
Alena merasa sedikit malu akibat Catherine memesan tiga menu makanan sekaligus, dua jenis minuman yang berbeda dan dessert. Ia jadi merasa segan terhadap tuan Haxel.
Alena menyenggol kaki Catherine dari bawah meja dan wanita itu menoleh. Alena memberi sebuah kode melalui tatapan mata.
"Apa sih?" tanya wanita itu bersuara sehingga dapat terdengar oleh tuan Haxel.
Alena berdecak, ia sengaja bicara melalui kode, bisa-bisanya Catherine malah bersuara dan tidak mengerti kodenya. Alena menatap sahabatnya sedikit tajam. Setelah mengerti, wanita itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Sekali-kali dan sekalian, Alena. Kapan lagi di traktir sama tuan Haxel?" bisik wanita itu.
Alena hanya bisa menghela napas. Kemudian mereka memulai makan siangnya.
Di tengah-tengah makan, Catherine mendadak sakit perut. Padahal sedang enak-enaknya makan. Ia memegangi perutnya yang terasa mulas.
"Alena, aku mau ke toilet sebentar, ya," pamit wanita itu berbisik.
Alena mengangguk. "Iya."
Catherine pun segera pergi karena sudah tidak tahan ingin cepat keluar.
Melihat teman Alena pergi, mungkin ini menjadi celah untuk tuan Haxel mengajak wanita itu mengobrol.
"Mau kemana temanmu?" tanyanya terlebih dahulu.
"Toilet," jawab Alena.
"Oh .."
Alena kembali fokus pada makanannya. Pria itu baru menyadari jika Alena tidak memakai cincin yang semalam ia kembalikan.
"Cincinmu tidak di pakai?"
Alena reflek melihat jemarinya. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku simpan saja, takut hilang lagi."
"Bagus kalau begitu. Barang berharga memang harus di jaga dengan baik."
Tuan Haxel melihat ke arah perginya teman Alena tadi. Belum ada tanda-tanda dia akan kembali. Sepertinya masih ada waktu untuk mengobrol dengannya.
Tuan Haxel berdeham. "Ah iya, aku boleh tanya sesuatu padamu?"
"Iya, boleh."
"Mantan kekasihmu itu Glen?"
Seketika Alena menghentikan aktivitasnya lalu mendongak menatap wajah pria di hadapannya.
"Darimana kau tahu?" tanya Alena.
Haxel tidak mau mengatakan yang sebenarnya jika ia tahu dari security rumah. Ia khawatir Alena akan marah karena itu bisa jadi bersifat pribadi.
"Mmm .. Aku sudah pernah katakan sebelumnya padamu. Mudah bagi aku mencari alamat rumahmu, nomer teleponmu, termasuk siapa mantan kekasihmu itu."
Alena terdiam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian kedua matanya memicing menatap pria di hadapannya dengan penuh curiga.
"Apa kau sedang mencari tahu tentang kehidupanku?" tanya Alena curiga.
Haxel menggeleng. "Tidak seperti yang kau pikirkan."
"Apa tujuanmu sebenarnya? Dan apa saja yang kau ketahui tentang aku, tuan?"
Rupanya Haxel salah bicara. Kini Alena jadi salah paham padanya. Pasti Alena sedang berpikir yang macam-macam tentangnya. Ia harus tetap bersikap tenang agar Alena tidak berspekulasi tentang dirinya.
"Lupakan saja, kita lanjut makan lagi."
"Apa kau sengaja menghindari pertanyaan ku?" Alena membungkukkan badan dan sedikit mencondongkan ke depan, menatap tuan Haxel dengan rasa penuh curiga.
Haxel menghembuskan napas kecil. Andai ia tidak membahas hal itu, mungkin Alena tidak akan mencurigai dirinya. Salahnya juga karena terlalu lancang ingin mengetahui lebih jauh tentang masalah pribadi wanita itu. Padahal Alena hanya seorang karyawan di kantornya, sama seperti wanita yang merupakan sahabatnya. Akan tetapi, di mata Haxel Alena adalah wanita yang berbeda. Dia bukan hanya sekedar karyawan biasa di kantornya, melainkan lebih jauh dari itu. Membuatnya tertarik akan kehidupan seorang Alena Mecca Xiazella.
_Bersambung_