
Sementara Catherine di periksa oleh Dokter, Alena dan Haxel duduk di deretan kursi besi yang terdapat di depan ruangan tersebut.
"Alena," panggil tuan Haxel ragu.
"Ya. Kenapa, tuan?" sahut wanita itu.
Sebenarnya Haxel tidak ingin mempertanyakan hal ini, tapi ini penting baginya demi nama baik perusahaan.
"Sahabatmu beneran hamil?"
Alena segera mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya menahan tawa yang hampir menyembur dari mulutnya. Melihat reaksi Alena, Haxel pun terheran-heran.
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
Alena menggeleng lalu segera mengontrol diri agar tidak tertawa dengan pertanyaan konyol pria di sampingnya.
"Tidak, tidak. Aku yang salah. Jadi, tadi aku hanya bercanda karena Catherine terlihat kesakitan sampai wajahnya pucat," jawab Alena.
"Oh, begitu. Aku pikir dia beneran hamil dan mau keguguran."
"Catherine tidak pernah pacaran, dan tidak mau pacaran. Jadi dia tidak mungkin hamil di luar suatu pernikahan."
Haxel mengangguk. Namun seketika raut wajahnya berubah dan membuat Alena merasa ada yang aneh.
"Kau tahu ciri-ciri orang yang mau keguguran?" tanya Alena kemudian.
Pria itu menoleh lalu mengangguk. "Iya. Aku kehilangan calon anakku karena waktu itu mantan istriku keguguran. Dia mengeluarkan cairan di sertai darah."
Alena perlahan mengatupkan bibirnya. Secara tidak sadar ia sudah membuka luka pria itu.
"Maaf, aku tidak tahu jika itu-"
"Tidak masalah. Itu bukan salahmu," pungkas Haxel.
Keduanya kemudian saling diam. Alena benar-benar merasa segan lantaran sudah membuat pria itu sedih. Tidak lama kemudian seorang Dokter yang memeriksa Catherine keluar dari ruangan.
Alena segera bangkit berdiri untuk menanyakan keadaan sahabatnya.
"Tidak usah khawatir, teman nona mengalami diare biasa. Nanti akan di berikan obat pereda. Karena selama di periksa tadi, teman nona sampai tiga kali izin ke toilet," jelas Dokter.
"Oh begitu, pantas saja lumayan lama."
Dokter tersebut pun pergi usai memberikan resep obat yang harus di tebus. Setelah itu Alena masuk ke dalam ruangan. Sementara Haxel memilih untuk menunggu di luar.
Catherine mengatakan jika dirinya sudah lebih baik sekarang. Oleh karena itu ia ingin pulang saja. Haxel memberikan izin wanita itu untuk pulang dan beristirahat dan jika besok masih belum reda sakitnya, tidak perlu masuk kantor.
Wanita itu juga izin pulang naik ojek online saja lantaran tidak ingin merepotkan. Akhirnya Alena kembali ke kantor bersama Haxel berdua saja. Hanya ada keheningan dan kecanggungan di dalam mobil selama perjalanan. Tidak ada obrolan yang terjadi.
Haxel tidak membawa Alena ke kantornya, melainkan membawa wanita itu ke restoran tadi untuk mengambil mobil atas permintaan wanita itu sendiri.
"Kau tidak perlu kembali ke kantor lagi, kau bisa langsung pulang saja. Lagipula ini sudah mendekati jam pulang," perintah pria itu.
"Benarkah aku bisa pulang sekarang?"
Haxel mengangguk membenarkan. "Ya. Kau pulang saja, istirahat. Besok pagi kembali bekerja seperti biasanya."
"Baik, tuan."
Alena terkejut saat pria itu membukakan pintu mobilnya ketika ia hendak meraih pintu mobil tersebut. Untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertemu. Alena segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Terima kasih," ucap Alena kemudian masuk ke dalam mobilnya dan Haxel sedikit menahan pintunya agar tidak langsung di tutup begitu saja.
"Hati-hati .." ucap Haxel dan di sana Alena merasa gugup dan salah tingkah.
"I-iya," jawab Alena tanpa bisa membalas tatapan Haxel terhadapnya.
Haxel pun menutupkan pintu mobil Alena. Dan sedikit menjauh dari sana. Alena segera menghidupkan mesin mobilnya untuk pergi dari halaman restoran.
Haxel terlihat melambaikan tangannya dari kejauhan. Alena pura-pura tidak melihatnya agar fokus menyetir tidak hilang.
Ayolah, Alena. Jangan seperti ini. Kenapa kau gugup berhadapan dengan tuan Haxel. Ingat, dia itu hanya pemimpinmu di perusahaan. Tidak lebih.
_Bersambung_