OH MY DUDA

OH MY DUDA
Tawaran Makan Malam Bersama



Mobil Haxel memasuki pelataran rumah Alena. Ia mengantarkan wanita itu pulang, sementara Catherine meminta untuk pulang sendiri naik ojek online.


"Sebagai bentuk rasa terima kasih karena kau sudah menyelamatkan aku dari Glen, bagaimana jika kau ikut makan malam di rumahku bersama mama papa?"


Haxel cukup terkejut dengan penawaran Alena. Sebenarnya ia harus segera pulang, lantaran hari sudah malam. Tapi ia merasa segan jika menolak tawaran jarang tersebut.


Pria itupun mengangguk. "Iya."


Alena mengulas senyum lega lantaran pria itu menerima tawarannya. Setidaknya ia jadi tidak merasa punya hutang budi atas itu.


"Kalau begitu, ikut bersamaku," ajak Alena dan di angguki oleh Haxel.


Mereka turun dari mobil yang sama, sementara mobil Alena di biarkan sementara di kafe Gardani. Kebetulan Haxel memiliki kenalan pemilik kafe itu, jadi sekalian menitipkan mobil Alena.


Haxel berjalan selangkah di belakang Alena. Mereka sudah masuk ke dalam rumah besar tempat kediaman wanita itu.


"Silahkan duduk!" Alena menggunakan tangannya mempersilahkan Haxel duduk.


"Terima kasih," ucap pria itu lalu duduk di sofa single ruang tamu.


"Mau minum apa? Kopi, teh atau jus?"


"Apa saja," jawab pria itu.


"Ok, kalau begitu tunggu sebentar. Aku mau ke dapur dulu bilang sama bibi terus kasih tahu mama papa."


"Iya."


Alena pun melipir pergi dari sana, meninggalkan Haxel yang duduk sendiri di ruang tamu. Pria itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, dan pandangannya jatuh pada beberapa figura foto berukuran mulai dari kecil hingga besar.


"Hai ma, pa .." sapaan Alena membuat keduanya mengalihkan pandangan dari layar televisi.


"Hai, anak mama yang cantik. Baru pulang, sayang?" sahut nyonya Alfi, sementara tuan Azel hanya mengulas senyum mendapat sapaan dari putri semata wayangnya.


Alena duduk di kepala kursi samping mamanya. "Iya, ma. Soalnya tadi ada sedikit problem."


"Kenapa? Ada apa?" sahut mamanya mulai merasa khawatir.


"Apa terjadi sesuatu di kantor?" timpal papanya.


"Di kantor aman, ma, pa. Jadi intinya aku ketemuan sama Glen untuk menyelesaikan suatu masalah, tapi aku mendapat masalah baru," jelas Alena.


"Masalah apa, sayang? Glen tidak macam-macam kan?" tanya nyonya Alfi khawatir sembari menangkup kedua pipi putrinya memastikan jika Alena baik-baik saja.


"Untuk apa ketemuan lagi dengannya?" tanya tuan Azel tak habis pikir.


"Aku baik-baik saja, ma. Dan sebenarnya aku juga tidak mau bertemu lagi dengannya, pa. Tapi ada satu hal yang membuat aku harus bertemu dengannya karena dia masih saja mengganggu hidup aku dengan mengirim aku makanan ke kantor. Aku berniat agar ini semua bisa clear, karena aku tahu dia sudah menikah dengan Olive. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku hampir bernasib buruk hari ini."


Penjelasan Alena membuat nyonya Alfi dan tuan Azel kian khawatir.


"Apa maksudnya, Alena?" tanya nyonya Alfi dengan tidak sabar.


"Awalnya Glen menceritakan tentang Olive yang pura-pura hamil agar bisa di nikahi olehnya."


"Olive pura-pura hamil?" Nyonya Alfi memotong kalimat Alena yang belum sempat selesai menjelaskan. Jujur, dia sangat terkejut mendengar berita tersebut.


_Bersambung_