OH MY DUDA

OH MY DUDA
Penyelamat Datang



"Kesempatan kedua itu tidaklah ada. Kau mendapatkannya karena kau pelayan khusus dia kan?"


"Jaga ucapanmu!" Alena mulai terpancing.


"Aku bicara benar bukan? Bukan hanya aku saja, karyawan yang lain pun sering melihat kau berangkat bersama tuan Haxel. Pergi makan siang bersama, dan pulang bersama. Aku rasa tidak hanya sekedar itu, aku yakin di luar kantor kalian pun pasti bersama dan mendatangi kamar untuk melakukan hubungan khusus."


Plaakkk ..


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi wanita itu. Semua yang ada di sana cukup kaget melihatnya. Melihat Alena seberani itu. Karena jujur, Alena sudah tidak tahan dengan tuduhan wanita itu.


"Tutup mulutmu atau aku akan merobeknya!" ancam Alena seraya menunjuk wajah wanita itu.


Nyali wanita itu seketika turun, ia tidak menyangka jika Alena bisa kasar padanya. Ia tidak terima dengan perlakuan Alena, ia harus membalas perbuatannya.


"Alena, awass!!" seru Catherine dan ia menarik tubuh Alena ke belakang, menjadikan dirinya sebagai tameng untuk sahabatnya.


Dan di saat yang bersamaan, Haxel datang dan segera mengambil benda yang hendak seorang wanita layangkan ke arah Alena.


Hampir semua karyawan yang menyaksikannya mulai bisik-bisik dengan kedatangan atasan mereka.


"Tuan Haxel," ucap Catherine lirih dan membuka mata Alena yang semula terpejam.


Wanita yang hendak melayangkan benda pada Alena pun menoleh pada seseorang yang berusaha menghentikan aksinya.


"Setitik darah saja keluar dari tubuh Alena, maka hidupmu akan di atur oleh polisi. Dan akan aku pastikan kau menyesalinya."


Ancaman pria itu cukup membuat wanita itu ketakutan. Sepertinya tuan Haxel memang tidak main-main dengan ucapannya. Tidak mau urusannya menjadi panjang, maka ia memutuskan untuk pergi dari sana.


Catherine menghela napas lega, akhirnya wanita itu pergi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Haxel seraya meraih tangan Alena untuk memastikan jika wanita itu tidak menyentuh dirinya.


Alena mengangguk. "Iya, terima kasih sudah menyelamatkan aku darinya. Terima kasih juga Cath, kau baru saja mengambil resiko yang bisa mencelakai dirimu."


"Iya, Alena. Sama-sama. Bagaimanapun aku ini sahabatmu. Dan sudah seharusnya seorang sahabat saling melindungi."


Alena jadi merasa bersalah karena sudah sempat mencurigai Catherine tadi.


Haxel melihat para karyawannya berdiri dan memandang dirinya bersmaa Alena dengan tatapan tidak biasa.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Sudah tidak mau bekerja di sini?"


"Mau, tuan," jawab mereka hampir bersamaan dan lekas duduk kembali.


Haxel memastikan jika semua karyawannya kecuali Alena dan Catherine melanjutkan pekerjaannya. Tidak ada lagi di antara mereka yang berani menatap ke arahnya.


"Inilah alasan kenapa aku harus selalu berada di dekatmu. Karena aku harus bisa menjaga dirimu dari bahaya yang mengintai," ucapnya lirih.


"Iya, sekali lagi terima kasih," ucap Alena.


"Silahkan lanjut lagi kerjanya. Nanti seperti biasa, aku tunggu di mobil."


Alena mengangguk.


"Dan untukmu, Catherine. Nanti kau bisa ikut makan siang bersama kami."


Binar bahagia terpancar di wajah Catherine. Tentu saja ia menerima ajakan tersebut.


"Baik, tuan."


"Iya, silahkan lanjut kerja lagi. Aku mau pergi keluar sebentar."


"Kemana?" tanya Alena tanpa sadar, padahal itu sama sekali bukan urusannya.


Wanita itu segera mengatupkan bibirnya ketika Catherine menatap dirinya dengan senyum-senyum.


"Aku mau meeting dengan klien sebentar."


"Oh."


"Iya, aku pergi dulu, ya."


Alena pun mengangguk dan Haxel pun pergi.


Setelah pria itu pergi, Alena dan Catherine duduk kembali di kursi masing-masing.


"Ehemm .. Ada yang mulai serba ingin tahu apa saja kegiatan ayang," goda Catherine seraya melirik ke arah Alena, dan itu berakhir dengan cubitan di lengan.


"Aaaa .." Catherine spontan berteriak.


"Katakan sekali lagi, maka aku akan mencubit lenganmu lebih keras daripada ini."


"I-iya ampun, maaf. Maaf .. Maafkan aku nyonya Haxel."


Dan Alena pun memberi cubitan yang lebih keras lagi.


"Aaaaaaaaa ..."


_Bersambung_