
Sejak hari itu Catherine tidak pernah lagi makan siang bersama sahabatnya. Jujur ia sangat sedih karena tidak bisa mendengar curhatan dari Alena di jam makan siang. Ia hanya bisa ngobrol tipis-tipis saat jam bekerja berlangsung. Itupun selalu mereka hentikan lantaran takut ketahuan oleh atasan.
Alena pun merasa ada yang aneh dari sahabatnya. Catherine tidak pernah mau lagi di ajak makan siang dengan berbagai alasan sehingga ia mau tidak mau harus melewati makan siang bersama tuan Haxel berdua.
"Cath .." panggil Alena lirih.
"Hm," sahut Catherine tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
"Are you okay?"
"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya hal itu?" jawab dan tanya balik Catherine masih fokus pada layar sembari mengetik.
Alena menghela napas. Ia tatap wajah sahabatnya dari samping.
"Nanti kita makan siang bareng lagi, ya. Aku bakal pesan menu yang sama denganmu. Dan aku yang bayar. Bagaimana?" tawar Alena berharap Catherine mau.
"Maaf, Alena. Aku-"
"Sudah seminggu kau bersikap aneh seperti ini, Cath," pungkas Alena.
Catherine pun menghentikan aktivitasnya. Ia balik tatap wajah sahabatnya.
"Maaf, Alena. Aku-"
"Apa kau sengaja menghindar dariku? Apa aku melakukan kesalahan padamu?"
Catherine menunduk. Ia tidak berani menatap wajah Alena. Wanita itu pandai membaca ekspresi, dan ia takut kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu.
Catherine mendongakan wajahnya, kembali menatap sahabatnya dengan seulas senyum guna menutupi kebohongannya.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Alena. Kau bicara apa? Hanya saja aku memang-"
"Menghindariku karena sesuatu?" potong Alena lagi membuat Catherine gugup.
"S-sesuatu apa? Aku sama sekali tidak pernah menghindar darimu."
Kedua mata Alena memicing. Menatap sahabatnya dengan kecurigaan. Catherine segera menundukan wajahnya, ia khawatir Alena curiga beneran padanya.
"Cath .."
"I-iya, kenapa? Kenapa kau melihatku seperti itu, Alena? Tolong hentikan!"
Alena semakin mendekatkan wajahnya ke arah Catherine dengan tatapan masih sama.
"Apa sebenarnya kau cemburu?"
Kedua mata Catherine sontak terbelalak.
"Cemburu? Cemburu apa?" seru wanita itu.
"Kau masih ingat jika kau pernah mengatakan tuan Haxel itu cool dan keren meskipun dia seorang duda. Itu artinya kau memang diam-diam selalu memperhatikannya bukan? Dan, apa kau cemburu melihat aku akhir-akhir ini dekat dengannya?"
Catherine mengusap wajah Alena.
Catherine secara tidak sengaja mengatakan itu dan membuat Alena semakin bertanya-tanya.
"Apa maksudmu, Cath?"
Wajah Alena kini berubah serius, Catherine segera mengatupkan bibirnya karena hampir saja keceplosan. Ia khawatir Alena justru akan kecewa padanya.
Wanita itu kini tampak gelagapan. Alena jadi tambah curiga jika memang ada sesuatu di balik perubahan Catherine.
"A-aku .." Catherine berusaha menyusun kata di kepalanya, bagaimana caranya agar Alena percaya padanya.
Tiba-tiba saja datang seorang wanita yang datang ke meja Alena dan menggebrak meja tersebut cukup keras. Sehingga pusat perhatian para karyawan lain kini tersita pada wanita itu.
BRAAKK ..
Alena dan Catherine terlonjak kaget. Bagaimana tidak, seseorang datang secara tiba-tiba dan main gebrak meja kubikelnya dengan tidak sopan.
"Dasar pembohong!" seru wanita itu kemudian.
Alena pun bangkit berdiri usai wanita itu melayangkan kata tersebut padanya.
"Apa maksudmu mengatai aku pembohong?"
Wanita tersenyum dengan ekspresi penuh kebencian terhadap Alena.
"Hei, kau pernah bilang bukan agar kita semua mencoba untuk melanggar aturan kantor guna membuktikan jika kesempatan kedua itu ada seperti yang tuan Haxel berikan padamu?"
"Ya. Kenapa?"
"Kau pembohong. Kesempatan kedua itu tidak ada. Kesempatan kedua itu hanya di berikan untukmu karena kita semua tahu jika kau sebenarnya ada hubungan khusus kan dengan tuan Haxel?"
Semua karyawan yang ada di sana mulai saling berbisik sesuatu dengan mata tertuju pada Alena.
"Tuduhan macam itu? Aku memang di beri kesempatan kedua karena aku melanggar aturan perusahaan ada alasannya. Dan tuan Haxel menerima alasanku, sebab itu bukan kesalahan yang di buat sengaja," jawab Alena dengan tegas.
"Lalu kenapa kau menyuruh kita semua yang ada di sini untuk mencoba melanggar aturan yang ada? Kau mau kita semua di sini di pecat agar kau satu-satunya karyawan terbaik di sini, hah?"
"Aku tidak pernah menyuruh siapapun untuk melakukan itu secara cuma-cuma. Aku hanya ingin kalian termasuk dirimu, untuk berjaga-jaga jika dalam keadaan mendesak, kalian semua bisa melanggar aturan dengan alasan yang jelas. Maka siapapun akan mendapatkan kesempatan keduanya."
"Omong kosong macam apa itu, hah? Kesempatan kedua itu tidaklah ada. Kau mendapatkannya karena kau pelayan khusus dia kan?"
"Jaga ucapanmu!" Alena mulai terpancing.
"Aku bicara benar bukan? Bukan hanya aku saja, karyawan yang lain pun sering melihat kau berangkat bersama tuan Haxel. Pergi makan siang bersama, dan pulang bersama. Aku rasa tidak hanya sekedar itu, aku yakin di luar kantor kalian pun pasti bersama dan mendatangi kamar untuk melakukan hubungan khusus."
Plaakkk ..
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi wanita itu. Semua yang ada di sana cukup kaget melihatnya. Melihat Alena seberani itu. Karena jujur, Alena sudah tidak tahan dengan tuduhan wanita itu.
_Bersambung_