
Tepat jam setengah sebelas malam, Alena, mama dan papanya pulang. Sejak kembali dari toilet tadi, nyonya Alfi merasa ada yang aneh dari putrinya. Alena terus saja diam.
Nyonya Alfi menoleh ke belakang, dimana putrinya duduk di jok belakang kemudi.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu perasaanmu?" tanya wanita paruh baya itu dan Alena menggeleng.
"Jika sesuatu telah terjadi, jangan sungkan untuk cerita sama mama, sayang," bujuknya.
"Aku baik-baik saja, ma. Aku ngantuk dan aku ingin segera sampai," jawab Alena.
Nyonya Alfi hanya bisa menghela napas, ia merasa jika telah terjadi sesuatu pada putrinya. Tapi apa? Mungkinkah ada hubungannya dengan Glen. Pasalnya Glen pun pergi di saat yang bersamaan dengan Alena. Dan kembali dengan waktu hampir bersamaan pula.
Sementara tuan Azel hanya diam namun tetap memperhatikan putrinya dari kaca spion yang menggantung di atasnya.
Jalanan sudah lenggang. Tengah malam tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga menjadi perjalanan pulang jadi cepat sampai di banding dengan waktu pergi tadi.
Seorang pria yang sedari tadi duduk menunggu mobil pemilik rumah tersebut kini bangkit berdiri begitu mobil sudah mulai terlihat melaju ke arahnya dan security segera membukakan pintu gerbang. Ia menggeser kursi plastiknya ke belakang dan mundur beberapa langkah.
Pandangan Alena yang sedari tadi kosong kini tertuju pada pria yang berdiri di dekat gerbang rumah. Ia mengangkat tubuhnya yang semula bersandar di sandaran kursi jok dan mulai mempertajam penglihatan.
"Tuan Haxel? Kenapa dia ada di sini?" pikir Alena sembari menoleh ke belakang lantaran mobil sudah melaju masuk melewati pintu gerbang.
Mama dan papanya turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara Alena masih diam di samping body mobil. Seorang security menghampiri.
"Nona, ada yang ingin bertemu," ujar security tersebut memberi tahu.
Alena mengangguk. "Iya, dia bos aku di kantor."
Alena melipir pergi dari hadapan security untuk menghampiri pria itu di depan pintu gerbang. Sementara security masih terdiam mendengar jawaban putri majikannya.
"Bosnya di kantor?" pikirnya.
Haxel melempar senyum begitu Alena berjalan ke arahnya. Dan kini mereka sudah berdiri saling berhadapan.
"Maaf, sedang ada di sini?" tanya Alena tanpa basa-basi.
"Menunggumu," jawab pria itu menciptakan kerutan dalam di kening Alena.
"Untuk apa? Dan, dari mana tahu rumahku?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Alena, Haxel justru malah tersenyum yang membuat wanita itu merasa heran.
"Mudah bagiku untuk menemukan alamat rumahmu. Termasuk nomer teleponmu."
Alena terdiam sejenak. Ia jadi teringat akan pesan yang ia terima dari nomer asing. Dan ia teringat jawaban Glen tadi di restoran.
"Jadi, yang mengirim pesan tadi .."
"Apa tujuanmu mengirim pesan seperti itu padaku? Dan apa tujuanmu sampai datang ke sini tengah malam?"
"Sebenarnya aku datang sejak tiga jam yang lalu. Aku menunggumu karena ada yang ingin aku kembalikan padamu."
Haxel merogoh sesuatu dari kantong celananya. Lalu memberikan sesuatu itu pada Alena.
"Ini milikmu bukan?"
Cincin putih bening polos dengan setitik permata di tengahnya membuat Alena sontak memeriksa jemarinya. Dan ia baru sadar jika cincin itu terlepas dari jarinya.
Alena pun mengambil cincin tersebut dari tangan Haxel.
"Dari mana kau mendapatkan ini?"
"Di ruangan ku. Mungkin terjatuh saat kau ke ruangan ku tadi pagi," jawab Haxel.
"Ini memang sedikit longgar, dan aku tidak menyadari jika ini terlepas dari jemariku."
Alena menyematkan kembali cincin tersebut ke jari manisnya.
"Itu pasti sangat berharga bagimu. Oleh karena itu aku datang ke sini untuk mengembalikannya padamu."
"Terima kasih," ucap Alena. "Tapi kenapa tidak kau berikan saat kita bertemu ketika di parkiran? Atau bisa besok saja. Tidak perlu datang ke sini."
Haxel terdengar menghela napas panjang.
"Aku rasa cincin itu begitu berharga bagimu. Aku jadi ingat ceritamu tentang kelinci, kau sampai berani meninggalkan kantor dan melanggar peraturan perusahaan demi seekor kelinci yang berharga. Jadi aku putuskan untuk mengembalikannya sesegera mungkin. Karena aku lupa mengembalikannya saat kita bertemu di parkiran."
"Cincin ini memang berharga, tapi berbeda halnya dengan kelinci. Cincin ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mantan kekasih ku. Ini pemberian dari oma Ellanor sebelum beliau menghembuskan napas terakhir," jelas Alena.
"Oh, rupanya begitu. Beruntung cincin itu jatuh di ruangan ku. Lain kali pakai hansaplast jika longgar. Atau tidak kau cukup simpan dan jaga barang yang menurutmu berharga itu agar kau tidak sampai kehilangannya."
"Baik, terima kasih," ucap Alena lagi.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu aku langsung pulang. Salam untuk orang tuamu. Sampai jumpa besok di kantor," pamit Haxel.
Alena hanya mengangguk. Ia menatap punggung kepergian Haxel sampai pria itu masuk ke dalam mobil.
Haxel membuka kaca pintu mobilnya, menganggukan kepala dan membunyikan klakson sekali. Tanpa sadar, Alena mengangkat tangannya untuk melambaikan tangan pada pria itu.
Setelah mobil Haxel pergi berlalu, Alena menurunkan tangannya karena sadar.
"Ah ya ampun, Alena .. Apa yang baru saja kau lakukan?" gumamnya merutuki diri sendiri, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah karena dinginnya hawa malam ini.
_Bersambung_