
Vellf Mansion.
Pukul 01.00
Kini rombongan keluarga Vellfire sudah tiba di mansion. Untungnya jam sembilan malam tadi, anak-anak Marimar, Marco dan Maribet, sudah lebih dulu diantar pulang ke mansion karena mereka sudah mengantuk.
Di dalam mansion hanya ada tiga kamar. Satu kamar milik Mom Sye, satu milik Marimar dan satu lagi kamar Max. Dan masing-masing kamar memiliki ukuran tiga kali lipat satu rumah bersubsidi.
"Max, jangan kau keluar lagi! Pokoknya kalau Mom tahu kau keluar lagi dari mansion ini, habis kau!" ancam Mom Sye.
"Hemh.." balas Max malas. Untuk apa dia keluar lagi kalau dirinya juga sudah sangat lelah.
"Apa kamu perlu ramuan untuk malam ini, Max? Biar kakak buatkan untuk mu." tanya Mar.
"Tidak perlu! Tanpa ramuan juga aku kuat sampai lima ronde." jawab Max dengan sombongnya.
"Woah.. apa kau memakai tissue magic?" tanya Mar.
"Kau pikir aku kakak ipar!" balas Max dengan tatapan mengejek.
"Sudah.. sudah, ini sudah larut malam. Kalau mau berdebat besok pagi saja di lanjut. Sekarang cepat bawa Alice ke kamar, pasti dia sudah sangat lelah." ucap Mom Sye.
"Ayo. Kita pergi dari sini, sebelum kakak tiri Cinderella itu meracuni otak mu!" ucap Max sambil menarik tangan Alice.
"Kurang ajar kau Max! Awas kau besok pagi yah! Beruntung kau malam ini tenaga ku sudah tinggal sepuluh persen!" balas Mar yang tak terima dengan ejekan Max.
"Alice, jangan beri kesempatan predator itu untuk menyentuh mu! Biarkan saja satu malam ini dia bermain bersama Tante Dovie!" teriak Mar.
"Hush! Jangan kencang-kencang suara mu, nanti anak-anak bangun." tegur Cornel, suami Mar.
"Ayo kita juga ke kamar." ajak Cornel.
"Mom, kami masuk ke kamar dulu. Kalau anak-anak bangun, hubungi saja kami." pamit Mar. Karena malam ini Marco dan Maribet tidur di kamar Mom Sye dan sekarang sedang di temani oleh baby sitter mereka.
Mar dan Cor pun berjalan menuju kamar mereka yang ada di lantai dua. Sedangkan kamar Max dan Alice berada di lantai tiga dan kamar Mom Sye berada di lantai satu.
Setelah Mar dan Cor pergi, Mom Sye pun juga berjalan menuju kamarnya.
Mata Alice yang sudah tinggal satu watt langsung terbuka lebar melihat betapa besarnya kamar pribadi Max. Kamar Max sangat besar, desain interiornya juga sangat elegan, maskulin, manis dan mewah. Tidak seperti kamarnya di Mercy Mansion yang ukurannya saja hanya setelah dari kamar Max.
"Woah.. ini ukuran tiga rumah bersubsidi." celetuk Alice.
Berbeda dengan Alice yang tercengang melihat ukuran dan desain interior kamar Max, Max malah kaget dan matanya melongo begitu saat melihat sofa yang ada di ruang tamu kamarnya tidak ada.
"Anda kenapa?" tanya Alice saat melihat ekspresi wajah Max.
"Sofa disini mana?" tanya Max.
"Ya mana aku tahu, aku kan baru pertama kali masuk ke sini!" balas Alice.
Merasa ada yang tidak beres dengan kamarnya, Max pun berjalan memasuki ruang tidur dan diikuti Alice dari belakang.
"Whaaaat?????!!!" pekik Max saat melihat ranjang besarnya berubah menjadi ranjang ukuran no dua yang hanya pas-pasan untuk dua orang.
"Kenapa ranjang mu kecil sekali? Padahal ruangan ini sangat besar." celetuk Alice.
Max tidak menjawab. Jangankan Alice, Max pun sendiri bingung dengan isi kamarnya itu.
Sudah di ruang tamu tidak ada sofa, di ruang tidur juga hanya ada ranjang yang sudah diganti dan dua single sofa yang ada di depan ranjang dan satu meja rias serta cermin full body. Tidak ada lagi sofa panjang di ruang tidur.
"Ini pasti kerjaan Mommy dan Kak Mar!" gerutu Max pelan namun masih bisa di dengar oleh Alice.
"Untuk apa Mom dan Kak Mar melakukan itu semua?" tanya Alice polos.
"Ya untuk apalagi kalau bukan untuk kita tidur mepet-mepet di ranjang itu." jawab Max sedikit kesal.
Bukan kah seharusnya dia senang karena Mommy dan Kakak-nya memberi kesempatan untuknya mepet-mepet dengan Alice? Tapi nyatanya, Max tidak senang. Ia merasa tidak senang karena sudah pasti Alice tidak akan langsung memberikan hak-nya sebagai suami, yang ada dirinya lah yang harus panas dingin setiap malam karena tidur mepet-mepet dengan Alice.
💋 💋 💋
Bersambung...