OH MY DUDA

OH MY DUDA
Kesiangan



Alena meraba benda pipih yang ia letakan di atas nakas. Setelah ketemu, ia tekan tombol power dan melihat jam di layar dengan mata yang masih setengah terbuka. Sedetik kemudian, matanya terbuka lebar melihat jam sudah menunjukan jam tujuh lebih lima belas menit.


"Sial, aku kesiangan," umpatnya.


Wanita itu bergegas turun dari tempat tidur, berlari kecil menuju kamar mandi, membasuh muka dan menggosok gigi. Lalu mencari pakaian untuk berangkat kerja.


"Sial, sial, sial. Aku bisa jadi buah bibir lagi ini jika empat puluh lima menit lagi belum sampai kantor."


Dengan kecepatan penuh, Alena bersiap-siap. Terpaksa ia harus tampil natural dan hanya mengoleskan sedikit lipstik saja agar wajahnya tidak kelihatan pucat karena ia memiliki kulit yang putih.


Setelah siap ia keluar kamar dan turun dari tangga dengan cepat.


"Alena, hati-hati," seru mamanya melihat ia menuruni anak tangga dengan cepat.


"Ma, aku harus berangkat sekarang."


"Sarapan dulu!" teriak mamanya karena wanita itu sudah melipir pergi.


"Aku bisa telat, maaa .." sahutnya.


Nyonya Alfi hanya bisa geleng-geleng. Andai putrinya mau bekerja di perusahaan keluarga sendiri, mungkin tidak akan seperti ini. Di perusahaannya pun memang ada aturan untuk disiplin bagi setiap para karyawan, tapi setidaknya ia tidak berada di bawah pimpinan orang lain.


Alena menggerutu karena jalanan lumayan macet, biasanya ia bangun jam enam dan akan berangkat jam tujuh, sampai di kantor jam setengah delapan. Bukan karena jaraknya yang cukup jauh, melainkan karena kemacetan pagi hari bersamaan dengan orang yang berangkat mencari rejeki.


Hari ini ia berangkat jam setengah delapan, ia berharap sebelum jam delapan sudah sampai. Tapi harapan itu sepertinya tipis, melihat ada kemacetan panjang yang di sebabkan kecelakaan seorang bocah yang tertabrak pengendara motor yang lalai.


Terpaksa ia harus memutar arah, mencari jalan alternatif untuk cepat sampai namun ia masih berusaha hati-hati dalam menyetir.


Setelah menempuh perjalanan dengan terburu-buru, ia sampai di kantor dan jam menunjukan jam delapan kurang dua menit. Masih sisa dua menit untuk sampai ke kubikel, ia mulai berlari lagi.


Bugh ..


Alena tidak sengaja menabrak seseorang yang membuat dirinya hampir terjatuh ke lantai. Beruntung seseorang yang ia tabrak dengan cepat menangkap tubuhnya.


"Tuan Haxel, aku minta maaf. Aku terburu-buru karena aku takut kesiangan. Aku telat bangun," ucap Alena seraya menelungkupkan tangannya di depan dada.


"Iya, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati kalau jalan jangan lari-lari. Khawatir jatuh atau terpeleset."


Alena mengangguk. "Iya, tuan."


Alena jadi merasa tidak enak. Apalagi adegan keduanya barusan ketika pria itu menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Kalau begitu aku kubikel sekarang, ini sudah jam delapan. Sudah waktunya aku bekerja."


"Tunggu!" Haxel menahan kepergian Alena dengan menarik pergelang tangan wanita itu.


Alena melihat tanganya yang di pegang oleh Haxel dan pria itupun melepaskan.


"Ada apa, tuan?"


"Mmm .. Apa kau sudah sarapan?" tanya pria itu sedikit ragu untuk menanyakannya.


"Aku .. Tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Aku bahkan tidak sempat untuk mandi," jawab wanita itu lagi-lagi keceplosan.


"Hm?" Haxel sampai terkejut mendengarnya dan Alena dengan cepat mengatupkan bibirnya.


"A-aku.. Mmm.." Alena mendadak gelagapan.


"Kau tetap cantik meski tidak mandi sekalipun," puji pria lalu tangannya bergerak mengusap sudut bibir wanita itu. "Lipstik mu sedikit berantakan."


Setelah mengatakan hal itu, Haxel melipir pergi dari hadapan Alena. Meninggalkan wanita yang saat ini tubuhnya mematung yang kehilangan banyak oksigen.


_Bersambung_