
Bip.. Bip.. Bip.. Bip..
Bunyi alarm pengingat untuk memberi suntikan insulin pada Mami Lucy.
Maklum saja, sekarang yang bekerja di mansion hanya ada tiga pelayan dan tiga satpam. Dari sebelumnya yang bekerja di mansion ada sepuluh pelayan, tiga tukang kebun dan enam satpam.
Alice terpaksa harus memberhentikan beberapa pelayan, tukang kebun dan satpam demi meminimalisir pengeluaran. Karena sampai sekarang uang yang di pakai untuk mereka bertahan hidup dan membayar gaji staff mansion adalah uang hasil menjual perhiasan Mami Lucy. Dan sekarang mansion juga sedang tahap penjualan dan sedang menunggu pembeli.
Alice pun menyeka air matanya lalu keluar dari dalam kamar-nya dan turun ke lantai bawah.
Baru saja Alice sampai di lantai bawah, satpam mansion berlari kecil menghampiri Alice.
"Nona, didepan ada orang bank." Ucap satpam.
Alice pun berbelok menuju pintu keluar dan menghampiri orang bank yang menunggu di teras.
"Selamat siang Nona." Sapa salah satu orang bank dari tiga orang bank yang datang. Sepertinya dua orang bank itu adalah debkolektor.
"Selamat siang Pak." Jawab Alice.
"Bagaimana Nona, pembayaran hutang Tuan Alexandro sudah lewat satu minggu dari tanggal jatuh tempo." Ucap orang bank itu.
"Saya mohon Pak, berikan kami waktu lagi. Kami sedang menunggu pembeli mansion." Mohon Alice.
"Tidak bisa Nona, ini sudah lewat dari tanggal jatuh tempo. Kami sudah memberikan waktu satu minggu Nona." Tolak orang bank itu.
"Saya mohon Pak, berikan saya waktu lagi." Mohon Alice.
Karena riwayat pembayaran Papi Alex sebelum-sebelumnya baik, maka orang itu memberi kelonggaran waktu paling lama satu minggu lagi.
"Baik Nona, kami akan memberi waktu satu minggu lagi. Kalau dalam waktu satu minggu itu Anda tidak membayar, maka salah satu pabrik Tuan Alex akan kami lelang." Ucap orang bank itu.
Alice bisa apa kalau sudah begitu? Dia hanya bisa mengangguk menyanggupi keputusan orang bank itu.
Sebenarnya masih ada satu sertifikat pabrik lagi. Tapi Alice tidak ingin menggadai atau menjual pabrik itu karena Alice berjanji akan membuka pabrik itu lagi. Entah kapan itu.
💋 💋 💋
Tok.. tok.. tok.
Pintu ruang kerja Max terketuk.
"Masuk." Jawab Max tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Ia sedang serius membaca laporan keuangan dari anak perusahaan Vellf Group.
Ceklek.
Max melirik sesaat ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang lalu kembali melihat ke layar laptop. Ternyata yang masuk adalah asistennya. Agam.
Agam, adalah anak dari mantan asisten Daddy Mark, Daddy-nya Max.
Daddy Mark telah meninggal lima tahun yang lalu. Dan setelah Daddy Mark meninggal, sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga Vellfire, maka Max lah yang menggantikan posisi sang Daddy menjadi CEO.
Max memiliki satu orang kakak perempuan yang telah menikah dan sekarang tinggal di Swiss bersama suaminya yang bekerja di kedutaan besar.
Sebenarnya Max ingin memiliki asisten perempuan, tapi hal itu di tentang habis-habisan oleh Mom Sye. Alasannya apa? Ya apalagi kalau bukan Mom Sye takut asisten perempuan itu Max bawa naik ke ranjang.
Mom Sye memperbolehkan Max memiliki asisten atau sekretaris perempuan, asal diatas umur lima puluh tahun. Jelas saja Max lebih memilih memiliki asisten laki-laki ketimbang harus memiliki asisten yang sudah jompo.
Kembali ke Max.
"Ada apa Gam?" Tanya Max.
"Tuan, saya baru mendapat laporan dari yayasan kalau anak dari Tuan Alexandro Mercy ternyata kuliah di Vellf University." Ucap Agam.
"Lalu?" Tanya Max. Ia masih belum tertarik dengan berita Mercy Group. Maklum saja dia belum tahu kalau si gadis pargoy adalah putri tunggal Alexandro Mercy.
Saat pemakaman Tuan Alexandro, Mom Sye lah yang datang ke pemakaman. Karena Max harus kunjungan kerja ke anak perusahaan Vellf Group yang ada di Belanda.
Setelah pertemuannya dengan si gadis pargoy, Max disibukkan dengan segudang pekerjaan. Ia sampai lupa kalau dirinya harus membalas penghinaan yang sudah di lakukan si gadis pargoy.
💋 💋 💋
Bersambung...