OH MY DUDA

OH MY DUDA
Ceroboh



Alena mendorong tubuh Haxel menjauh agar terlepas dari pelukannya. Ia masih syok dengan perlakuan pria itu yang tiba-tiba. Ia putuskan untuk pergi keluar dari ruangan tersebut tanpa mengatakan sepatah kata.


Haxel sendiri tidak mengatakan apapun. Ia tidak marah lantaran Alena berani mendorong tubuhnya. Ia tatap kepergian Alena sampai wanita itu hilang dari jangkauan mata.


Di lift, Alena merutuk. Ia masih tidak menyangka jika pria itu akan melakukan hal itu padanya.


"Ada masalah apa dengannya sebenarnya? Dia mencurigaiku, kemudian malah memelukku. Rupanya dia salah minum obat. Dia harusnya minum obat tablet, tapi sepertinya dia malah minum obat sirup."


Alena bergidik. Dan sialnya, ia malah teringat akan pembicaraannya dengan Catherine kemarin siang di restoran.


"Aku rasa kau harus melupakan Glen dan tidak ada salahnya juga jika kau bersama dengan tuan Haxel."


Alena segera menepis pikiran itu. Namun hal itu terus saja mengganggu pikirannya.


Ting ..


Pintu lift terbuka. Ia sudah sampai di lantai kubikel tempat karyawan bekerja. Senyuman dan lambaian tangan Catherine menyambutnya.


"Jadi bagaimana, Alena? Apa kau masih bisa bekerja di sini atau kau di pecat?"


Pertanyaan Catherine mengundang perhatian beberapa karyawan lain. Wanita itu segera mengatupkan bibirnya lantaran ia takut kehilangan uang dua kali lipat yang akan di ganti oleh sahabatnya itu.


"Maaf .." ucap Catherine kemudian.


Alena pun duduk di kubikel nya. Catherine melihat ke arah karyawan lain yang sudah kembali fokus pada layar komputer masing-masing.


"Jadi bagaimana, Alena? Apa kau masih bisa bekerja di sini atau kau di pecat?" ulang Catherine namun dengan cara berbisik.


Alih-alih mendapat jawaban, Catherine justru mendapat tatapan tajam dari Alena.


"Iya, maaf .. Aku hanya penasaran," ucap Catherine lagi.


Lantaran tidak ingin kehilangan uang dua kali lipat dari Alena, Catherine pun memilih untuk diam. Meski sejujurnya ia sangat penasaran apa yang terjadi di ruang tuan Haxel tadi. Apakah sahabatnya masih bisa bekerja dengannya atau justru ini hari terakhir ia duduk bersebelahan dengan Alena. Entahlah, Alena membuatnya mati dalam rasa penasaran.


"Jadi kau menceritakan tentang Glen pada tuan Haxel?"


"Aku tidak sampai menyebut namanya."


Catherine mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku pikir kau mengatakan siapa kekasih yang kau ceritakan padanya."


"Aku rasa itu tidak perlu," jawab Alena.


Mereka melanjutkan makan siang. Kali ini memesan menu yang berbeda. Sementara Catherine masih setia dengan menu yang dia pesan selama seminggu terakhir.


"Ah iya, Alena. Aku jadi teringat pembicaraan tuan Haxel dan sekretarisnya pagi kemarin. Mereka bilang mau meeting dengan Glen. Apa jadinya ya jika Glen yang mereka maksud itu adalah mantan kekasihmu. Dan bagaimana reaksi tuan Haxel jika kau menyebut nama Glen dalam ceritamu."


"Aku tidak menyebutkan namanya saja reaksinya sampai memelukku. Apalagi jika aku sebutkan namanya," ucap Alena tanpa sadar.


Dan lihatlah reaksi Catherine sekarang, dia tampak seperti ikan kekeringan.


"What? Tuan Haxel memelukmu?"


Alena sontak tersadar, ia menatap sekeliling pengunjung memastikan jika mereka tidak mendengar apa yang di katakan oleh Catherine barusan. Beruntung mereka sibuk dengan makanan dan ponsel di tangan masing-masing.


Catherine mencondongkan badannya.


"Alena, katakan sekali lagi padaku. Tuan Haxel sungguh memelukmu?"


Alena kelabakan. Entahlah, ia bingung harus mengatakan apa. Ia benar-benar ceroboh sekali. Kenapa ia bisa mengatakan hal itu pada Catherine. Setelah ini Catherine pasti akan terus mengojok-ojoki dirinya.


"Ah, sial. Kenapa aku harus mengatakannya pada Catherine," gerutu Alena dalam hati.


_Bersambung_