
Kopi pun selesai di buat. Untungnya tidak ada drama saling siram kopi panas di pantry.
Kini Max dan Alice sudah kembali ke ruang kerja Max.
Max kembali melanjutkan pekerjaannya dan Alice kembali duduk disebelah Max.
Lima menit kemudian.
"Akkkh.. tangan ku pegal." keluh Max, ia memberi kode pada Alice agar Alice memijat pundaknya.
Tapi sayangnya yang di beri kode tidak peka.
Bagaimana mau peka kalau saat ini Alice sedang memakai earphone bluetooth di telinganya sambil menonton drama korea.
Melihat itu rahang Max mengeras.
Argh!!! Sepertinya aku salah mempekerjakan dia sebagai asisten pribadi ku!! Rasanya dia lebih cocok untuk menaikkan tekanan darah ku jika tekanan darah ku sedang rendah.
Gumam Max dalam hati.
"Alice!!" panggil Max dengan suara yang di naikkan satu oktaf.
Tapi Alice tidak menggubris panggilan Max.
Max pun semakin geram. Max pun mengambil ponsel Alice dan melepaskan satu earphone Alice.
"Om!!!" pekik Alice.
Mata Max langsung melotot tajam karena Alice memanggilnya dengan panggilan Om.
"Maksud saya Tuan." Alice meralat kata-katanya.
"Kembalikan ponsel saya!" pinta Alice sambil menengadahkan tangannya.
"Tidak mau!! Kau kesini mau kerja atau mau menonton!" tolak Max. Ia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku dalam jas-nya.
"Kan tidak ada yang mau di kerjakan Tuan!!!"
"Kau tidak dengar tadi apa yang ku perintahkan?"
Alice menggelengkan kepalanya.
Cletak. Max menyentil kening Alice.
"Makanya jangan nonton drakor saat bekerja!!" ucap Max.
"Auuw.." ringis Alice seraya mengusap keningnya yang panas karena sentilan Max. Max menyentilnya tidak pakai perasaan.
"Memangnya Tuan suruh apa?" tanya Alice masih sambil menguap keningnya.
"Pijat pundak ku!! Tangan ku pegal sekali karena harus menandatangani ini semua!" perintah Max.
Cih!!! Belum juga setengah tumpukan sudah bilang pegal!! Memang dasar om-om satu ini suka cari masalah saja!!
Gerutu Alice dalam hati sambil melihat berkas yang sudah selesai Max periksa,
Baru beberapa detik, Max kembali memberinya perintah.
"Aku haus, kopi dulu!" perintah Max.
"Kopinya kan ada di sebelah Anda Tuan." jawab Alice.
"Kau tidak lihat tangan ku sedang sibuk tanda tangan! Nanti kalau tangan ku keseleo karena memegang gagang cangkir itu, kan kasihan gaji para karyawan ku akan tertunda." balas Max.
Dasar tua-tua keladi!! Semakin tua semakin tak tahu diri!
Gerutu Alice dalam hati. Mau tak mau Alice pun mengambil cangkir kopi yang letaknya tak jauh dari tangan Max. Bukan hanya itu, bahkan Alice juga menempelkan cangkir itu ke bibir Max.
Max pun menyeruput kopi itu, kemudian menaikkan tangannya tanda ia sudah selesai menyeruput kopi itu. Alice pun kembali meletakkan cangkir ke atas meja lalu lanjut memijat pundak Max.
Kriiing...
Tiba-tiba telepon yang ada meja Max berdering.
"Huh.. ada apalagi sih?" dengus Max pelan lalu mengangkat gagang telepon.
"Ha-"
"Tuan, gawat!! Nyonya Mesye datang, sepertinya dia akan mengamuk pada Anda!" ucap Agam di seberang telepon.
Cepat-cepat Max menutup teleponnya, lalu menarik tangan Alice.
"Cepat sembunyi!!" Ucap Max panik. Gara-gara peringatan dari Agam, Max jadi ikut-ikutan panik dan Alice juga ikut-ikutan panik.
"Kenapa harus sembunyi Tuan?" tanya Alice.
"Sudah jangan banyak tanya! Cepat sembunyi!" ucap Max lalu memaksa Alice untuk bersembunyi dibawah kolong meja.
Tak lama..
Braak..
Pintu ruang kerja Max terbuka dengan kasar.
Dengan nafas yang memburu Mom Sye masuk ke ruang kerja Max.
"Dimana asisten perempuan mu itu!!" teriak Mom Sye.
"Um...."
Pyiiiiuuuutttt..
Tiba-tiba knalpot Max mengeluarkan suara yang sangat kecil, tapi bau-nya...
"UWEEEK..." Alice yang ada di kolong meja dan berjongkok tepat di depan si Jalu langsung keluar dari persembunyiannya.
💋 💋 💋
Bersambung...