
"Kenapa Glen bisa berpaling darimu?"
"Hm?" Kening Alena sontak saja berkerut mendapati pertanyaan itu.
Pertanyaan macam apa itu sampai dia rela datang ke sini hanya untuk mempertanyakan hal tidak penting ini? Batin Alena.
Haxel merutuki diri dalam hati karena bisa-bisanya bersikap boddoh di depan Alena yang notabene karyawannya.
"Maksudku bukan begitu, Alena. Tolong jangan salah paham. Jadi aku datang ke sini karena tadi siang aku meeting dengan perusahaan yang nantinya akan bekerja sama dengan perusahaanku yang di pimpin oleh tuan Glen. Dan begitu aku bertemu dengannya tadi di kafe, aku tidak sengaja melihat fotomu di jadikan wallpaper di hp nya. Padahal yang aku tahu dia sudah menikah," jelas pria itu agar Alena tidak salah paham dengannya.
Iris mata Alena melebar. Jujur, ia pun kaget mendengarnya.
"Itu artinya tuan Glen yang meeting bersamaku adalah Glen yang sama dengan mantan kekasihmu?" tanya Haxel lagi.
Alena bergeming. Ia pun baru tahu pasti jika Glen yang pria itu maksud ketika ia tidak sengaja mendengar mereka akan meeting di hari setelah pernikahan Glen dengan sepupunya, ternyata memang Glen mantan kekasihnya.
Tapi, tunggu. Kenapa pertanyaan pria itu serasa ada janggal?
"Kenapa kau memastikan jika Glen yang meeting denganmu adalah Glen yang sama dengan Glen mantan kekasihku? Bukankah seharusnya kau mengetahuinya sejak kau mengetahui nama mantan kekasihku?"
Haxel langsung terdiam. Ia lupa jika tidak seharusnya menanyakan hal itu. Ia harusnya cukup memberi tahu soal foto itu saja.
Kedua mata Alena memicing, melihat ada suatu kebohongan dari wajah pria itu.
"Jadi sebenarnya apa kalian masih ada hubungan?" tanya Haxel kemudian.
Alena menghela napas. Ia menatap wajah pria di sampingnya sedikit heran.
"Apa itu penting bagimu, tuan? Sampai kau ke sini malam-malam?" Alena balik bertanya.
"Jelas ini penting bagiku. Karena ketika kau melanggar peraturan perusahaan, kau menggunakan alasan tentang hubunganmu. Sampai bawa-bawa seekor kelinci juga. Oleh karena itu aku mau memberi kesempatan kedua untukmu bekerja."
Alena sedikit memutar badannya sampai benar-benar menghadap Haxel. Pria itu mundur sedikit karena Alena sudah membuat pikirannya terbang melihat tubuhnya.
"Tuan Haxel, apa yang aku katakan pada saat itu semata bukan karena supaya aku mendapat kesempatan kedua agar tetap bisa bekerja di perusahaanmu. Aku mengatakan apa adanya. Dan untuk masalah hubungan antara aku dengan Glen sudah tidak ada apa-apa. Mengenai foto aku di ponselnya, aku tidak tahu apa-apa. Mungkin karena dia belum bisa move on dariku. Salah satu alasan dia selingkuh dengan sepupuku karena aku tidak bisa memberikan apa yang sepupuku berikan untuknya sampai sepupuku akhirnya hamil. Jadi jika kau menganggap aku beralasan bohong hanya sekedar mendapat kesempatan kedua, itu pemikiran yang salah besar. Aku saja bisa mengatakan jika aku tidak sempat mandi tadi pagi karena kesiangan, lalu bagaimana mungkin aku berbohong di situasi seperti waktu itu?"
Haxel seketika bergeming. Kalimat pertanyaannya yang pertama sudah di jawab oleh Alena dan pikirannya sudah terpatahkan. Ternyata Alena tidak seperti yang ia pikirkan beberapa menit lalu.
Alena cantik, memiliki tubuh yang indah, tapi alasan kenapa Glen bisa berpaling mungkin memang karena Alena tidak dengan mudahnya memberikan kehormatannya. Dan mungkin karena dia mau tidur juga jadi memakai pakaian seperti itu. Tentunya karena ia datang tidak tahu waktu, disaat jam orang lain hendak beristirahat.
_Bersambung_