
Semakin lama Haxel semakin gelisah. Jika perkiraannya benar, lalu datang salah satu orang tua Alena dan menanyakan siapa dirinya sebelum Alena memberi tahu, maka ia harus jawab apa?
"Jika lima menit lagi Alena belum juga kembali, maka aku akan pamit pulang saja pada asisten rumah yang tadi," ujar pria itu.
Tidak berapa lama kemudian, Alena kembali bersama dua orang yang ia pikir itu adalah kedua orang tuanya. Namun, perhatiannya tersita pada pria yang berjalan ke arahnya paling belakang.
"Kenapa wajahnya familiar sekali, ya?" batin Haxel seraya bangkit berdiri dari duduknya ketika tuan rumah datang.
"Selamat malam, om, tante," sapa Haxel dengan seulas senyum.
"Malam," balas nyonya Alfi.
Sementara tuan Azel masih tertegun, ia merasa pernah bertemu dengan pria yang saat ini ada di hadapannya.
"Apa kau putra tuan Atarna?" tanya tuan Azel kemudian dan di angguki oleh Haxel.
"Benar, kita pernah bertemu sebelumnya di acara papa saat mengundang para petinggi perusahaan," jawab Haxel.
Raut wajah tuan Azel berubah senang. Dan ternyata benar jika mereka pernah bertemu sekali sebelumnya.
"Ah iya, iya. Kau benar. Pantas saja wajahnya tidak asing. Rupanya kau putra tuan Atarna."
"Iya, om," jawab Haxel antusias.
Alena tidak menyangka jika papanya pernah bertemu Haxel sebelumnya. Kemudian nyonya Alfi mempersilahkan Haxel untuk duduk kembali.
"Apa kabar tuan Atarna? Terakhir saya dapat kabar jika beliau jatuh sakit," tanya tuan Azel lagi, sebab hubungan antara dia dengan papanya Haxel cukup dekat.
"Papa baik, hanya saja sekarang tidak bisa kemana-mana karena di bantu kursi roda."
"Kenapa?" tanya pria paruh baya itu sedikit terkejut mendengarnya.
"Jadi pada saat papa di larikan ke rumah sakit, sebelumnya habis jauh di toilet apartemen. Tukang ekornya bermasalah hingga mengalami kelumpuhan."
"Iya, terima kasih," ucap Haxel.
Alena dan mamanya hanya diam melihat kedua pria di depannya tampak sangat akrab seperti orang yang sudah kenal lama.
"Ah iya, bukankah kau sudah menikah?" tanya tuan Azel lagi namun dengan intonasi sedikit berhati-hati.
Haxel seketika menoleh ke arah Alena. Sebelum kemudian menjawab pertanyaan tuan Azel.
"Iya, sudah. Tapi sudah cerai juga."
Jawaban Haxel membuat tuan Azel merasa segan lantaran tanpa sengaja membuka luka hati pria itu.
"Oh, begitu. Maaf sebelumnya, saya tidak tahu," ucap tuan Azel.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Haxel.
"Ah iya, tadi Alena sudah menceritakan apa yang terjadi pada kami. Kami sebagai orang tua Alena berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan putri kami dari Glen," ucap tuan Azel kemudian pada inti pembicaraan.
Haxel pun mengangguk. "Iya, sama-sama. Itu juga karena kebetulan ponsel Alena terjatuh dan aku tidak sengaja membaca pesan masuk dari inisial GS. Karena Alena sebelumnya pernah menceritakan sedikit tentang masalalunya, jadi aku menduga GS itu adalah Glen Smithson. Pria yang mengkhianati Alena demi menikahi wanita yang merupakan sepupu Alena sendiri."
"Iya, kami sangat berterima kasih sekali nak Haxel. Beruntung kau datang di waktu yang tepat. Jika tidak, kami tidak tahu nasib putri kami akan seperti apa," timpal nyonya Alfi.
"Iya, tante. Sama-sama."
"Sebagai bentuk rasa terima kasih kami, kita makan malam bersama untuk malam ini."
"Iya, tante. Terima kasih," ucap pria itu.
Haxel melirik ke arah Alena, wanita itu melempar seulas senyum tipis padanya. Haxel pun membalas senyuman itu hingga tanpa sadar sepasang mata mereka bertemu untuk seperkian detik, sebelum nyonya Alfi menyadarkan mereka untuk segera pergi menuju ruang makan. Kebetulan sudah jam tujuh lebih, takut kemalaman.
_Bersambung_