Oh... My Sexy Girl

Oh... My Sexy Girl
Jalu Ku Sayang, Jalu Ku Malang



Setelah kata sepakat terucap kalau mereka akan pergi ke Las Vegas, Alice pun berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana kamu?" tanya Max.


"Mau melihat Mami ku dulu." jawab Alice.


"Lalu aku disini sama siapa?" tanya Max.


"Itu ada burung, kamu ajak saja burung-burung itu bicara." jawab Alice sambil menunjukkan burung-burung yang ada di dalam sangkar milik almarhum Papi Alex.


Setelah mengatakan itu Alice pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Max.


"Hish! Kalau itu aku setiap hari juga bicara dengan burung! Burung penyengat lagi! Ya kan Jalu!" gerutu Max pelan setelah Alice berlalu dari hadapannya.


Max pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dia ingin melihat pesan masuk yang ada di ponselnya.


Selain pesan masuk dari kolega bisnisnya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan Max, ada pesan masuk yang lebih membuat Max penasaran, yaitu pesan masuk di grup Trio GPU (Gosok, Pijat, Ucuk). Siapa lagi anggotanya kalau bukan para Om-om yang merasa kalau diri mereka masih muda padahal umur sudah diatas kepala tiga yaitu Max, Nico dan Ozcar.


Max pun membuka pesan yang ada di grup itu. Ternyata percakapan antara Nico dan Ozcar hanyalah seputaran tentang taruhan yang mereka lakukan.


[Ozcar] : Ingat Max waktu mu hanya tiga bulan. Kalau dalam tiga bulan kau tidak bisa mengirimkan video yang sedang bercinta dengan Alice maka kami yang menang!


[Nico] : Woah.. aku jadi tidak sabar menjadi salah satu pemegang saham di Vellf Group.


Itulah sepenggal isi percakapan di grup itu.


"Cih! Kita lihat saja nanti! Jangan panggil aku Max kalau tidak bisa meluluhkan hati si gadis pargoy itu! Mereka tidak tahu saja kalau aku sudah berguru pada si Embah Gulu-Gulu." dumel Max.


Karena tidak ada pesan yang penting lagi, Max pun meletakkan ponselnya diatas meja kemudian menyesap teh sambil melihat burung-burung almarhum Papi Alex yang sedang berkicau bersahut-sahutan.


"Tenang Jalu, sebentar lagi kamu juga akan berkicau sama seperti mereka." lirih Max, ia merasa kasihan dengan nasib peliharaan kesayangannya yang selama ini selalu rutin ia beri makan, tapi karena demi sebuah misi Max harus tega mendietkan Jalu. Karena Jalu sedang diet, otomatis Jalu pun menjadi lemas dan susah berkicau.


Merasa bosan sendirian dan tidak ada teman bicara, Max pun memutuskan untuk pergi dari halaman belakang itu. Niatnya ia ingin melihat kamar lama Alice.


"Mbak, Alice mana?" tanya Max saat berpapasan dengan salah satu pelayan.


"Nona Alice ada di lantai dua, Tuan." jawab pelayan itu.


"Ada di lantai dua juga Tuan." jawab pelayan.


"Oh, terimakasih." balas Max.


Max pun berlalu dari hadapan pelayan itu dan berjalan menuju tangga. Ia menapaki anak tangga dari bawah dengan semangat, namun tiba di pertengahan anak tangga, langkahnya melambat, bahkan sampai berhenti saat sampai di anak tangga keenam dari atas karena saat ini Max mendengar Alice sedang mengobrol dengan Mbak Dina dan Mbak Lisa dan topik obrolan mereka adalah tentang Max.


"Jadi Nona, Tuan Max itu perkasa?" tanya Mbak Lisa sambil cekikikan.


"Apanya yang perkasa sekarang? Badannya? Ya, kalau badan-nya boleh lah, Max sangat perkasa. Otot lengannya sangat kekar, belum lagi otot perutnya yang seperti roti sobek. Pokoknya Max sangat perkasa." jawab Alice.


Max yang menguping pembicaraan Alice dan kedua pelayannya itu tersipu malu mendengar Alice memuji tubuh-nya.


"Tapi itu badannya, tidak dengan senjata-nya. Kalian tahu senjata-nya seperti lemper. Sudah pendek kle•mer-kle•mer lagi!" lanjut Alice.


Mata Max menyalang, rahangnya juga mengeras mendengar penghinaan Alice.


Kurang ajar! Yang kau lihat itu si Jalu lagi mode bobok ganteng! Bukan lagi mode kuli bangunan!


Geram Max dalam hati.


"Huh.. kalian bayangkan saja, apa bisa kami melakukan hubungan suami istri kalau senjatanya seperti lemper? Jangankan untuk mendobrak pintu surga dunia, untuk buang air kecil saja sampai kena-kena di celana." kata Alice lagi.


Makin panas saja lah Max mendengar penghinaan Alice.


Pintar sekali gadis pargoy itu memfitnah ku! Awas kau gadis pargoy, akan ku buat kau tidak bisa jalan nanti!


Geram Max.


Max pun melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga, ia harus cepat keluar dari persembunyiannya agar Alice berhenti menjelek-jelekkan si Jalu.


💋 💋 💋


Bersambung...