
Malamnya, Alena tengah video call dengan Catherine. Sahabatnya bilang jika besok dia sudah bisa masuk kerja. Alena senang karena jujur ia kesepian tanpa Catherine.
Tiba-tiba ia mendapat panggilan masuk dari kontak yang ia beri nama tuan Haxel.
"Cath, sudah dulu, ya. Ada panggilan masuk."
"Ok, see you tomorrow, Alena."
"Iya, see you too."
Keduanya saling melambaikan tangan ke kamera dan panggilan telepon otomatis berakhir ketika Alena menjawab panggilan masuk dari tuan Haxel.
"Halo, Alena."
"Iya, tuan. Ada apa meneleponku malam-malam?"
"Aku sudah di depan gerbang rumahmu. Bisa kita ketemu sebentar?"
"Hah?" Alena sontak terkejut, kenapa pria itu datang lagi ke rumahnya.
Haxel mengubah panggilan suara menjadi panggilan video call. Alena pun menerimanya, pria itu memperlihatkan rumahnya. Ia segera berjalan menuju jendela dan melihat ke luar untuk memastikan. Dan benar saja, terdapat mobil di luar gerbang rumahnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa kau temui aku?"
Alena merasa gugup dan tidak tahu harus apa. Mana posisinya ia sudah memakai piyama blouse karena bersiap untuk tidur usai video call dengan Catherine.
"Apa ini penting?" tanya Alena kemudian.
"Ya."
"Sepenting apa?"
"Nanti aku akan memberitahumu. Sekarang kau bisa temui aku?"
Alena bingung harus jawab apa. "Apa tidak bisa di bicarakan besok saja di kantor? Ini sudah malam, tuan."
"Ya sudah."
"Kalau begitu aku akan masuk dan meminta izin pada orang tuamu agar aku bisa menemuimu."
"Hah?"
Kedua mata Alena melotot sempurna, kenapa dia senekad itu? Memangnya apa yang ingin dia bicarakan padanya?
"Ah baiklah, kalau begitu aku saja yang menemuimu. Tunggu sebentar, aku akan ke sana."
"Ok, aku tunggu."
Haxel mematikan sambungan video call nya. Mau tidak mau, Alena pun menemui pria itu usai melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
Haxel melihat Alena berjalan ke luar gerbang. Ia segera membuka kaca jendela pintu mobil samping begitu Alena datang.
Alena membungkukan setengah badan untuk melihat pria itu dari pintu mobil yang kacanya sudah terbuka.
"Apa aku harus masuk ke dalam?"
Alih-alih menjawab pertanyaan wanita itu, Haxel malah gagal fokus pada piyama blouse yang di kenalan oleh Alena karena memperlihatkan bellahan dada yang menyembul keluar cukup jelas.
Haxel segera mengalihkan pandangannya pada wajah wanita itu. "Iya, tentu saja."
Alena pun membuka pintu mobilnya lalu masuk. Haxel berusaha untuk itu menatap ke bagian itu. Tapi perhatiannya beralih pada panjang piyama blouse tersebut yang hanya sebatas pahha. Sehingga ketika di bawa duduk, maka panjangnya akan lebih berkurang dan memperlihatkan pahha mulus milik wanita itu. Sebagai pria yang normal, tentu saja ia merasakan desiran yang membuatnya sedikit gerah.
"Sekarang katakan, tuan. Apa yang ingin kau bicarakan denganku sampai nekad datang ke rumah malam-malam bahkan berniat untuk meminta izin pada papa mama agar bisa bertemu denganku?" tanya Alena tanpa basa-basi.
Haxel berusaha menahan diri agar tidak terjebak dalam ke dalam gelora tubuh Alena yang menggoda.
"Kenapa Glen bisa berpaling darimu?"
"Hm?" Kening Alena sontak saja berkerut mendapati pertanyaan itu.
Pertanyaan macam apa itu sampai dia rela datang ke sini hanya untuk mempertanyakan hal tidak penting ini? Batin Alena.
_Bersambung_