
Setelah selesai sarapan, Mom Sye, Mar-Cornel dan Max-Alice pun pindah ke ruang tengah. Sedangkan Marco dan Maribet, mereka pergi bermain di halaman belakang mansion.
"Alice, Mom punya hadiah untuk mu." ucap Mom Sye.
"Hadiah apa, Mom?" tanya Alice.
Mom Sye pun mengambil sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan di belakangnya.
"Ini dia." ucap Mom Sye sambil memberikan sebuah kotak pada Alice.
"Apa ini Mom?"
"Bukalah."
Dengan raut wajah senang, Alice pun membuka kotak itu. Tapi tidak dengan Max, nampak wajahnya sangat malas melihat Mom Sye memberikan kotak itu pada Alice.
Mata Alice membulat lebar saat melihat isi kotak itu.
"Ini kan..."
"Iya Sayang, itu sertifikat kelima pabrik Papi mu. Dan Mom juga sudah menyuruh orang untuk membersihkan nama Papi mu dan menangkap Anthony. Jadi kita tunggu saja kabar dari orang suruhan Mom." ucap Mom Sye.
Lagi dan lagi Max memutar bola matanya malas.
Cih! Bangga sekali dia mengatakan itu, orang dia tidak melakukan apa-apa! Yang mengerjakan kan aku! Sudah uang ku yang habis di pakai untuk membayar detektif dan membersihkan nama Papi-nya Alice, eh.. malah dia yang mengaku-ngaku.
Dumel Max dalam hati.
Tiga hari sebelum pernikahan Max dengan Alice, Mom Sye memaksa Max untuk memberikan sertifikat pabrik Tuan Alexandro pada Mom Sye. Bukan hanya itu, bahkan Mom Sye memaksa Max untuk menyelidiki dan mencari Anthony.
Jelas saja itu membuat Max kesal, bagaimana tidak kesal, sudah Max yang harus sibuk bolak-balik berurusan dengan detektif, uang-nya juga yang di pakai untuk membayar detektif dan uang untuk menebus lima sertifikat dari bank pun juga harus ia relakan hangus karena Mom Sye sama sekali tidak mau mengganti uang pribadi Max itu.
Melihat kelima sertifikat, mata Alice pun berkaca-kaca. Alice pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung memeluk Mom Sye.
"Terimakasih Mom, terimakasih banyak." ucap Alice, tak terasa air mata menetes dari bola mata indah Alice.
Cih! Harusnya berterimakasih-nya pada ku, bukan pada nenek-nenek peyot itu!
Lagi dan lagi, Marlo menggerutu dalam hatinya.
"Mom, Alice izin ke mansion Mami yah, Alice ingin menunjukkan sertifikat ini pada Mami." izin Alice.
"Boleh Sayang. Bersiaplah, nanti biar Max yang mengantar." jawab Mom Sye.
Mata Max membulat.
"Kenapa Max, Mom?"
"Terus siapa yang mau mengantar? Kan kamu suaminya! Ya sudah pasti harus kamu yang mengantar, gimana sih! Sekalian kamu mengunjungi Mami mertua kamu!" balas Mom Sye.
"Tapi kan.." Max menggantung kata-katanya kala ia mengingat kalau dirinya sedang dalam misi mengambil hati Alice, jadi apapun yang Alice butuhkan, dia harus selalu siap sedia.
"Baiklah, baiklah, akan aku antar." ucap Max.
Max pun berdiri dari tempat duduknya lalu merangkul pundak Alice.
"Ayo Sayang kita temui Mami mertua ku." ucap Max.
Max pun membawa Alice keluar dari ruang tamu dan berjalan menuju lift. Sebelum keluar dari Vellf Mansion, mereka mengganti pakaian mereka terlebih dahulu.
💋 💋 💋
Kini Max dan Alice sudah dalam perjalanan menuju Mercy Mansion.
Di pertengahan jalan, Max singgah dulu di toko bunga, toko kue, toko buah dan terakhir di toko perhiasan. Bukan untuk membelikan Alice bunga, kue, buah ataupun perhiasan, melainkan untu membelikan Mami Lucy.
Ya, itu adalah salah satu cara Max untuk menggaet hati Alice. Jika dia bisa memberi perhatian pada Mami Lucy, Max yakin Alice akan lebih cepat luluh. Lalu tau darimana Max trik dan tips itu? Ya tau darimana lagi kalau bukan dari si Embah Gulu-Gulu.
Mercy Mansion.
Kini mobil sport hitam yang di kendarai Max itu sudah memasuki halaman Mercy Mansion.
Berkat kebaikan hati Mom Sye, semua staf yang dulu pernah bekerja di Mercy Mansion yang terpaksa harus di berhentikan karena Alice tidak mampu membayar upah mereka, kini sudah bekerja lagi di Mercy Mansion.
💋 💋 💋
Bersambung...