonya, terutama pada nona Alena bahwa ada pria yang datang sampai rela menunggunya."


Pria itu mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis.


"Tidak perlu memberi tahunya tentang siapa yang datang."


"Kenapa?"


"Karena aku akan tetap di sini, menunggu dia sampai pulang."


Mendengar jawaban pria itu, security di buat senyum-senyum.


"Beruntung sekali nona Alena, setelah di tinggal menikah langsung mendapatkan penggantinya," ujarnya menarik perhatian pria yang duduk di sebelahnya.


"Kalau boleh tahu, siapa mantan kekasih Alena yang nikah dengan wanita lain?"


"Glen," jawab security tanpa banyak pikir.


"Glen?" batin pria itu. "Kenapa bisa kebetulan sekali? Tuan Glen yang meeting denganku kemarin juga sebelumnya baru saja melangsungkan pernikahan."


_Bersambung_