OH MY DUDA

OH MY DUDA
Membuat Kesepakatan



Catherine sedikit takut begitu sekretaris tuan Haxel memanggilnya untuk datang ke ruangan atasannya. Ia mengingat-ingat apa pernah melanggar aturan ataupun membuat kesalahan kemarin. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan kesalahan. Ia berusaha untuk disiplin dan menjadi karyawan yang baik.


"Aduh .. Bagaimana ini? Mana Alena lagi di toilet lagi. Aku harus bagaimana?" gumam wanita itu seraya merremmas jemarinya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Tuan Haxel menunggu, jadi ayo ikut aku ke ruangannya," ujar sekretaris itu lagi.


Catherine berusaha menguatkan mental dan memperbesar keberanian untuk bertemu dengan tuan Haxel. Meski sebelumnya ia mengenal pria itu cukup baik saat bersama Alena, tapi tetap saja ia tidak berani jika harus menghadap sendirian.


"Baik," jawabnya kemudian setelah beberapa saat terdiam.


Catherine pun bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mengikuti langkah sekretaris tersebut. Sampai di lantai teratas, ia terus memanjatkan do'a agar sesuatu buruk tidak terjadi padanya.


Langkahnya mendadak berat ketika masuk ke ruangan pemimpin besar perusahaan. Terdengar sekretaris itu mengatakan jika dia telah membawa seseorang yang atas perintahnya. Ia jadi merasa semakin takut. Terlebih saat sekretaris itu kini keluar meninggalkan dirinya di ruangan tersebut bersama tuan Haxel.


"Alena tahu kau di panggil kemari?" tanya pria itu seraya memutar kursi kebesarannya.


Catherine menggeleng. "Alena sedang ke toilet. Jadi dia tidak tahu, kalau tahu maka aku akan memintanya untuk menemaniku kemari."


"Kenapa? Kau takut?"


Wanita itu mengangguk. "Apa aku terlihat begitu menakutkan?"


Catherine menggeleng.


"Lalu kenapa kau takut padaku?"


"Aku khawatir telah membuat kesalahan."


"Apa kau merasa melakukannya?"


Catherine kemudian mendongak. Memberanikan diri untuk menatap wajah pria di depannya.


"Melakukan apa?" tanyanya kemudian.


"Kesalahan."


Lalu wanita itu diam lagi untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia menampik.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun."


Haxel mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Untuk apa kau mengkhawatirkannya jika tidak merasa melakukannya."


Apa yang di katakan oleh pria itu ada benarnya juga. Kenapa ia mesti takut jika tidak membuat kesalahan.


"Iya, tuan. Lalu ada perlu apa tuan sampai memanggilku ke ruangan ini?"


Mendapat pertanyaan demikian, Haxel lekas bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Catherine yang berdiri sejauh tiga meter dari tempat duduknya.


"Sejauh apa persahabatanmu dengan Alena?"


"Apa kau benar-benar sahabat yang baik untuk Alena?"


"Oh, tentu. Tuan meragukannya?"


"Bagus kalau begitu. Jika kau teman yang baik untuk Alena, maka apa kau akan melakukan apapun demi kebaikannya?"


Catherine tertegun lantaran tidak sampai dengan kalimat Haxel barusan.


"Apa maksudnya?"


Haxel terdengar menghela napas berat.


"Apa kau bersedia untuk tidak memberi tahu Alena jika kau menemui aku di ruangan ini?"


"Kenapa?"


"Jika kau teman yang baik, maka kau akan melakukan apa yang aku minta."


Catherine memicingkan kedua matanya menatap pria yang saat ini berdiri di hadapannya dengan tatapan curiga.


"Apa kau memiliki niat buruk, tuan?" tanya wanita itu lirih dengan nada curiga.


"Setelah apa yang aku lakukan untuk kalian, apa aku kelihatan buruk?"


Catherine kemudian menggeleng.


"Lalu atas dasar apa kau mencurigaiku? Masih ingin bekerja di sini bukan?"


Catherine mulai panik mendengar kalimat terakhir pria itu.


"Ah tentu saja. Jika bukan di sini, aku harus bekerja dimana lagi? Aku tidak mau di pisahkan dengan Alena." Catherine menelungkupkan tangannya memohon.


"Baiklah, kalau begitu apa kau bersedia melakukan apa yang aku minta? Ini tidak gratis, cukup katakan apa yang kau inginkan maka aku akan mengabulkannya."


Binar bahagia mulai terlihat di wajah Catherine. "Sungguh?"


"Ya. Bagaimana, deal?"


Catherine hendak menjabat tangan Haxel yang terulur padanya. Hanya saja urung begitu ia sadar akan sesuatu.


"Katakan terlebih dahulu apa yang harus aku lakukan, tuan?" tanya wanita itu.


Pria itupun mengatakan apa yang harus di lakukan olehnya. Awalnya Catherine merasa keberatan, tapi itu merupakan sesuatu yang bagus juga. Sebagai teman, ia akan melakukan apapun demi kebaikan temannya. Ia pun menjabat tangan Haxel.


"Deal."


_Bersambung_