
Glen tidak nyaman dengan kehadiran Catherine.
"Kau bisa duduk di kursi meja yang lain," pinta pria itu.
"Aku tidak mau," jawab Catherine ketus.
"Baiklah, kalau begitu kita saja yang pindah, sayang," ajak Glen hendak menyentuh tangan Alena, akan tetapi Alena dengan cepat menarik tangannya ke bawah meja.
Glen menatap kedua wanita di hadapannya. Ia hanya bisa menghembus napas.
"Baiklah kalau begitu," Glen pun mengalah. "Sayang .. Aku senang sekali kau tiba-tiba mengajak aku ketemuan. Aku tahu kau pasti masih memiliki perasaan untukku bukan? Kau sangat merindukan aku bukan? Akupun sama, sayang. Aku merindukanmu. Aku bahkan ada kabar baik untukmu supaya kita bisa bersama lagi," ucap Glen dengan binar bahagia di wajahnya.
Alena mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Jangan mimpi! Aku justru ke sini untuk memberi peringatan terakhir. Jangan pernah mengganggu ataupun mengusik kehidupan aku lagi. Jangan pernah mencoba untuk masuk ke dalam hidup aku, Glen. Sadarlah, jika sekarang kau sudah menjadi suami Olive, sepupuku. Dan di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," seru Alena dengan tegas.
"Apa maksudnya, Alena? Bukankah kau yang meminta aku untuk ketemu denganmu?"
"Ya, memang aku. Tapi sebelum ini, kau kan yang mengirim pizza ke kantor aku dengan mengatasnamakan aku sendiri di akun pemesanannya?"
Glen terdiam sejenak. "Tapi kau suka, kan? Kau sangat lahap memakannya."
Kalimat terakhir Glen membuat kening Alena seketika berkerut. "Apa maksudmu? Jadi benar kau yang melakukannya?"
Glen mengangguk tanpa beban. "Iya, aku bahkan datang dan melihat betapa lahapnya kau memakan pizza pemberian dariku."
Alena benar-benar tidak tahu jika ada Glen di sana pada saat itu.
"Mulai sekarang jangan pernah mengirim apapun untuk aku. Berhenti menggangu kehidupan aku. Urus saja istrimu yang sedang hamil anakmu!"
Alena hendak bangkit dari duduknya dan mengajak Catherine untuk segera pergi dari sana, karena ia rasa itu sudah cukup. Namun, belum sempat melangkah ia mengurungkan niatnya begitu Glen mengatakan sesuatu.
"Olive tidak hamil."
Alena terkejut mendengar kalimat pria itu.
"Apa maksudmu? Bahkan kau tidak mau mengakui itu anakmu? Dasar brengsekk!"
Glen bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Alena.
"Olive membuat pengakuan palsu, Alena. Dia tidak benar-benar hamil." Glen berusaha menyakinkan Alena jika saat ini ia berkata jujur.
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu? Apapun yang keluar dari mulutmu, tidak ada satupun yang layak di percaya."
Glen mengulas senyum. "Aku tahu kau marah dan kecewa padaku, Alena. Tapi sungguh, aku masih sangat mencintaimu. Oleh karena itu aku menyelidiki kehamilan Olive dan ternyata dia terbukti tidak hamil. Dia membuat pengakuan palsu supaya aku menikahinya, dengan tujuan menghancurkan hubungan kita. Jadi mulai detik ini, aku berharap kita bisa memperbaiki semuanya."
"Itu karena aku terlalu cinta denganmu, Alena. Seorang pria tidak akan pernah merusak barang berharga miliknya. Dia lebih memilih wanita lain yang menjadi pelampiasannya. Dan bagi aku, Olive tidak lebih dari sekedar pelampiasan."
"Dan kau tidak lebih dari pria brengsekk!" sergah Alena.
"Alena-"
"Ayo, Cath. Kita pergi saja dari sini."
Alena meraih pergelangan Catherine untuk pergi dari sana. Namun segera di hentikan oleh pria itu dengan menarik pergelangan tangannya.
"Aku akan berhenti mengganggumu, Alena. Asalkan aku ingin kita melakukan sesuatu sebagai bentuk cinta kita untuk yang pertama dan terakhir kalinya?"
Alena langsung saja menepis tangan Glen.
"Dasar, gila!" seru Alena dan buru-buru pergi dari sana.
"Alenaaa..!!" teriak Glen.
Pria itu tidak mau diam saja, ia segera menyusul langkah Alena dengan langkah cepat.
"Ayo, Cath. Kita harus pergi dari sini. Rupanya Glen sudah kehilangan kewarasannya."
"Iya, Alena."
Mereka bergegas keluar dari kafe tersebut menuju mobil.
"Alenaaa .." panggil pria itu lagi.
Catherine menoleh dan melihat Glen sedang berusaha mengejar.
"Alena, dia mengejar kita."
"Lebih cepat lagi, Cath." pinta Alena agar mereka mempercepat langkahnya menuju mobil, bahkan mereka sudah setengah berlari.
"Aaaaaaa .." Alena memekik pada saat seseorang menarik pergelangan tangannya.
"Ikut denganku, Alena," ucap seorang pria.
_Bersambung_