
Di kamar.
PLUG..
Begitu masuk ke dalam kamar, Max langsung disambut dengan lemparan bantal sofa oleh Alice.
"Aaakh.. kamu ini kenapa, tiba-tiba langsung melempar bantal begitu?!" protes Max.
"Itu balasan karena sudah bicara sembarangan dengan Mom!" jawab Alice.
"Dan ini balasan karena sudah mencium ku tadi di mobil, sampai membuat bibir ku lecet seperti ini!" lanjut Alice sambil berjalan mendekati Max yang masih berdiri di belakang pintu.
"Ho ho ho ho.. tenang dulu Alice ku Sayang. Ini semua bisa di bicarakan baik-baik." balas Max ketakutan, ia takut kalau sampai si Jalu kena jambak oleh Alice, apalagi sekarang Alice menatapnya dengan tatapan buas.
"Bicarakan baik-baik bagaimana! Sudah aku bilang jangan melecehkan ku lagi!" bentak Alice.
"Kita ini sudah suami-istri sekarang Alice, mana ada suami mencium istrinya di sebut pelecehan. Walau kamu melaporkan aku ke polisi pun, polisi hanya akan menertawai mu." balas Max.
Alice pun berhenti melangkah.
Benar juga. Kan sekarang Om mesum ini sudah menjadi suami ku!
Gumam Alice dalam hati.
"Tapi tidak dadakan seperti itu juga! Apalagi kamu mencium ku sampai membuat bibir ku lecet! Aku tidak suka!" balas Alice.
"Iya maaf. Habisnya tadi aku gemas sekali dengan bibir manis mu itu." jawab Max.
"Jadi, kalau aku minta baik-baik boleh dong?" tanya Max karena mendengar kata-kata Alice yang sebelumnya.
"Tidak!" jawab Alice ketus. Sebenarnya bukan ketus, Alice hanya malu saja mengatakan iya, jadi terpaksa Alice sok-sok menolak dan bersikap ketus.
"Cih! Kalau begitu jangan marah kalau aku mencium mu secara mendadak!" balas Max.
"Jangan mimpi! Cukup tadi aku kecolongan, tidak akan aku biarkan besok-besok kamu mencuri ciuman dari ku!" balas Alice.
"Kalau aku mencium mu waktu kamu tidur, kan kamu tidak tahu!" balas Max.
"Coba saja kalau berani!" ancam Alice.
"Kalau aku berani kamu mau apa?" Max balik mengintimidasi Alice.
"Kalau kamu ketahuan mencium ku saat aku tidur, maka aku tidak akan memberikan hak mu sebagai suami sampai pernikahan kita satu tahun!" ancam Alice.
Max tercengang mendengar jawaban Alice.
Woah.. itu lebih mengerikan daripada Jalu kena jambak.
Tapi tak lama wajahnya kembali berbinar saat menyadari kata-kata Alice. Itu berarti kalau dirinya menjadi suami alim, maka tanpa perlu trik atau rencana licik, maka Alice akan memberikan secara sukarela tubuh-nya untuk Max tanamkan saham.
"Itu berarti kalau aku tidak mencuri ciuman dari mu, aku-"
"Tidak juga sih! Aku belum siap!" cepat-cepat Alice memotong kata-kata Max.
"Cih!" decih Max sambil memutar bola matanya malas.
"Oh.. iya, apa kamu sudah bicara dengan Mom soal rencana kita ke Las Vegas?" tanya Alice dan di jawab Max dengan anggukkan kepala sambil dirinya berjalan melewati Alice menuju ruang tidur.
"Lalu Mom jawab apa?" tanya Alice sambil mengekori Max dari belakang.
Max duduk di single sofa yang ada disamping ranjang sambil menghela nafasnya dan sambil memasang raut wajah kecewa.
"Kenapa? Mom tidak memberi izin yah?" tanya Alice saat melihat wajah kecewa Max.
Max menganggukkan kepalanya sambil menunduk lemas. Melihat itu, Alice pun jadi ikut kecewa, padahal sejak tadi dirinya sudah berkhayal ingin mencabik-cabik Paman-nya itu jika dirinya nanti bertemu di Las Vegas. Tapi apa boleh buat jika Mom Sye tidak memberi izin, mau tidak mau dirinya harus mengubur khayalannya tadi.
Tapi tak lama...
"Tapi bo'ong... Hahahahahaha.." ucap Max sambil tertawa terbahak-bahak. Ia senang karena sudah berhasil mengerjai Alice.
"Haish!! Sudah tua bangka masih saja suka mengerjai anak kecil!" protes Alice.
"Habisnya wajah mu serius sekali, jadi aku hanya berusaha meregangkan otot-otot di wajah mu saja, agar tidak cepat tua!" balas Max.
"Jadi Mom memberi izin?" tanya Alice sekali lagi.
"Iya, dia memberi izin. Tapi dia melarang ku untuk membawa mu ke kasino." jawab Max.
"Kalau aku tidak ikut ke kasino, lalu bagaimana aku bisa memergoki Paman ku itu?!"
"Tenang saja, kan Mom tidak tahu. Jadi besok kalau Mom bertanya, kamu iya-iyakan saja. Kamu paham kan?"
Alice menganggukkan kepalanya.
"Lihat saja Paman, akan ku cabik-cabik dirimu!" geram Alice dengan sorot mata tajam penuh dendam.
Paman Anthony yang diancam, tapi Max yang ketakutan gara-gara membayangkan Alice mencabik-cabik Paman-nya. Padahal maksud Alice mencabik bukan kata yang sebenarnya.
💋 💋 💋
Bersambung...