
Alena tercengang melihat banyak menu makan yang datang. Padahal ia hanya memesan satu macam saja.
"Kenapa sebanyak ini?" tanya wanita itu usai pelayan restoran pergi.
"Aku ingin kau mencicipi semua menu yang ada di restoran ini. Aku yakin kau pasti akan menyukainya. Dan bukanlah wanita begitu menyukai makanan?"
"Iya, tapi tidak perlu sebanyak ini juga. Ini mubazir namanya jika tidak habis."
"Iya, maaf. Aku hanya berusaha menyenangkanmu."
Alena menatap pria di hadapannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu. Apakah mungkin pria itu memiliki perasaan untuknya?
Ya Tuhan, apa yang kau pikirkan, Alena ..
Alena segera menepis pemikiran itu. Sebab baginya tidak mungkin pria itu menyukainya. Tapi kenapa juga dia sampai segitunya.
Mereka pun mulai makan, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya tatapan sekilas saling temu sebelum kemudian Alena segera mengalihkan pandangan ke arah lain dan fokus pada makanan.
"Kau harus coba semuanya. Jika perlu nanti bisa bungkus untuk sahabatmu." ujar Haxel membelah keheningan.
"Catherine sedang sakit perut. Dan sakit perut kemarin pun karena dia makan makanan di restoran ini. Mungkin lambungnya kaget, tidak biasa makan makanan mahal. Jadi langsung sakit perut."
Haxel tertawa kecil mendengar kalimat wanita itu, Alena juga. Mengingat sebegitu parahnya sakit perut Catherine hingga ia mengira jika sahabatnya sedang mengalami kontraksi siap melahirkan bayi.
Haxel melihat ada sisa makanan di ujung sudut bibir Alena. Tangannya mulai bergerak dan menyeka bibir Alena hingga membuat pemilik bibir nya terkesiap.
Sentuhan tangan Haxel di bibirnya membuat degup jantungnya serasa berhenti mendadak bersamaan dengan aliran darah yang mendadak terhenti. Napasnya tertahan dan iris matanya sedikit melebar.
"Aku permisi ke toilet sebentar." Alena beranjak dari sana dengan langkah terburu-buru.
Haxel melihat kepergian wanita itu dengan seulas senyum. Sebelum kemudian mengecup ujung jarinya yang ia gunakan untuk menyeka bibir Alena.
"Bibirnya lembut sekali," ucapnya.
Sementara di wastafel toilet, Alene menghirup banyak-banyak oksigen. Ia kehilangan oksigen sebelumnya.
"Ah ya ampun, kenapa aku jadi deg-degan seperti ini?" ujarnya seraya melihat pantulan dirinya di cermin.
"Tenang, Alena. Kendalikan dirimu. Kontrol hatimu, Alena. Kau tidak mungkin jatuh cinta padanya. Bila-bila nanti Catherine mengolok-olok karena aku jatuh cinta dengan seorang duda sesuai dengan apa yang dia sarankan sebelumnya."
Alena memejamkan kedua matanya. Ia berusaha untuk membuang ingatan yang terjadi di antara keduanya barusan. Tapi semakin ia lupakan, justru sentuhan itu semakin terasa nyata.
"Aku tidak bisa membiarkan semua ini, aku akan mencegah sebelum semuanya terlalu jauh."
Dia mulai khawatir jika hal seperti ini terus berlanjut, maka kemungkinan besar ia akan jatuh cinta beneran pada pria itu.
Sementara di tempat lain. Di satu sisi Catherine merasa senang bisa makan sepuasnya tanpa khawatir dengan saldonya. Tapi di sisi lain ia sedih juga, biasanya ia makan bersama dengan Alena meskipun menu makanan yang ia pesan itu-itu saja. Ia merasa seperti menjual sahabatnya sendiri.
"Aku jadi merasa bersalah karena sudah menukar kebersamaan kita dengan uang, Alena. Tapi bagaimanapun ini demi kebaikanmu juga. Aku bahagia jika pada akhirnya kau akan bersama tuan Haxel. Aku sedih juga tidak bisa makan siang bersama denganmu lagi."
Selera makan Catherine sedikit berkurang karena meratapi perasaan bersalahnya.
_Bersambung_