Oh... My Sexy Girl

Oh... My Sexy Girl
Sesuai Ekspektasi



Satu jam kemudian.


Makan malam yang ada di meja mereka pun tandas. Sesuai ekspektasi Max, makan malam-nya dengan Alice malam ini sesuai dengan harapan Max, Alice sangat menikmati makan malam mereka dan juga menikmati alunan biola yang di mainkan sang violinis.


Selesai makan malam, mereka pun kembali ke hotel. Namun di pertengahan jalan, Alice baru tersadar kalau tujuan mereka datang ke restoran itu adalah untuk menguntit Anthony.


"Berhenti.. berhenti. " ucap Alice pada supir. Supir pun sontak menghentikan laju mobil-nya.


"Ada apa?" tanya Max.


"Kenapa kita pulang? Harusnya kan kita mengikuti Om Anthony!!" jawab Alice.


"Oh.. itu, itu gampang, orang suruhan ku sudah mengikuti-nya." jawab Max.


"Lanjutkan saja perjalanannya, Pak." perintah Max pada supir.


"Baik Tuan." balas si supir kemudian kembali melajukan mobil-nya.


"Aku heran dengan orang suruhan mu, perasaan kita sudah tiga hari disini tapi orang suruhan mu sampai sekarang tidak berhasil menangkap Om Anthony." ucap Alice


"Bukankah tujuan kita kesini hanya untuk menguntit Om mu itu bukan untuk menangkap-nya?!" tanya Max bercanda.


Dan pertanyaan Max itu berhasil membuat mata Alice membulat lebar.


"Hehehe.. becanda." ucap Max.


"Om mu itu tidak bisa ditangkap karena Om mu selalu di kawal oleh orang suruhan mafia judi, orang suruhan ku bilang kalau Om mu itu punya banyak hutang dengan mafia judi, makanya Om mu selalu di kawal oleh orang suruhan si mafia judi."


"Kalau begitu, akan susah menangkap Om Anthony dan membawa dia pulang." balas Alice.


"Kamu tenang saja, aku sudah menyuruh orang suruhan ku untuk bernegosiasi dengan si mafia judi. Mudah-mudahan si mafia judi mau menyerahkan Om mu itu." balas Max.


Alice menghela nafasnya kasar, ada perasaan sedikit lega tapi ada juga perasaan khawatir, khawatir kalau nanti malah Max lah yang mendapat masalah hanya karena ulah Om-nya.


Tak lama mobil yang di naiki Max dan Alice pun sampai di depan lobi hotel. Max dan Alice pun turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki lobi hotel menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana kamar mereka berada.


Kini Max dan Alice sudah berada di dalam kamar mereka.


Sesampainya di dalam kamar, Alice langsung mengambil pakaian ganti-nya dan membawa-nya ke dalam kamar mandi. Seperti biasa, ia masih mengganti pakaian di dalam kamar mandi. Sedangkan Max, setelah Alice masuk ke dalam kamar mandi, dia langsung menghubungi anak buahnya dan menyuruh anak buah-nya mengirimkan foto Anthony. Sebagai bukti untuk Alice kalau anak buah-nya sudah berhasil menangkap Anthony.


Tak lama anak buah Max pun mengirimkan beberapa foto Anthony yang sengaja di dudukkan di kursi dan diikat tali dan mulutnya disumpal kaos kaki busuk.


"Aku yakin pasti Alice puas melihat foto ini dan merasa terharu dengan perjuangan ku." gumam Max sambil membayangkan wajah Alice.


Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.


Max pun mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Alice.


"Aku punya kabar baik untuk mu." ucap Max.


"Kabar apa?" tanya Alice.


"Sini." Max menepuk sofa sebelah-nya.


Alice pun berjalan mendekati sofa dan duduk di sebelah Max.


"Ada apa sih?" tanya Alice penasaran.


"Lihat ini." Max menunjukkan foto Anthony yang sedang diikat.


"Ini kan.. " Alice menggantung kata-katanya tidak percaya.


"Iya, itu Om mu kan?" Max melanjutkannya dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Alice.


"Apa anak buah mu sudah berhasil bernegosiasi dengan mafia itu?" tanya Alice.


Max menganggukkan kepala-nya lalu menghela nafasnya kasar.


"Ya, walaupun aku harus mengeluarkan banyak uang untuk menebus Om mu itu." kata Max.


Mendengar itu, Alice langsung memeluk Max.


"Terimakasih Max, terimakasih." ucap Alice.


Max menelan saliva-nya kasar saat Alice memeluknya karena dua gundukan daging Alice sangat jelas terasa kekenyalannya di dada Max.


💋 💋 💋


Bersambung...