
Kini Max sudah berada di depan pintu unit apartemen Nico.
Ting Tong Ting Tong
Bugh Bugh Bugh Bugh
Dengan tidak sabarannya Max menggedor dan membunyikan bel pintu.
Hampir sepuluh menit Max membunyikan bel dan menggedor pintu unit apartemen Nico. Karena sudah tidak sabaran, Max pun hendak meninggalkan depan kamar Nico dan naik lagi satu lantai untuk ke kamar Ozcar. Tapi baru saja Max melangkah satu langkah, pintu terbuka.
Sontak Max pun memutar tubuhnya kembali ke belakang.
"Lama banget sih buka pintunya!" Protes Max.
"Mau ngapain sih? Pagi-pagi buta begini bikin keributan di apartemen orang!" Balas Nico.
"Mata mu pagi-pagi buta! Ini sudah jam setengah sebelas siang! Kau bilang lagi pagi-pagi buta!" Balas Max.
"Minggir kau! Aku mau masuk!" Max mendorong tubuh Nico yang berdiri di depan pintu dengan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer Mickey Mouse. Belek khatulistiwa yang ada di mata dan aliran sungai Amazone yang sudah mengering di sekitaran pipi masih terlihat jelas di wajah Nico.
Max berjalan memasuki ruang tengah apartemen Nico dan diikuti seempunya apartemen dari belakang.
"Itu siang hanya buat mu Max, tapi bagi ku jam segini masih pagi-pagi buta." Jawab Nico dari belakang Max lalu membelokkan langkahnya ke arah dapur membiarkan Max untuk tetap ke ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah, Max mendapati dua pengaman bekas pakai yang berceceran di sofa berkulit biaya betina itu.
"Cih.. jorok!" Decih Max pelan. Ia pun mengurungkan niatnya duduk di sofa ruang tengah itu dan memilih untuk menyusul Nico ke dapur.
"Kau itu kenapa jorok sekali sih! Buang pengaman sembarangan!" Dumel Max.
"Terserah aku lah! Ini kan apartemen ku! Kalau aku buang pengaman sembarangan di apartemen mu, baru kau mengomel!" Balas Nico seraya menenggak air minum yang baru ia ambil setelah itu berkumur dengan air minum itu kemudian membuangnya ke wastafel. Setelah itu Nico pun mencuci muka-nya di wastafel dengan air keran.
Gara-gara pengaman yang berserak dimana-mana, Max pun jadi terkenang fitnah Alice tadi. Gara-gara fitnahnya tentang pengaman yang berserakan dimana-mana, Mommy-nya jadi memaksa-nya untuk menikah. Dengan Alice lagi!
"Kau kenapa? Muka mu kecut sekali?" Tanya Nico seraya duduk di kursi meja makan yang berhadapan dengan Max.
"Gadis pargoy itu membuat masalah." Jawab Max.
Sebelumnya Max sudah memberitahu Nico dan Ozcar tentang niatannya ingin menjadikan Alice sebagai asisten pribadinya.
"Dia memfitnah ku di depan Mommy ku!" Jawab Max.
"Bwahaaaahahahaha.." tawa Nico pecah seketika.
"Max.. Max.. Max.. kan sudah pernah ku bilang sama mu, hati-hati dengan si gadis pargoy itu. Gadis pargoy itu bisa jadi boomerang bagi mu. Aura-nya terlalu luar biasa. Tapi kau nekat mau mengerjai-nya. Dan sekarang lihat lah, belum juga kau bawa dia ke ranjang mu, kau sudah di lempar dia ke neraka. Bwahahahaha.." ucap Nico dan diakhiri dengan tawa yang terpingkal-pingkal.
PLUG..
Max melempar korek gas yang baru ia keluarkan dari dalam saku celana-nya bersama dengan sebungkus rokok ke wajah Nico.
"Bukannya membantu mencari solusi malah menertawai ku!" Dumel Max.
"Kan dari awal sudah ku bilang jangan, tapi kau yang tetap nekat, ya sudah nikmatilah permainan mu!" Jawab Nico.
"Cih.." decih Max sambil menyalakan sebatang rokoknya.
"Begini saja, kau lanjutkan saja permainan mu! Yang Mommy mu inginkan seorang cucu dari mu, ya sudah buatkan saja satu cucu untuknya setelah itu ceraikan si gadis pargoy. Bereskan!" Ucap Nico.
"Jadi maksud mu aku nikah kontrak begitu dengan si gadis pargoy?" Tanya Max.
"Bukan! Kalau nikah kontrak pasti Mommy mu bisa mendeteksinya. Nikah biasa saja, tapi nanti setelah dia melahirkan keturunan mu, baru kau buat ulah. Biasanya perempuan tidak suka dengan perselingkuhan. Kau berselingkuh lah dari dia, bawalah perempuan nakal yang ada di klub ke hadapannya, kalau perlu bercintalah di depan si gadis pargoy itu. Pasti nanti si gadis pargoy minta bercerai." Jawab Nico.
"Kalau gara-gara itu nanti Mommy ku jadi mencoret nama ku dari daftar ahli waris bagaimana?"
"Bukannya kau bilang kau tidak takut kalau Mommy mu mencoret mu dari daftar ahli waris?"
"Kemaren itu kan karena aku satu-satunya ahli waris jadi walau aku mengancam seperti itu aku yakin Mommy ku tidak akan mencoret ku dari daftar ahli waris. Tapi kalau nanti aku sudah punya anak, otomatis Mommy ku pasti tidak akan sungkan-sungkan mencoret ku dari daftar ahli waris. Dan akan memberikannya pada anak ku."
"Ya sebelum itu terjadi kau masukkan dulu lah sebagian dua puluh persen pendapatan Vellf Group ke kantong pribadi mu. Gitu aja kok repot!" Balas Nico.
Max mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya ide dari Nico masuk di otak Max.
💋 💋 💋
Bersambung...