OH MY DUDA

OH MY DUDA
Hampir Dalam Bahaya



Setelah berulang kali berpikir, Haxel memutuskan untuk pergi ke kafe Gardani, tempat dimana Alena ketemuan dengan Glen. Karena bagaiamanapun ia harus memastikan apakah Alena masih berhubungan dengan pemilik perusahaan yang bekerja sama dengannya atau tidak. Jika memang masih benar berhubungan, maka apa yang di katakan oleh Alena selama ini hanya karangan belaka demi mendapatkan empati agar tetap bisa bekerja di perusahaannya.


Sampai di kafe tersebut, Haxel melihat Alena bersama sahabatnya tengah berjalan dengan langkah tergesa. Dan melihat seseorang tengah mengejar langkah mereka.


"Alena? Kenapa dia begitu terburu-buru?" pikirnya saat masih berada di dalam mobil halaman parkir kafe Gardani.


"Alenaaa .."


Haxel menoleh ke sumber suara begitu mendengar seseorang meneriakkan nama Alena. Ia melihat Glen berusaha mengejar Alena dan Catherine.


Tidak ingin sesuatu buruk terjadi, ia pun segera turun dari mobil ketika Alena dan sahabatnya melewati mobilnya.


"Aaaaaaa .." Alena memekik pada saat seseorang menarik pergelangan tangannya.


"Ikut denganku, Alena," ucap pria itu.


Alena di bawa masuk ke dalam mobil. Tidak hanya itu, ia pun meminta Catherine untuk ikut masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Alena dan Catherine masuk ke dalam mobilnya, Haxel pun segera menghidupkan mesin mobil untuk pergi dari sana sebelum Glen melihat mereka.


"Alenaaa .." teriak pria itu seraya mencari keberadaan sosok wanita yang saat ini sudah tidak lagi terlihat.


Glen mengedarkan pandangannya dan berhenti pada mobil berwarna lilac yang tentu saja tidak asing baginya. Ia bergegas menuju mobil itu untuk memastikan apakah Alena ada di dalam mobilnya atau tidak.


Perhatiannya sementara teralih pada mobil yang baru saja meninggalkan parkiran. Ia merasa mobil itu sangat familiar baginya. Akan tetapi ia tidak begitu memperdulikannya. Ia harus ke mobil Alena untuk mengecek keberadaan wanita itu.


"Alena.."


Glen mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil itu seraya mengintip ke dalam. Mencarinya baik-baik namun Alena tidak ada.


"Kemana dia?" pikirnya setelah memastikan Alena tidak ada di dalam mobilnya.


"Aarrghhh .." Glen melampiaskan kekesalannya dengan cara menendang ban mobil milik wanita itu.


"Padahal ini kesempatan bagus agar aku bisa kembali bersama dengan Alena. Jika Olive saja bisa membuat aku menjadi miliknya dengan cara mengaku hamil, mungkin aku bisa menggunakan cara itu."


Sebelah sudut bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyum seringai yang mengerikan. Ketika cinta berubah menjadi sebuah obsesi, itu yang membahayakan.


Haxel menepikan mobilnya setelah pergi jauh dari kafe tadi. Ia memastikan apa yang telah terjadi pada mereka.


Haxel menghela napas kecil. Merogoh sesuatu di saku jasnya dan memberikannya pada Alena.


Alena tentu saja kaget, kenapa ponselnya ada pada pria itu. Melihat kebingungan di wajah Alena, Haxel pun menjelaskan.


"Aku melihat ponselmu terjatuh saat kau masuk ke dalam mobilmu tadi. Begitu aku mau memberitahu, kau sudah pergi. Dan aku tidak sengaja membaca pesan dari GS di ponselmu."


"Iya, tidak apa-apa. Aku justru berterima kasih padamu, tuan. Aku tidak tahu nasibku akan jadi seperti apa jika kau tidak datang."


"Jadi GS itu Glen Smithson?"


Alena mengangguk sekali.


"Kau masih berhubungan dengannya?"


Alena menggeleng. "Aku berniat untuk memberi peringatan terakhir padanya, supaya tidak lagi mengganggu hidup aku. Setelah tuan bilang jika bukan kau yang mengirim pizza untukku kemarin, aku berpikir jika itu Glen. Dan ternyata benar, jika dia yang melakukannya."


"Lalu kenapa dia tadi mengejarmu? Apa terjadi perdebatan?"


Alena sontak diam. Ia tidak mungkin mengatakan jika Glen kehilangan akal sehatnya dan berniat untuk memperkaosnya.


Diamnya Alena membuat Haxel seketika paham jika Glen memiliki niat buruk.


"Lain kali jangan pernah temui dia lagi. Jika kau bertemu dengannya di jalan secara tidak sengaja, kau harus segera menghindar. Rupanya dia memang bukan pria yang baik. Jadi kau harus bersyukur di pisahkan dengan pria itu," tutur Haxel di angguki oleh Alena.


"Baik, tuan," jawab Alena.


"Tapi bukankah dia orang yang bekerja sama dengan perusahaanmu, tuan?" timpal Catherine.


Haxel melihat ke arah Catherine dari kaca spion yang menggantung di atasnya.


"Aku akan memikirkannya lagi untuk itu. Terima kasih sudah mengingatkan."


"Sama-sama, tuan," sahut Catherine.


Haxel kembali beralih pada Alena. Perhatian nya tersita pada jemari wanita itu yang tampak gemetar. Sepertinya Alena cukup ketakutan dengan apa yang baru saja di alami. Dan rupanya ini cukup serius.


_Bersambung_