OH MY DUDA

OH MY DUDA
Perkelahian



Raut wajah Alena berubah seketika melihat ada sebuah mobil yang tiba-tiba datang melewati pintu gerbang begitu mobil Haxel siap untuk pergi. Dan mobil tersebut tentu saja tidak asing baginya.


"Glen?" pikirnya.


Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas untuk masuk ke dalam rumah. Tapi sayang, pria itu lebih dulu turun dari mobil dan dengan kecepatan kilat menangkap pergelangan tangannya.


"Ikut aku, Alena!" pinta pria itu seraya menarik tangan Alena.


Alena menggeleng keras dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Glen.


"Aku tidak mau. Pergi dari sini! Jangan pernah temui aku lagi. Pergiii ..!!" teriak Alena.


"Ayo, kau harus ikut denganku!" Glen terus memaksa Alena dan menyeret wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Toloooongggg .. Maaa .. Papaaaa .." teriak Alena dengan begitu keras.


Bugg ..


Seseorang lari dari kejauhan dan melayangkan sebuah pukulan tanpa aba-aba hingga membuat Glen jatuh tersungkur.


Alena melihat siapa orang yang melakukan hal itu, dan ternyata itu Haxel. Ia senang lantaran pria itu belum pergi dari lingkungan rumahnya.


"Jangan pernah menyentuh apalagi sampai melukai Alena!" seru Haxel dengan tatapan penuh amarah.


Glen tersenyum menyeringai. "Aku yang berhak atas tubuh Alena. Memangnya kau siapa, berani memeluk dan mencium wanita yang bukan milikmu?"


Ternyata Glen sempat melihat apa yang terjadi di antara Haxel dan Alena tadi. Berarti pria itu memang sudah standby di luar gerbang. Oleh karena itu begitu pintu di buka, dia langsung menerobos masuk.


Security rumah yang ikut terkejut mendengar suara teriakan putri majikannya.


"Ada apa, non?" tanya security tersebut dan melihat pria yang merupakan mantan kekasih putri majikannya tersungkur di tanah. "Apa dia berbuat macam-macam?"


Alena sontak menganggukan kepalanya.


Security itupun bergegas mendekati Glen hendak mengamankan siapapun yang berani membuat keributan di rumah itu. Namun, belum kunjung mendekat, security bernasib buruk lantaran Glen lebih dulu menendang perut security tersebut hingga terjatuh.


Alena semakin ketakutan. Ia khawatir Glen benar-benar nekad melukai semua orang demi tujuan utamanya.


Haxel tidak diam begitu saja, ia melayangkan sebuah pukulan pada Glen, akan tetapi di tangkis. Hingga keduanya melakukan perlawanan yang cukup menegangkan.


Dari dalam rumah, nyonya Alfi dan dan tuan Azel sontak panik begitu mendengar teriakan panjang putrinya. Keduanya segera lari ke luar rumah untuk memastikan.


Namun, begitu keluar rumah mereka di suguhkan oleh perkelahian antara dua pria.


"Pa, itu Haxel bertengkar dengan Glen. Kenapa bisa ada pria itu di sini?"


Tanpa menjawab pertanyaan sang istri, tuan Azel lekas menghampiri kedua pria yang tengah berkelahi. Sementara nyonya Alfi sendiri menghampiri putrinya.


"BERHENTIII ..!!" seru tuan Azel sontak menghentikan perkelahian di antara Haxel dengan Glen. Keduanya menoleh.


Security langsung bangkit berdiri seraya memegangi perutnya yang mulas melihat kedatangan majikannya.


"Kau baik-baik saja, sayang? Apa Glen melukaimu?" tanya nyonya Alfi memastikan jika putrinya tidak terluka sedikitpun.


"Aku baik-baik saja, ma. Beruntung Haxel belum sempat pergi ketika Glen datang."


"Bagaimana dia bisa ada di sini?"


"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba muncul."


Nyonya Alfi lekas memeluk tubuh putrinya, memberi ketenangan lantaran Alena tampak ketakutan sekali.


"Jangan pernah melukai putri saya, karena pilihannya rumah sakit, sel, atau kuburan!"


Glen merasa ia sudah kehabisan tenaga. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk melawan. Oleh karena itu ia lebih memilih untuk menyerah dan pergi dari sana.


"Tuan Glen, tunggu!" Haxel menghentikan langkah Glen yang hendak masuk ke dalam mobilnya. "Kerja sama antar perusahaan kita batal. Aku tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang pemimpinnya seperti dirimu."


Glen tidak merespon apapun. Ia langsung masuk begitu saja ke dalam mobil. Ia tidak hanya akan kehilangan Alena selamanya. Ia juga akan kehilangan bisnis besar bersama perusahaan Haxel.


Semuanya merasa lega atas kepergian Glen.


Haxel dan tuan Azel bergegas menghampiri Alena dan nyonya Alfi.


"Alena, kau tidak apa-apa?"


"Sayang, kau baik-baik saja?"


Tanya Haxel dan tuan Azel hampir bersamaan, keduanya sama-sama mengkhawatirkan wanita yang sama.


Alena mengangguk. "Iya. Terima kasih, pa. Terima kasih tuan," ucap Alena.


Haxel mengangguk. Sedetik kemudian perhatian Alena tertuju pada sudut bibir pria itu yang mengeluarkan setetes darah segar akibat baku hantam dengan Glen.


"Tuan, sudut bibirmu .."


Haxel spontan menyentuh sudut bibirnya dan ia merasakan sesuatu yang perih.


"Aku obati karena kau terluka karena lagi-lagi menyelamatkan aku."


Haxel mengangguk. "Iya."


"Ayo," ajak Alena.


Haxel hendak beranjak, namun segera di tahan oleh tuan Azel.


"Alena, kau masuk duluan sama mama. Papa mau bicara sebentar dengan Haxel."


Sebenarnya Alena penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh papanya pada pria itu. Namun, ia harus menurut apa kata papanya.


Nyonya Alfi membawa putrinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan suaminya yang ingin bicara dengan Haxel. Kini hanya tersisa dua orang di sana. Security sudah kembali ke tempat peristirahatan nya.


"Haxel. Karena kau sudah menyelamatkan putriku untuk yang kesekian kalinya, maka saya akan mengubah keputusan saya yang tadi. Atau nanti saya akan memikirkan bagaimana baiknya."


Haxel tidak menyangka jika tuan Azel berubah pikiran. Ia berharap keputusan tuan Azel nantinya bisa sesuai harapan.


"Iya, om," jawab Haxel semangat.


"Alena sudah menunggu di dalam. Ayo, masuk!"


"Baik, om."


Tuan Azel sudah melipir duluan, sementara Haxel masih mematung di tempat dengan seulas senyum yang mengembang sempurna.


_Bersambung_


NOTE:


Jangan lupa belanja baju lebaran di toktokshop aku ya @wind.store