
Hari ini hidup Alena terasa sepi. Biasanya ada Catherine yang mencairkan suasana. Akan tetapi kubikel di sebelahnya kosong, sahabatnya tidak masuk kantor hari ini lantaran sakit perutnya masih terus berlanjut. Fokus kerjanya pun sebagian hilang akibat melihat unggahan foto semalam. Semua orang bisa mengatakan dengan mudahnya untuk melupakan Glen, namun nyatanya sangat sulit. Karena bagaimanapun perpisahan itu terjadi karena tiba-tiba. Dan sampai saat ini ia masih tidak menyangka jika Glen menikahi sepupunya.
"Ayolah, Alena .. Lupakan dia .. Kau tidak boleh seperti ini. Kau pasti bisa, pasti bisa."
Alena berusaha meyakinkan diri jika ia mampu menghilangkan perasaan dan melupakan semua kenangan bersama pria itu. Lagipula sekarang ia sudah tahu sifat asli Glen. Pria itu tidak sebaik yang ia kira.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" pertanyaan seseorang membuat Alena mendongakan wajahnya dan melihat ke sumber suara.
"Tuan Haxel?" Alena terkejut ketika pria itu tiba-tiba ada di sana, ia sama sekali tidak melihat kedatangan pria itu sebelumnya.
"Aku melihatmu dari kejauhan. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi bekerjamu. Jika ada masalah, sebaiknya kau tidak masuk kantor. Kau bisa izin, daripada fokus kerjamu hilang yang justru akan membuat kinerjamu tidak bagus," saran tuan Haxel dan menyita perhatian karyawan lain yang ada di sana.
Alena menoleh ke sekitar, kini ia tengah menjadi pusat perhatian mereka. Setelah ini ia pasti akan menjadi buah bibir bahan pembicaraan mereka saat makan siang.
"Kenapa kalian semua menatap ke arahku?" ujar Haxel dengan nada dingin.
Mereka semua menunduk. Tidak ada lagi yang berani menatap ke arah Haxel.
"Lanjut bekerja! Dan jika di antara kalian memiliki masalah juga seperti Alena, maka sebaiknya tidak perlu masuk kantor. Ini berlaku untuk kalian semua. Paham?!" ucap Haxel tegas.
"Paham, tuan." jawab mereka serempak.
Mendengar pria itu berbicara tegas, sebagai seorang bawahan Alena ikut takut juga. Ia diam menunduk.
"Lanjut lagi bekerja!" perintah Haxel dan di angguki oleh Alena.
"Baik, tuan."
"Dan jangan lupa untuk makan siang denganku lagi nanti di restoran kemarin," tambah pria itu setengah berbisik.
Kedua mata Alena membulat sempurna. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal demikian di saat semua orang mulai curiga pada mereka akan hal barusan. Alena mengangkat wajahnya dan pria itu sudah pergi dari sana.
"Alena .." panggil salah satu dari mereka yang kubikelnya berada di belakang.
Alena menoleh. "Iya."
"Kemarin kau dan Catherine kemana? Kenapa kalian tidak kembali setelah makan siang?"
Alena berpikir sejenak agar tidak salah bicara, sebab ia tipe orang yang kadang suka keceplosan kalau ngomong. Karena ia tidak pandai untuk berbohong.
"Kemarin Catherine sakit perut dan aku mengantarnya ke rumah sakit. Jadi Catherine tidak masuk hari ini karena masih sakit," jawab Alena.
"Apa kau sudah izin pada tuan Haxel?"
"Iya, tentu saja."
"Kenapa kau bisa semudah itu mendapatkan izin dari tuan Haxel? Sebelumnya kau juga pernah pulang tanpa izin tapi kau tidak di pecat dari perusahaan ini. Padahal sudah tertulis jelas di aturan. Siapapun yang melanggar maka akan menanggung konsekuensinya."
Alena berusaha menyusun kata agar tidak sampai membuat mereka semua curiga padanya.
"Aku memiliki alasan yang bisa di terima oleh tuan Haxel. Jadi beliau masih memberi aku kesempatan untuk bekerja di sini."
"Apa sebenarnya kau ada hubungan khusus dengannya?"
Pertanyaan itu membuat Alena mulai kesal. Kenapa mereka bertanya seolah menyudutkannya.
"Maaf, kalian berpikir terlalu jauh. Jika kalian ingin membuktikan kalau ada kesempatan kedua untuk bekerja di sini, silahkan langgar peraturan di sini. Dan berikan alasan selogis mungkin yang mampu di terima oleh tuan Haxel, agar kalian tidak mencurigaiku seperti ini. Bekerja di sini memang pilihanku, tapi di beri kesempatan untuk bekerja di sini bukan atas keinginanku dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hubungan antara aku dengan tuan Haxel. Jadi, tolong jangan bersikap seolah-olah kalian dengan memojokanku," ucap Alena dengan tegas dan mereka semua diam.
Alena berusaha mengontrol dan mengendalikan diri agar emosinya tidak terpancing. Karena ia hanya manusia biasa yang emosinya bisa meledak kapan saja.
_Bersambung_