
Apartemen Nico.
Kini Nico dan Namee sudah berada di apartemen Nico. Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
"Kenapa ikut duduk? Ambilkan aku minum!" perintah Nico.
Namee memutar bola matanya malas lalu berdiri dari duduknya.
"Mau minum apa?" tanya Namee.
"Apa saja yang penting dengan es batu yang sangat banyak." jawab Nico.
Tubuh-nya lemas sekali gara-gara baru ganti oli tapi sudah langsung menyetir dan jarak-nya juga cukup jauh. Bukan hanya dengkulnya yang gemetaran, sekujur tubuh-nya terasa gemetaran sekarang.
Namee pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Nico.
"Kak, kita main game online yuk." ajak Namee dari dapur sambil memasukkan es batu ke dalam gelas.
"Emang kamu bisa main game online?" tanya Nico meremehkan.
"Ya bisa lah. Gimana mau gak?" tanya Namee lagi.
"Boleh. Ya udah cepetan bawa sini minumannya, udah haus banget ini!" ucap Nico.
Namee pun cepat-cepat membuatkan minuman untuk Nico lalu membawa-nya ke ruang tengah.
"Aku ganti baju dulu yah. Om ganteng.." ucap Namee seraya meletakkan gelas di meja lalu buru-buru kabur dari hadapan Nico sebelum kena amukan Nico karena memanggilnya Om.
"Haish!! Anak itu!!" Geram Nico.
Nico pun mengambil minuman dingin yang baru saja Namee buatkan. Baru saja ia menyesap minuman dingin itu, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ia pun merogoh saku celana-nya untuk mengambil ponsel-nya. Ternyata Max yang menelponnya.
"Mau apalagi dia? Apa dia mau bilang kalau dia sudah berhasil bercinta dengan si gadis pargoy?" gumam Nico bertanya-tanya dalam hati.
Namun tak lama ia berpikir kalau rasanya tidak mungkin Max bisa secepat itu bercinta dengan Alice. Nico pun mengabaikan telepon masuk dari Max karena menurutnya pasti Max ingin membicarakan hal yang tidak penting.
Namun karena Max terus-terusan menghubunginya mau tidak mau menjawab panggilan Max. Dengan malas ia menggeser tombol hijau di layar ponsel-nya.
"Kenapa lama sekali menjawab telpon ku, hah?!" protes Max begitu Nico menjawab teleponnya.
"Memangnya kau pacar ku atau Mommy ku, makanya aku harus langsung menjawab telepon mu, hah!" balas Nico.
"Ada apa menelpon ku? Apa kau mau memberitahu ku kalau kau sudah berhasil bercinta dengan istri mu itu?" tanya Nico.
"Diam kau! Bukan itu yang mau aku bahas dengan mu! Kalau soal bercinta, kau tenang saja, lebih baik siapkan uang kalian untuk membeli mobil yang ku inginkan! Karena besok aku dan Alice akan pergi berbulan madu ke Las Vegas!" jawab Max.
"Cih! Jangan terlalu percaya diri Tuan Muda Vellf, jangan-jangan sampai disana kau dan si Jalu hanya bisa menelan ludah. Hahahaha..." ejek Nico.
"Kita lihat saja nanti!" balas Max.
"Lalu untuk apa kau menghubungi ku, hah?!" tanya Nico.
"Ada hubungan apa kau dengan temannya Alice?" tanya Max.
"Oh.. itu-"
Om ganteng, aku udah siap nih.. cepetan kesini...
Baru saja Nico ingin menceritakan tentang Namee dan Attar, Namee sudah berteriak dengan nada yang menggoda dan kata-kata yang sangat ambigu dari ruang santai.
"Nico, jangan bilang kau sudah..."
"Haish!! Nanti saja aku ceritakan! Ceritanya panjang untuk aku jelaskan di telepon!" potong Nico.
Setelah mengatakan itu, Nico pun memutuskan telepon mereka secara sepihak.
"Dasar anak itu! Kenapa dia bicara seperti itu! Pasti sekarang Max jadi berpikir yang tidak-tidak!" geram Nico.
Nico pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang santai.
"Hei! Kenapa kamu memanggil ku seperti itu, hah!" Protes Nico.
"Memangnya aku memanggil apa?" tanya Namee dengan raut wajah sok polos.
"Kamu ini benar-benar yah! Sudah di bilang jangan memanggil ku dengan panggilan Om! Dan satu lagi, lain kali jangan bicara dengan kata-kata yang ambigu seperti itu! Untung saja tadi yang ku telepon teman ku, bagaimana kalau orangtua ku! Bisa habis aku! Paham kamu!" lanjut Nico.
"Iya Om.. eh.. Kak.." balas Namee sambil tersenyum tipis.
"Ya udah sini, ayo kita mabar." ucap Namee sambil menepuk sisi sebelahnya.
💋 💋 💋
Bersambung...