
Keheningan terjadi di antara Haxel dan Alena, dan hanya ada kecanggungan. Sudah hampir sepuluh menit lamanya, Catherine juga belum juga kembali.
"Alena .." panggil Haxel membelah keheningan.
Alena mendongakan wajahnya. "Iya, tuan."
Haxel berusaha mencari topik pembicaraan untuk mencairkan suasana.
"Mm .. Sebelumnya aku minta maaf atas kejadian di ruanganku. Jujur, aku refleks memelukmu karena ada alasan kenapa aku bisa melakukan hal itu."
Alena terdiam beberapa saat. "Iya, tidak apa-apa. Kau tenang saja, aku tidak akan menceritakan pada siapapun mengenai itu."
"Hm, iya."
Haxel merasa gemas sendiri lantaran Alena tidak mempertanyakan apa alasannya.
"Aku melakukan itu karena aku pernah ada di posisimu," sambung pria itu.
"Oh .." Respon Alena singkat.
Kenapa dia sama sekali tidak penasaran apa alasan aku melakukan itu padanya? Batin Haxel.
Terpaksa, ia sendiri yang akan menjelaskan alasannya.
"Iya, jadi aku bercerai dengan istriku karena dia ada scandal dengan orang terdekatku."
"Benarkah?"
Haxel mengangguk antusias. Akhirnya wanita itu merespon ucapannya.
"Ya. Oleh karena itu aku merasa empati denganmu, karena aku pernah mengalami dan berada di posisi itu."
Alena mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi maksudmu, maaf sebelumnya, apa istrimu hamil oleh pria lain?"
"Hm?" Haxel terkejut dengan pertanyaan Alena.
"Aku tidak bermaksud demikian, hanya saja kau bilang jika kau mengalami apa yang aku alami," ucap Alena merasa segan.
"Tidak sampai hamil. Tapi dia selingkuh dan berhubungan dengan pria lain. Aku sempat memergokinya di hotel."
Usai mengatakan hal tersebut, Alena merasakan perubahan ekspresi di raut wajah pria itu. Mungkin dia jadi teringat sesuatu yang menyakitkan baginya.
Perhatian Alena teralih ketika Catherine kembali seraya merintih kesakitan dan peluh serta keringat membasahi pelipis.
"Cath, kau kenapa?" tanya Alena khawatir.
Catherine memegangi perutnya. "Alena, tolong aku. Perutku sakit sekali, terasa melilit."
"Apa kau makan makanan pedas sebelumnya yang mengakibatkan diare?"
Catherine menggeleng. "Entahlah, aku tidak ingat makan apa. Tolong aku, Alena. Perutku sakit sekali."
"Kalau begitu ke rumah sakit saja, takutnya serius. Biar aku antar," saran tuan Haxel.
"Aku tidak bisa melanggar peraturan perusahaan, tuan. Aku tidak bisa pergi sebelum jam pulang," sahut Catherine seraya meringis menahan sakit.
"Aku yang memintamu untuk pergi ke rumah sakit, lagipula kau sakit kan? Memangnya kau mau menahan sakit selama bekerja? Jika terjadi sesuatu denganmu, siapa yang akan bertanggung jawab?"
Catherine pun diam.
"Ayo, biar aku antar." Ajak tuan Haxel.
"Bagaimana kalau Catherine pergi denganku saja, tuan? Biar ikut mobilku saja. Takutnya kau ada meeting penting dengan klien mendadak," usul Alena.
"Aku tidak ada jadwal meeting dengan siapapun hari ini. Jadi, kita ke rumah sakit sekarang dan kau tetap ikut mengantar temanmu ini."
Tanpa pikir panjang lagi, Catherine pun mengangguk setuju. Yang terpenting Alena ikut bersamanya.
Usai membayar tagihan makanan, mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama milik tuan Haxel. Sementara mobil Alena di tinggal di restoran tersebut.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Catherine terus saja merintih meringis kesakitan. Keringat terus bercucuran dan wajahnya sedikit pucat.
"Cath .." panggil Alena lirih.
"Hm .." jawab Catherine seraya menahan rasa sakitnya.
"Cath .." panggil Alena lagi.
Mau tidak mau, Catherine pun membuka mata yang sebelumnya terpejam.
"Apa, Alena ..?"
"Perutmu sakit sekali, ya?"
Catherine berdecak. Pertanyaan boddoh macam apa itu? Apa Alena tidak bisa melihat dirinya kesakitan.
"Alena .. Berhenti bercanda .. Perutku sakit sekali ini."
"Sesakit apa?" tanya Alena penasaran.
"Entahlah, aku merasakan mules yang luar biasa hebatnya."
Catherine memejamkan matanya kembali seraya menyandarkan punggungnya di jok. Mereka duduk di jok belakang kemudi.
"Cath .." Panggil Alena lagi setengah berbisik.
"Apalagi, Alena?" sahut Catherine tanpa membuka matanya.
"Apa kau sedang kontraksi?"
Catherine refleks membuka matanya hingga melotot menatap sahabatnya.
"Apa kau sudah gila! Memangnya aku hamil sama siapa?" seru Catherine dengan lantang sehingga membuat fokus menyetir tuan Haxel tersita sebagian dan melihat kedua wanita yang duduk di belakang dari kaca spion yang menggantung.
Sadar dengan ucapannya, Catherine segera mengatupkan bibir. Khawatir jika tuan Haxel akan berpikir yang macam-macam tentang dirinya. Ia menatap Alena, andai Alena tidak memancing dirinya, mungkin perkataan itu tidak akan keluar dari mulutnya.
_Bersambung_